Perjuangan Pulang Dikepung Banjir

image

Hujan deras 2-3 jam di Palembang, Minggu (15-3), menyebabkan sejumlah daerah banjir & resepsi nikah terganggu. (Foto: Koran Sripo, Senin (16-3))

Hujan deras pagi hari Minggu kemarin (15-3), sejak pukul 9 sampai pukul 11 lebih, mengakibatkan banjir di sejumlah daerah di Palembang.

Saya dan istri saya pada waktu sebelum hujan turun, sedang berada di Pasar Satelit Sako Palembang. Memang pagi itu awan kelihatan mendung dan hanya rintik-rintik air hujan kecil.

Tiba di pasar, sekitar 15 menit hujan turun derasnya. Saya lagi di toko ikan hias. Sedangkan istri saya di dalam pasar membeli beberapa kebutuhan.


Menunggu saja di toko ikan hias ternyata bukan ide bagus. Saya khawatir istri saya mencari-cari saya. Bisa bingung istri saya nanti kalau saya tidak lagi menunggu di dekat motor yang diparkir.

Menunggu di atas motor pun juga bukan ide bagus. Apalagi di tengah guyuran hujan deras. Jadi saya menunggu berdiri di depan teras ruko, tidak jauh dari motor yang diparkir.

Cukup lama hujan deras pagi itu. Kalau menunggu sampai hujan usai, sampai berapa lama?  Kebetulan belum sarapan pagi, jadi istri saya mengajak pergi ke warung gado-gado, yang tidak jauh dari parkir motor. Sambil makan gado-gado, hujan masih mengguyur dengan derasnya. Kita berdua makan gado-gado sambil kedinginan di bawah tenda dan payung besar si tukang gado-gado.

Satu jam lebih belum ada tanda hujan berhenti, saya dan istri saya memberanikan diri pulang kehujanan. Keputusan segera pulang juga karena memikirkan anak-anak. Biar basah-basahan, yang penting sampai di rumah bisa ganti baju.

Dalam perjalanan pulang dengan motor, saya kedinginan. Air hujan yang membasahi jaket perlahan-lahan menembus kaos sampai dalaman (haha).

Sampai di depan Mini Market Permai (Jl.MP.Mangkunegara), saya melihat air luapan setinggi pinggang orang dewasa. Dalam pikiran saya bertanya, bagaimana bisa pulang ke rumah kalau jalan besar seperti ini banjir? Tidak mungkin melewati banjir setinggi itu, kalau bukan ingin mau merusak motor sendiri.

Akhirnya masuk ke lorong seberang Kenten Permai. Jalan lancar dan sedikit genangan masih wajar dilewati motor. Tiba di jalan yang sebelahnya ada gereja, terlihat banjir setinggi lutut orang dewasa. Masih pikir-pikir mau lewat jalan itu atau tidak. Saya minta pendapat istri saya, dan keputusannya memutar arah lagi.

Mencari jalan lain ke arah Sukatani terus ke arah Setunggal, ketemu banjir lagi. Aduh! Mau lewat mana lagi, pikir saya. Tanya-tanya warga di sekitar itu, dikasih arah jalan lain menuju arah pulang rumah kami.

Mudah-mudahan ini yang terakhir menyusuri jalan agar bisa pulang ke rumah tanpa menemui banjir lagi. Alhamdulillah rute jalan yang diberikan seorang warga tadi, tidak menemui kendala (banjir).

image

Banjir setinggi lutut orang dewasa pun sampai di dekat rumah. Terlihat rumah tetangga terkena banjir, Minggu (15-3). (Foto koleksi pribadi)

Tiba di dekat rumah, banjir setinggi lutut orang dewasa terhampar kira-kira sampai 100 meter, menghalangi tujuan ke rumah. Akhirnya motor kami titipkan di rumah tetangga yang tidak kena banjir.

Pulang ke rumah sambil menjinjing bawaan belanja dari pasar tadi, sambil mengarungi banjir dengan berjalan kaki. Alhamdulillah akhirnya sampai di rumah dengan selamat. Ini betul-betul perjuangan pulang yang tak akan terlupakan.

1 Comment

Filed under cuaca, kendaraan, koran, kota, lalu lintas, metropolitan

One response to “Perjuangan Pulang Dikepung Banjir

  1. nina

    Satu hari minggu yang sangat berkelimpahan (air dimana mana) hahaha. Judulnya sik kepasar tradisional, tapi perjuangan pulang kerumah seru juga ya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s