Monthly Archives: April 2010

Tarif Parkir Sepeda Motor

“Lima ratus atau seribu?” tanya saya kepada tukang parkir yang berjaga di palang pintu saat saya hendak masuk kawasan rumah toko (ruko) dekat simpang Jl. Rajawali-Jl. Veteran.

“Seribu,”katanya singkat.

“Lah! ini tertulis lima ratus. Lima ratus ya!?”saya membujuknya.

“…”tukang parkir diam saja.

Continue reading

8 Comments

Filed under lalu lintas, transportasi

Firewall

SEORANG guru jurnalisme dan sekaligus senior saya dulu pernah bilang (begini kira-kira),”berita dan iklan dipisahkan oleh firewall.” Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, firewall itu tembok api atau pagar api.

Tak bisa dipungkiri rezim kebijakan kantor redaksi di sebuah surat kabar, di tempatnya bekerja kini, tidak bisa mewujudkan seperti apa yang pernah dia katakan seperti di atas. Berita dan iklan di surat kabar itu tidak memiliki (firewall) batas secara tegas yang memisahkannya. Mungkin pembaca surat kabar sudah paham hal itu.

Continue reading

4 Comments

Filed under koran, media massa, pelatihan

Tepuk Tangan Panggung Sandiwara

“Baik..baik pak ditahan dulu. Kita akan kembali setelah jedah iklan berikut ini,”kata seorang anchor cantik sebuah stasiun televisi berita itu.

Tepuk tangan penonton di sana menggema beberapa saat sebelum sempat berpindah ke tayangan iklan. Debat dan saling ‘memancing’ argumentasi sudah menjadi tontonan publik pada pagi dan malam. Hampir setiap hari.

Narasumber diundang agar berbicara ini dan itu. Bila perlu lawan bicara di studio atau di tempat lain, dibikin ‘panas’. Nah, tugas anchor sebagai ‘kompor’ agar suasana debat menjadi ‘panas’.

Continue reading

3 Comments

Filed under korupsi kolusi, media massa, opini, politik

Act of Violence

Walter Lippmann, seorang jurnalis di Amerika Serikat, dalam bukunya Public Opinion, mengatakan bahwa demokrasi pada dasarnya cacat. Orang kebanyakan tahu dunia secara tidak langsung, melalui “gambaran yang mereka buat di kepala mereka”. Mereka menerima gambaran mentah ini umumnya dari media. Problemnya, kata Lippmann, gambaran yang ada di benak orang ini sangat terdistorsi dan tak lengkap. Gambaran ini dirusak oleh kelemahan pers yang tak dapat diubah. Yang tak kalah buruk, kemampuan publik untuk memahami kebenaran—bahkan jika kebenaran itu datang—sering terkalahkan oleh bias, stereotipe, kelalaian dan ketidak pedulian manusia.

Barangkali yang dikatakan Lippmann relevan dengan yang terjadi kemarin hingga hari ini, masyarakat disuguhi tayangan/informasi oleh pers media elektronik (televisi,red) khususnya.

Continue reading

2 Comments

Filed under media massa, televisi

Bunga Anggrek

DUA bunga anggrek tumbuh di depan pekarangan rumah. Anggrek putih dan anggrek ungu. Kalau keduanya digabung, adakah makna putih dan ungu? Adakah bendera negara yang berwarna putih-ungu?

Minggu pagi kemarin (11/04), ketika melihat mekarnya dua bunga anggrek itu langsung saya abadikan di dalam kamera. Saya bolak-balik pot bunga anggrek yang digantung itu. Menatap penuh takjub. Jarang sekali berbunga anggrek akhir-akhir ini. Meskipun banyak yang tidak terawat daripada yang dirawat, beruntunglah masih ada dua bunga anggrek yang mau berkembang di musim hujan ini.

Continue reading

8 Comments

Filed under bunga

Sebuah Pengabdian Terakhir

Pengantar
Di dalam pembuka buku: “Teknokra: Jejak Langkah Pers Mahasiswa”, pers mahasiswa atau pers kampus mahasiswa di Indonesia pernah menapaki masa gemilang dan keemasan pada era pers terbelenggu tirani kekuasaan dan hegemoni pemerintahan yang terlalu kuat tanpa penyeimbang. Sehingga fungsi pers sebagai kontrol sosial mengalami masa nadirnya. Saat-saat ini, menjadi momentum bertumbuhan pers mahasiswa yang harum namanya dan dicari-cari karena keberhasilan isi tulisannya (Gofur dkk, 2010).

Menjadi bagian terkecil di dalam sebuah organisasi pers mahasiswa telah banyak memberi arti penting dalam perjalanan hidup saya kala itu. Tak hanya merasakan bertambahnya ilmu akademik karena kewajiban sebagai mahasiswa memang harus kuliah. Namun di samping itu, saya ‘kuliah’ hingga larut malam (bahkan sampai esok paginya lupa mandi dan gosok gigi, red) di pojok itu. Teman-teman menyebutnya Pojok PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa). ‘Serpihan’ kecil-kecil kehidupan yang ternyata mendidik karakter pribadi menjadi tangguh dan survive.

Sebuah cerita lama (hampir empat tahun lalu, red), ini ingin saya kisahkan di ruang blog. Ya ini sekelumit cerita (LPj,red) menutup pengabdian di organisasi ‘gila’ itu. Mengapa saya sebut organisasi ‘gila’? Di cerita berikutnya akan saya bagikan untuk Anda. Selamat membaca.

Continue reading

6 Comments

Filed under buku, mahasiswa, media massa

Cerita di Bawah Pohon

Ini bukan cerita di bawah pohon cemara seperti dengung lagu anak-anak naik-naik ke puncak gunung. Bukan itu. Bukan pula cerita luar biasa yang ‘menggemparkan’ dunia pemberitaan media cetak maupun elektronik di tanah air Indonesia. Ah, sebenarnya ini cuma sepotong cerita tidak menarik. Tapi tiba-tiba suara bisikan ‘memerintah’ saya agar menceritakannya.

Matahari sebentar lagi tepat berada di atas kepala. Kira-kira siang itu masih pukul 12 kurang. Sepeda motor berwarna biru tipe bebek diparkir tak jauh dari meja makan sebuah kedai makan. Meja panjang dan beberapa kursi plastik itu berada di luar dan dilindungi oleh pepohonan seakan menjadi atap peneduh buat para pengunjung yang makan di kedai itu.

Ada sekumpulan mahasiswa ngobrol sambil menikmati hidangan makan siang mereka. Kadang-kadang tertawa puas. Sampai-sampai kedua matanya terpejam sendiri. Ada lagi seorang mahasiswa baru tiba ditemani seorang mahasiswi, kemudian menempati tempat duduk sisi kanan. Mereka pesan makan ke penyaji, lalu larut dalam obrolan.

Continue reading

6 Comments

Filed under mahasiswa, makanan, teman, universitas