April 24, 2008...1:50 am

Bulan Purnama

Jump to Comments

bulan purnamaJalan di kompek itu sunyi nan sepi. Sebuah rumah berlantai dua terlihat dari kejauhan. Tiba-tiba mematikan lampu di sebuah ruangan di lantai dua. Tampaknya si empunya rumah segera beranjak ke pulau kapuk. Malam itu bulan purnama bersinar. Ada gelembung awan pelan-pelan menutupi bulan yang terlihat berwarna putih itu. Berjalan beriringan. Tapi, pelan-pelan awan tadi berlalu begitu saja. Bulan purnama masih menyinari malam itu.

Malam itu, Saya dan Arka ngobrol-ngobrol dengan teman di rumahnya. Ternyata di rumahnya ia sudah menyiapkan pempek dan kawan-kawannya. Wah kebetulan saya sudah lama untouchable makan pempek. Sambil menyantap suguhan pempek yang nikmat nan maknyos, kami terus ngobrol. Sepiring penuh pempek segera ‘diserbu’. Cukanya yang hitam legam terasa sampai di hati. *loh kok? :D

Tak terasa malam semakin larut. Kira-kira jam sudah menunjukkan pukul 10 malam lewat 30 menit. Beberapa butir pempek masih tersisa di piring. Dengan inisitif tinggi, pempek tadi dimasukkan ke dalam plastik dan dibawa pulang. Tak lupa sebungkus kemplang besar juga diberikan buat kita. Belum pulang ke Palembang, tapi sudah serasa ada di Palembang. Makan pempek dan kemplang. Hehehe…

Sepeda motor hitam saya hidupkan agak jauh setelah keluar dari gerbang rumah teman. Supaya tidak mengganggu tetangga teman saya. “Breeeemmm…..!!”suara sepeda motor bebek saya langsung hidup ketika saya engkol.

*foto: Bulan Purnama masih menerangi malam itu saat pulang. terinspirasi dari tulisannya Pak Budi Rahardjo

10 Comments


Leave a Reply