Monthly Archives: July 2006

Kita Seperti di Dalam Lingkaran Setan

Musholah Fakultas Hukum Unila dekat dengan gedung C FISIP Unila. Jaraknya kurang dari 50 meter. Ketika waktu Dzuhur tiba sekitar pukul 12 siang, Selasa lalu (25/7), saya ingin salat di mushola anak-anak FH yang dindingnya tampak berwarna hijau dan masih terlihat baru itu. Tapi, agak telat saat saya tiba di sana. Tidak apalah, masih ada beberapa mahasiswa terlihat baru mulai salat, gumam saya.

Saya perhatikan dari samping kiri pintu musholah, beberapa mahasiswa duduk bersila. Ada yang membentuk kelompok. Mereka asik ngobrol. Sebagian lainnya lebih memilih sendiri untuk tilawah Al Quran. Suasana seperti ini pasti tidak asing lagi ketika semua para mahasiswa selesai salat berjamaah di mushola atau masjid kampus.

Ketika saya telah selesai salat, seseorang medekati saya. Wajahnya tak asing bagi saya. Ia mengarahkan tangan kanannya kepada saya, tanda ingin bersalaman. “Apa kabarnya lo?”tanya dia. “Baek,” jawab saya singkat. Ia ingat dengan saya, tapi saya benar-benar lupa namanya. Cukup lama kami berdua tidak pernah jumpa. Ia seangkatan dengan saya. Bedanya, teman saya yang kebetulan sama-sama berasal dari Palembang ini kuliah di FH. Meskipun kita berdua sama-sama mengerti bahasa Palembang, tapi lebih asik ngobrol dengan bahasa Indonesia. Kesannya nanti kalau menggunakan bahasa Palembang, terdengar orang lain jadi terlihat aneh. “Rooming dong kalo ngobrol,” kata teman saya suatu hari di Teknokra. Maksudnya, menyesuaikan dengan tempat ketika ngobrol dengan teman.

Kemudian, kita ngobrol banyak tentang masalah hukum, karena saya juga tertarik dengan soal hukum. Mulai dari lembaga bantuan hukum sampai teman saya ini cerita ingin sekali bisa diterima kerja di Lampung. Itu pun katanya jika bernasib baik. “Kayaknya, gw pilih kerja di Lampung dulu deh,”katanya kepada saya. Seketika, kita ngobrol santai hingga saya hampir lupa dengan agenda berikutnya di tempat lain. Ada seminar tentang pendidikan di Graha Gading, Teluk Betung.

Sambil membenarkan sepatu saya di luar mushola, kami masih saja asik ngobrol. Terkadang, saya lebih banyak bercerita. Mulai dari persoalan mengapa ketika kita masih mahasiswa bisa idealis, namun saat menjabat di pemerintahan atau punya jabatan, tidak lagi idealis. Bahkan, berbalik 180 derajat. Praktik KKN masih saja bertebaran. Belum lagi lingkungan peradilan pun juga tidak luput dari praktik KKN. “Kita ini seolah-olah sudah berada di dalam lingkaran setan,”kata saya berargumen. Saya berani bicara demikian, karena memang pada kenyataannya begitu kondisi negara Indonesia sekarang. Juga sejak zaman Orde Baru.

***

Tiba-tiba, ada guncangan. gempa bumi. Cukup kencang, tapi tidak lama. Beberapa ikhwan (sebutan akrab buat mahasiswa muslim,red) di mushola langsung berlari keluar. Saya dan teman saya masih duduk di serambi dekat pintu keluar mushola. Saya hanya nyengir lihat mereka yang lari terburu-buru keluar. Ini gempa cukup kuat yang hampir sama ketika terjadi pada malam dini hari, pikir saya. Tapi, kenapa selalu saja terlihat panik saat terjadi gempa. Padahal tidak lama terjadinya. Tidak mungkin seketika dalam waktu singkat, bangunan akan langsung roboh. Saya kira mereka belum sadar benar dengan gempa yang singkat, tidak akan sampai membuat bangunan retak dan roboh seketika. Sepertinya, gempa akhir-akhir ini yang terjadi harus buat saya terbiasa. Intinya jangan panik. Itu saja.

Setelah gempa singkat itu, saya cerita kepada teman saya ini. Di koran diceritakan tentang gempa yang terjadi di Jakarta. Seorang warga Jepang yang kebetulan tinggal di Indonesia terlihat heran melihat perilaku orang Jakarta ketika mereka berada di dalam kantor bergedung tinggi. Semua orang panik dan mereka berlari menuju tangga. Padahal, itu bukan tindakan penyelamatan yang tepat. Justru, hal tersebut lebih berbahaya saat berombongan keluar akan berpotensi terjepit atau terinjak-injak. Saya kira semua orang sekarang mulai merasakan kekhawatiran cukup tinggi dengan adanya gempa yang berturut-turut hampir terjadi di Indonesia dari barat ke timur. Mudah-mudahan kita selalu diberi perlindungan dan keselamatan dari Sang Pencipta. Wallahu ‘Alam.

1 Comment

Filed under Uncategorized

Bersyukurlah Masih Sehat

Anugerah yang paling patut kita syukuri sekarang ini adalah masih diberi kesehatan dan usia panjang. Saya kira inilah yang sering kita lupakan. Manusia kadang lupa dan jarang sekali mensyukuri nikmat yang ada sekarang. Bukan maksud menggurui, tapi saya merasakan dan seolah teringat tiba-tiba ketika misalnya menjenguk teman atau keluarga kita yang terbaring sakit di ruang perawatan rumah sakit.

Teman saya, Dede (foto:memegang helm), kemarin, Selasa siang (24/7), harus masuk rumah sakit. Ia sakit tipes. Ketika saya ditemani bersama Doni, Uchy dan Qq menjenguknya sekitar jam 7 malam, mukanya pucat sekali. Saya kasihan melihatnya terbaring lemah. Ketika bersalaman dengan saya, ia menggenggam kuat. Tapi, saya tahu ia mencoba menahan sakitnya. Sambil memegang perutnya, ia sering mengeluh terasa sakit. “Mual rasanya,”katanya kepada saya. Makan atau minum tidak bisa, kecuali saat minum obat harus dipenuhinya. Hanya infus saja yang mengalir sebagai pengganti makanannya.

Dede punya nama lengkap Dede Sopyandi. Ia asli kelahiran Rangkasbitung, Banten. Dede cakap bahasa Sunda. Saya pernah main ke rumahnya bersama teman-teman lainnya awal Januari 2005 lalu. Itu pertama kali buat saya dan mungkin beberapa teman-teman lainnya. Ia sering dipanggil ‘bastut’ oleh teman-temannya. Entah apa artinya. Saya pun tak mengerti. Tapi, ia dan teman-temannya tak pusing panggilannya berubah menjadi Dede ‘Bastut.’ Ia pernah aktif di Teknokra selama sekitar empat tahun. Periode tahun 2005 kemarin, ia sempat menjabat sebagai Pemimpin Usaha di Teknokra. Ketika itu, saya sebagai Koordinator Pemasaran. Sering kali kami berdua menangani masalah di bidang usaha. Ia termasuk orang yang aktif dan cekatan. Sekarang, ia sebagai staf ahli di Teknokra. Macam penasehat buat kami yang masih aktif menggerakkan roda organisasi ini.

Saya pikir, Dede memang beruntung sekali sekarang. Saat terbaring lemah di ranjang, ia dirawat Mada (foto:jilbab putih), temannya. Lebih tepatnya sang pacar. Selama Dede tidak bisa mengurus sendiri, dari mulai disuap makan bubur oleh Mada, sampe dibantu urusan perawatan di rumah sakit. Saya pun sempat menginap dan menemani Dede di ruang perawatannya. Untuk berjaga-jaga, siapa tahu ia butuh sesuatu.

Mada cerita kepada saya, hampir setiap tahunnya, pasti ada di antara kru Teknokra yang masuk rumah sakit. Entah itu karena terlalu lelah sering begadang, atau pernah kecelakaan di jalan. Saya merenungi dan mencoba mengingat-ingat kembali, memang tahun demi tahun pasti ada yang mengalami hal itu, masuk rumah sakit. Seperti siklus yang terus berajalan dan tak pernah berhenti, pikir saya. Tapi, saya berdo’a mudah-mudahan kru-kru kita selalu senantiasa dalam keadaan sehat selalu. Kata orang, entah siapa asal mulanya, sakit itu sebagian menggantikan untuk membersihkan dosa-dosanya. Ehm, apa benar itu? Wallahu ‘Alam. Cepatlah sembuh my fren!!

3 Comments

Filed under Uncategorized

Aksi di Pantai Mutun

Heny “Q-Noyz”, berjilbab putih, sedang menunjuk ke arah kamera dan terlihat tertawa lepas. Sedangkan, Mayna, paling depan, hanya tersenyum kecut. Saya dan Rieke, di atas batu, melihat mereka berdua bergaya bak fotogenic (pantai Mutun, 5 Juli 2006)


Kita foto bersama deh sebelum matahari terbenam. Ah,..Yudi tidak ikut diabadikan dalam foto bersama. (pantai Mutun, 5 Juli 2006)


Ciiiaaattt…!!! Tahaaaann!!! Hitungan mundur 10 detik hampir tiba. Tiba-tiba, klik!! Akhirnya terfoto juga kita, meskipun sedikit berantakan. (pantai Mutun, 5 Juli 2006)

3 Comments

Filed under Uncategorized

Tugu Patung Saibatin

Sebuah Tugu patung adat Pengantin Saibatin di persimpangan jalan Kartini. Bandarlampung. pekan lalu, Sabtu (15/7). baru diresmikan Walikota Bandarlampung Eddy Sutrisno. Saya memfoto tugu itu ketika pulang dari arah Teluk Betung dan akan kembali ke kampus Unila.

4 Comments

Filed under Uncategorized

Karya Foto Ikeda

Pameran “Dialogue With Nature“, Ikeda menuliskan keterangan buat foto di atas: Dari hampir semua foto yang dipamerkan, foto ini yang buat saya kagum. Tertulis dari keterangannya yakni: “Saya ingin tahu siapa yang membuat Kuda Putih berbaring di pasir pantai? (Hawai, USA, Juli 1985)”


Pak Peter Nurhan, Ketua Soka Gakkai Indonesia, yang membantu mensukseskan pameran foto keliling kota-kota di Indonesia, menyempatkan datang ke sekretariatan Teknokra Unila setelah acara pembukaan Pameran Foto “Dialague With Nature” di GSG Unila. (Kiri ke kanan): Pak Peter, Diova (kepala kesekretariat Teknokra), saya dan Mayna (mencoba keberuntungan rasanya menjadi MC acara pembukaan).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Pulang Kampung Kena Gempa


Pagi tadi, sekitar jam delapan, Rieke (foto: berjilbab hitam) menelpon saya. Ia tanya tentang kabar di sini, dan tentu saja perkembangan majalah yang masih sedang proses lay out di komputer redaksi. Sudah hampir dua minggu dia ada di Serang. Katanya, ia sedang rehat. Saya memakluminya. Mungkin cewek yang punya nama lengkap Rieke Pernama Sari ini, sangat kangen dengan keluarganya di sana.

Rieke cerita kepada saya, kejadian gempa yang getarannya sampai ke tempatnya, Serang Banten. Katanya, getaran gempa cukup kuat dan membuatnya panik. Saya mendengar ceritanya dari seberang telepon dan mencoba membayanginya dengan kepanikan warga di tayangan televisi. “Getarannya tuh katanya sekitar 6 skala Richter. Pokoknya lebih lama dari yang di Lampung. Di Lampung kena gempa, eh gw pulang kampung sama juga,”kata Rieke.

Setelah gempa disusul dengan Tsunami yang terjadi di selatan Jawa ketika hari senin kemarin, rabu kemarin (19/7), gempa dengan kekuatan 6,2 skala Richter terjadi lagi sekitar Pukul 17.57 dan bergetar selama 30 detik. Ini lebih lama dari yang sering saya alami di sini, Bandarlampung. Lokasi pusat gempa berada di Selat Sunda dan sempat menggetarkan kota Jakarta. Di Bandarlampung, saya baca di koran hari ini, warga di Teluk Betung panik. Daerah Teluk Betung memang terletak di daerah paling dekat dengan pantai. Wajar saja warga sangat panik melihat sebelumnya tsunami di selatan Jawa.

Saya punya kekhawatiran, pusat gempa mungkin akan terus mengarah ke Sumatera hingga Aceh. Itu hanya dugaan saya saja, karena melihat gejala akhir-akhir ini terjadi di selatan Jawa dan sampai ke Selat Sunda. Terdekat mungkin pesisir Lampung Barat. Karena tahun 1994, di daerah itu pernah terkena gempa sampai 6,5 skala Richter. Wajar saja warga sangat khawatir dan panik. Mudah-mudahan keadaan ini segera pulih.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Mengagumi Foto Deisaku Ikeda

Sebuah gedung persis di depan Perpustakaan Unila itu tampak megah. Kalau mahasiswa di sana menyebutnya dengan singkat dan hanya tiga huruf saja, GSG. Kepanjangan dari Gedung Serba Guna. Seperti kebanyakan gedung-gedung resmi milik universitas di seluruh Indonesia, biasanya digunakan hajatan wisuda, upacara penerimaan mahasiswa baru, dan dies natalis.

Pagi itu, ada acara besar di GSG. Saya sengaja tidak hadir pada saat itu. Kebetulan sekitar jam 9-an sedang ada perlu di fakultas. Urusan akademik yang baru saya sadari dan sedikit kesal dengan pegawainya karena saya terlambat menyerahkan berkas akademik. Syukurnya, itu tak jadi soal dan ia pun memakluminya. Tapi, saya pulang masih sedikit kesal. Sesekali saya berpikir, birokrasi ‘non sense.’

Acara di GSG itu adalah Pembukaan Pameran Fotografi Keindahan Alam, Karya Presiden Soka Gakkai Internasional, Daisu Ikeda (Dialague With Nature). Ada sekitar 66 karya foto koleksinya dipamerkan sejak 19-24 Juli 2006. Selain itu, dipamerkan pula 30 karya fotografer yang tergabung dalam Indonesian Photographer Organization (IPO), dan 20-an foto dari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Saya benar-benar kagum melihat karya foto-foto yang dipamerkan pada hari pertama. Hampir sebagian foto yang dipamerkan itu, saya abadikan ke dalam foto juga. Bahkan, saya tidak sungkan meminta teman saya, Doni dan Mayna, untuk memfoto saya dengan latar belakang foto-foto yang dipamerkan itu.

Doni dan Mayna memang ditugaskan sekretaris Pembantu Rektor IV Unila, untuk membantu acara pameran tersebut. Tidak hanya mereka berdua, ada UKM Bidang Seni dan UKM Fotografi ‘Zoom.’ Cukup banyak dibantu tenaga anak-anak mahasiswa yang punya stamina mantap untuk memperlancar acara pameran itu. Mayna ditunjuk sebagai master of ceremony (MC) pada saat pembukaannya. Ia berduet Desi, kru UKM Bidang Seni, menyambut para tamu pada hari pembukaan. Sayangnya lagi, saya tidak sempat melihat mereka berdua di atas panggung GSG.

Perlu diketahui, bahwa Dr Deisaku Ikeda, Presiden Soka Gakkai Internasional itu seorang fotografer amatir. Diceritakan, ia tidak pernah bertemu dengan kamera sampai ketika ia berusia 43 tahun. Lalu, sebuah kamera Nikkon dihadiahkan kepadanya dari temannya. Sejak itu, ketika ia sedang perjalanan menuju kota Hokkaido dengan mobil, Ikeda merasa sangat terpana dengan bayangan bilan yang terpantul di sebuah kolam sampai akhirnya ia menghentikan mobilnya, lalu mengambil 100 foto pantulan bulan itu. Sejak itulah, Ikeda selama dua tahun berikutnya Ikeda terus menerus mencari dan mengabadikan bulan, matahari terbenam, sampai keseluruhan alam menjadi objek kameranya.

Daisu Ikeda memiliki keunikan dalam mengabadikan setiap gambar. Ia tidak membidik foto dari lubang kamera, tapi memegang kameranya dan diletakkan di depan dada, kemudian mengambil foto menurutnya dengan hatinya. Dengan cara seperti itu, seolah ia yakin dilakukan dari hatinya. Hasil foto-fotonya yang merupakan rangkuman keindahan alam yang dilihatnya dalam perjalanan lebih dari 50 negara. Ikeda pun mempromosikan nilai-nilai pendidikan, perdamaian dan kebudayaan.

Saat Bandarlampung ditunjuk menjadi kota ke-9 dalam perjalanan pameran foto Dialague With Nature ini, Deisu Ikeda tidak bisa hadir. Saya tidak tahu pasti kenapa ia tidak bisa hadir. Perjalanan dimulai dari kota Semarang-Yogyakarta-Surabaya-Bandung-Jakarta-Bogor-
Tangerang-Bekasi-Bandarlampung-
Palembang-Pangkal Pinang-Jambi-Pekan Baru-Pematang Siantar-Medan dan Banda Aceh.
***
Sejak SMP, saya sangat tertarik dan menyukai dunia fotografi. Berbekal kamera SLR tahun 1970-an yang telah usang, tidak buat saya minder belajar banyak dari ayah saya. Sebuah kamera SLR merk Canon FTB dengan lensa standar 50 mm, saya pakai sebagai eksperimen foto. Kamera itu berat. Terkadang buat saya pegal untuk memegang erat-erat. Ternyata awal belajar menggunakan kamera seperti itu tidak gampang. Ada banyak pengaturannya, mulai dari diafragma, kecepatan/speed, sampai jenis-jenis lensa yang digunakan. Manual banget. Saya bingung saat itu. Tapi, saya tidak ingin menyerah dan harus tahu banyak soal kamera.

Perlahan-lahan hingga sampai menginjak kuliah di Unila dengan mengambil ilmu komunikasi. Di mata kuliah Fotografi, saya semakin paham dengan proses cara kerja kamera hingga sampai percetakan. Memang untuk zaman secanggih digital saat ini, bisa dibilang kamera dengan menggunakan film terkesan semakin ditinggalkan, karena kurang praktis. Tapi, buat saya tidak sepakat dengan pendapat itu. Saya masih menyenangi menggunakan kamera SLR dengan film. Yah, karena adanya kamera film. Kalau punya SLR digital malah lebih bagus, cuma sayangnya tidak punya. Hehe…

Apalagi dengan banyaknya perkumpulan fotografer di Indonesia macam Indonesian Photographer Organization (IPO), saya sangat kagum dengan karya foto-foto mereka. Ingin sekali bisa bergabung dengan mereka, hunting foto bersama sampai diskusi tentang foto. Tapi, buat saat ini belum punya kesempatan bergabung di sana. Lagi pula, satu hal yang bikin minder adalah kamera SLR masih sederhana. Sedangkan, mereka pasti tidak hanya mempunyai sebuah kamera SLR digital, tapi lengkap berbagai jenis lensa yang harganya sampai ratusan juta. Buat saya gigit jari saja mendengarnya. Suatu saat nanti, saya keliling dunia mengabadikan gambar dari kamera, kemudian menuliskan narasi dari perjalanan itu, lalu dibukukan dan dinikmati banyak orang, gumam saya. Semoga saja.

1 Comment

Filed under Uncategorized