Monthly Archives: February 2008

Tugu Muli-Mekhanai

tugu muli mekhanai lampung

Pemandangan di pusat kota, terkadang memiliki daya tarik tersendiri akan keindahannya. Terlebih lagi jika kota tersebut bersih dan banyak pohon rindang di pinggir jalan raya. Seperti di Bandar Lampung, terutama jalan menuju Teluk Betung, saya perhatikan cukup banyak pepohonan yang masih terlihat hijau dan rimbun. Apalagi ketika memasuki lampu merah dekat Kantor Walikota Bandar Lampung, selain ada taman yang terlihat indah dan rapi itu, ada sebuah patung Muli-Mekhanai dengan khas pakaian adat Lampung. Muli itu berarti perempuan dan Mekhanai berarti laki-laki.

Ini salah satu patung Muli-Mekhanai yang kebetulan saya potret Kamis siang (28/2) kemarin ditemani Gigih dan Redha saat jalan-jalan bersepeda motor dan hunting laptop di sejumlah toko komputer. Tidak hanya patung itu saja dibangun, masih ada satu set patung (memangnya barang. hehe..) di persimpangan Jalan Kartini. Patung Muli-Mekhanai itu mengenakan pakaian adat Lampung Saibatin. Saya memotretnya sekitar bulan Juli 2006 yang lalu.
Saya kurang tahu persis tugu patung yang di dekat Kantor Walikota Bandar Lampung itu. Yang saya tahu hanya ada dua tugu patung itu saja yang dibangun pemda kota Bandar Lampung. Jika sempat nanti saya coba mencari tahu, jenis pakaian adat Lampung apa yang saya foto di atas itu. Atau mungkin Anda tahu jenis pakaian adat Lampung itu?

Advertisements

16 Comments

Filed under adat, lampung, traveling

Lampung Teknologi 2008: Pameran atau Jualan?

pameran komputer lampung teknologi

Kalau ada even pameran, seperti pameran komputer, mobil, teknologi, dan sebagainya, saya berusaha tidak akan ketinggalan mengunjungi sambil lihat-lihat dan ‘cuci mata’ (yang terakhir ngga penting banget. Hehe..). Sabtu malam kemarin, (16/2), saya dengan beberapa teman komunitas Blogger Lampung (Gigih, Redha, Sony dan Lukman) melihat-lihat Pameran Komputer Terbesar di Lampung (itu katanya tertulis di brosur begitu,red).

“Lampung Teknologi 2008” nama acara itu. Berlokasi di Gedung Ernawan Khua Jukhai, Pahoman, Bandar Lampung, cukup ramai pengunjung malam kemarin. Hampir semua produsen dan distributor menempati dua lantai gedung itu. Kebanyakan yang saya lihat saat itu, setiap distributor/penjual yang menempati masing-masing stand-nya menjual notebook/laptop.

Melihat zaman sekarang, tampaknya sudah menjadi tren menggunakan laptop yang memudahkan penggunanya berpindah-pindah. Bisa digunakan di kantor, di rumah atau sambil asik ngobrol dengan teman di coffee dan berinternetan (asal ada hotspot aja).

Continue reading

30 Comments

Filed under komputer, teknologi, teknologi informasi

Kopdar Wongkito yang Ketiga Makin Ramai

kopdar wongkito ketiga

Awan mendung tiba-tiba menampakkan sosok matahari dan memancarkan sinarnya yang cukup menyengat kulit, Sabtu siang kemarin. Tapi, setelah saya masuk di depan pintu Mall Palembang Square (PS), agak terasa lega. Udara yang cukup dingin dari AC mengeruap di dalam mall berlantai tiga itu menyejukkan sekujur tubuh saya.

Selama perjalanan mengendarai mobil Taft Daihatsu warna merah tahun 1970-an milik ayah saya, tidak pernah menggunakan AC sama sekali. Jadi, wajar saja terasa agak panas. Satu-satunya cuma mengandalkan angin sepoi-sepoi dari balik jendela mobil. Ditemani Triana setelah menjemputnya dulu di rumahnya dekat Komplek Pusri. Lalu, menjemput Kiki, teman sebaya Triana yang kebetulan sedang latihan teater di SMP Kartika, sekitar 100 meter dari Pasar Lemabang. Kami bertiga langsung menuju Restoran Solaria di mall PS.
Triana Haryani nama lengkapnya. Ia lulusan SMA Negeri 5 Palembang tahun 2006. Sekolah/almamater yang sama dengan saya juga. Tri, begitu biasa saya memanggilnya, tutur katanya sopan dan suaranya lembut. Nyaris tak terdengar. Meskipun masih muda, Ia kini sudah bekerja di sebuah lembaga pendidikan komputer cukup terkemuka di Palembang.

Sedangkan Kiki, adiknya Pandu yang juga teman satu angkatan saya waktu SMA dulu, kebetulan diajak Tri ikut bersama di acara kopi darat atau kopdar. Dalam istilah kopdar, dikatakan wikipedia Kampung Gajah, artinya bertemu langsung di darat, tidak lagi di udara atau via internet. Dulu istilah kopdar sering akrab digunakan para ‘breaker’ atau pengguna komunikasi handy talky (HT) dan juga radio amatir. Seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, maka istilah kopdar sepertinya lebih melekat pada komunitas blogger.

Ramai orang hilir-mudik. Padahal, mall itu cukup luas dan besar. Tetap saja kalau ramai, rasanya kalau jalan terasa kurang leluasa. Di beberapa gerai makan tampak ramai orang makan di sana ketika saya berada di lantai satu. Rencananya kita akan kopdar di lantai tiga. Tapi, kemudian saya menduga pasti akan lebih ramai lagi para pengunjung yang makan di sana.

kopdar juga

Sesampai di lantai tiga, tidak sulit menemui tempat acara kopdarnya. Tampak dari depan banyak orang tengah mengisi tempat duduknya masing-masing sambil menikmati santapan makanan yang dipesannya. Berjalan penuh pasti masuk ke dalam Restoran Solaria, akhirnya beberapa teman sudah duduk-duduk dan menunggu kedatangan kita di sana (kayak pejabat aja ya. Hehe..). Padahal, masih ada yang belum tiba tepat waktu yang dijanjikan pukul dua siang.Terlihat enam meja putih saling dirapatkan. Sebuah tulisan “Reserved” di atas meja itu. Warnanya ungu, sama seperti warna dinding di tempat itu. Barangkali warna khas Restoran Solaria yang cukup artistik menempati di mall ini. Saya duduk di sebelah Aulia dan Ibunk. Ada Ardy ketawa-ketiwi dengan para pendamping setianya, Rahmat, Petrus dan Mumud. Yang cukup mengagetkan saya mendengar celetukan Ardy menyebut Petrus dengan Mr P. (Haha…maaf buat Petrus, bukan maksud menertawakan Petrus, ini sekedar guyonan dan banyolan). Entahlah, guyonan macam-macam sudah ‘mengocok’ perut mereka.

Acara yang ditunggu sebelum diskusi dan bahas-bahas yang lain, memesan makanan dan minuman. Sebelum berangkat, dari rumah memang sudah sengaja meninggalkan perut kosong untuk makan di Solaria. Ini kedua kali saya makan di sana. Yang pertama ditraktir Aziz, teman saya yang baru menikah Sabtu kemarin dan mengajak teman-teman dekat lainnya sekitar tujuh orang.

Kebanyakan para pelayan di restoran itu adalah perempuan. Semuanya mengenakan seragam berwarna hitam dan ber-makeup seperti akan kondangan. Ya, terlihat seperti Sales Promotion Girl/SPG kosmetik dengan mata bercelak, bibir berlipstik, dan bedak tebal menutupi permukaan kulit wajahnya.

Yang mengherankan buat saya, jika telah memesan makanan dan minuman yang kita inginkan, sang pelayan akan menghitung total jumlah biaya yang kita pesan, kemudian meminta membayar langsung. Saya malah baru tahu makan di tempat ini harus membayar dulu, baru makanan dan minuman dibuat sang koki di dapur lalu segera dihidangkan. Agaknya, memang harus menunggu cukup lama pesanan yang kita inginkan jika saat itu sedang ramai pengunjung. Seperti waktu itu, pengunjung lumayan ramai dan kita cukup lama menanti satu per satu hidangan datang ke meja kita.

Ardy, sang ketua Wongkito, berinisitif memulai berbicara di depan teman-teman yang dihadiri sekitar 26 orang. Ini Kopdar terbanyak yang pernah diadakan. Satu per satu mendapat giliran memperkenalkan diri, meskipun ada beberapa blogger yang (mungkin) baru pertama kali ikut kopdar ini.

Karena banyaknya yang hadir, agaknya sulit sekali mendengar secara khusuk penjelasan dari Ardy, Mumud dengan ID card-nya, Jafis dengan rencana buat profile Wongkito, dan Wahyu dengan recana bersilahturahmi dengan Walikota Palembang untuk mengenalkan komunitas Blogger Palembang (Wongkito). Agak samar-samar mendengar mereka bicara satu per satu, karena ramai suara pengunjung lain yang ada di sana.

Tak banyak diskusi dan pembahasan ketika itu, tapi saya cukup senang bisa bertemu dengan teman-teman blogger yang kebanyakan berdomisili di Palembang. Ternyata, saya masih menjadi tamu paling jauh yang hadir di acara kopdar ketiga ini. Mudah-mudahan kopdar keempat mendatang bisa bertemu lagi ya. Mohon maaf teman-teman yang di seberang meja nun jauh di sana tak sempat berbincang dan berbagi cerita. Konferensi Meja “L” kita cukup ramai kan? Hehe..

21 Comments

Filed under blog, diskusi, kopdar, teman

Barakallahu

foto bersama

Terdengar suara gelak tawa dan ramai di rumah sahabat saya, Abdul Aziz, ketika saya baru datang pagi-pagi (Sabtu, 2/2). Sebuah keluarga besar. Ya, mungkin seluruh keluarga Aziz yang tinggal di Palembang maupun di luar Palembang datang hari itu. Maklum, siang itu ia akan melangsungkan akad nikah di rumah sang mempelai perempuan, yang juga sahabat saya.

Tanggal 2 bulan 2 jam 2 siang. Begitu rencana Aziz akad nikah. Entahlah, sebuah kebetulan memilih tanggal, bulan dan jam yang sama? Tapi, buat saya tidak ada hubungannya dengan hal-hal lainnya.

Bukannya di rumah saja, tapi ia malah mengajak saya jalan ke rumah temannya, di daerah Pasar Cinde. Ada peralatan yang hendak dipinjam di sana. Mungkin ia tidak betah di rumah sambil menunggu saatnya tiba, jadi ia pergi-pergi dengan saya.

Tak hanya berdua Saya dan Aziz, Gege pun kami ajak ikut jalan. Gege adalah teman dari Jakarta. Ia mahasiswi tingkat satu Universitas Negeri Jakarta (UNJ), sebuah universitas pencetak para calon guru. Tapi, Gege dari Jurusan Pendidikan Usia Dini. Apa jurusan ini juga akan jadi pengajar juga? Entahlah. Tanya Gege yang ‘ajaib’ dan ‘gila’ ini yang kadang-kadang bikin kocak. (Hehe…ampun Ge:P)

***
Siang mendekati pukul 2 siang, di depan rumah Aziz semakin ramai mobil. Kira-kira ada 7-8 mobil keluarga Aziz yang hendak ikut mengantar ke rumah mempelai perempuan. Saya bersama Dwi Ahmad dan M.Fadli, sahabat sejak SMA. Gege juga ikut dengan rombongan kami naik mobil ke sana.

Ketika sampai di rumah mempelai perempuan, Aziz terlihat tegang di depan meja kecil sambil dikelilingi keluarga yang mengantarnya. Maklum, ini nikah yang pertama kali. Hehe…

Sampai selesai akad, ia masih terlihat tegang. Tapi, untungnya ketika acara berfoto bersama dengan kami, ia tak tampak tegang lagi. Sambil duduk berdua dengan sang istri dan memamerkan kartu nikahnya.

Barakallahu ya sahabatku, Aziz dan Fitri. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Amin.

6 Comments

Filed under teman