Monthly Archives: August 2007

Jadilah Orang Besar yang Berpikir dan Berjiwa Besar

(Menpora Adhyaksa Dault melambaikan tangan kepada para mahasiswa baru Unila 2007 usai memberikan kuliah umum dengan tema “Daya Saing Bangsa Melalui Perguruan Tinggi”)

Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault,SH,Msi memberikan kuliah umum kepada mahasiswa baru Unila 2007, Kamis pagi kemarin (30/8) usai Rektor Unila memberikan sambutan pada Rapat Senat Luar Biasa Universitas Lampung menyambut mahasiswa baru Unila 2007, di Gedung Serba Guna Unila.

Adhyaksa yang mengenakan baju batik berwarna biru ini datang bersama rombongan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) DPD Lampung sekitar pukul 9.30 pagi dan disambut Rektor Unila Prof.Dr.Ir.Muhajir Utomo,M.Sc.

Saya baru kali ini bertemu dengannya. Ini juga kali pertama buat saya mendengar ia berbicara di depan mahasiswa baru Unila 2007. Ia sangat bersemangat menyampaikan kuliah umum ketika itu. Adhyaksa pun suka melontarkan canda di hadapan ribuan mahasiswa baru. Sesekali ia pun disambut riuh tepuk tangan para mahasiswa. Ia bercerita dengan sangat bangga memiliki kumis tebal seperti Andi Mallarangeng, Jurubicara Presiden Republik Indonesia. Rektor Unila pun bergurau,”Kumisnya mengalahkan Pak Thoha, Pembantu Rektor III (Bidang Kemahasiswaan) Unila.”

Menpora Adhyaksa pada kuliah umumnya mengatakan di era globalisasi seperti sekarang ini sangat cepat berubah. “Sebagai contoh industri. Orang semua sudah mulai berlomba-lomba berbagai industrialisasi. Olahraga pun juga sekarang sudah menjadi lahan di bidang industri,”kata Adhyaksa.

Dampak yang terjadi pada industrialisasi ini, lajut Adhyaksa, seperti terjadinya sikap individualistis. Orang ingin hidup untuk kepentingannnya sendiri. “Misalnya bagaimana ingin kuliah dan agar cepat selesai, kemudian cepat menjadi kaya dan menjadi pejabat, maka yang seperti ini kalian sebagai calon sarjana tidak akan pernah menjadi orang besar yang berpikir besar,”ujar Adhyaksa yang langsung disambut tepuk tangan para mahasiswa.

Jadilah menjadi orang besar yang berpikir besar. Siapa mereka itu? Mereka adalah orang yang mempunyai jiwa besar. Dia dihargai bukan karena jabatannya menteri, gubernur, atau bupati. Tapi itu karena melihat perilakunya yang baik dan bermanfaat bagi lingkungan keluarga, bangsa, dan negaranya.

Sehingga, Adhyaksa Dault menilai perlu dibangun semangat nasional kebangsaan Indonesia untuk mengikis sikap individualistis yang semakin mengkhawatirkan akhir-akhir ini.

Lebih lanjut, Menpora mengatakan pemerintah bersama DPR telah mengeluarkan UU No.3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. “Ini dilakukan untuk lebih memperhatikan masa depan para atlit olahraga nasional yang telah banyak mengukir prestasi di berbagai even pertandingan hingga tingkat internasional,”kata Adhyaksa.

Undang-Undang ini akan memberikan kepastian hukum bagi pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat dalam mewujudkan masyarakat dan bangsa yang gemar, aktif, sehat dan bugar serta berprestasi dalam olah raga.

Pada akhir acara, Rektor Unila memberikan kenang-kenangan atas kehadiran dan memberikan kuliah umum Menpora Adhyaksa Dault kepada mahasiswa baru Unila 2007 yang berakhir sekitar pukul 10.30 WIB.

12 Comments

Filed under Uncategorized

Mengapa Indonesia Tidak Menjadi Negara Maju?

Beberapa hari yang lalu, saya menerima email dari seorang teman milis sekolah saya. Isinya menarik dan membuat saya kagum sekaligus menyentuh. Sebuah pesan untuk refleksi bagi kita, terutama masyarakat Indonesia sebagai salah satu negara berkembang. Sebetulnya, judul di atas saya ubah dari judul aslinya yakni “Refleksi dan Tindakan”.

Setelah saya membaca semua pesan tersebut yang dimuat dalam file Ms Power Point itu, lalu saya pindahkan ke dalam bentuk tulisan seperti di bawah ini. Agar semua dapat membaca dan turut merefleksikannya.

Pesan asli yang dibuat itu ternyata sudah cukup lama. Tiga tahun lalu. Tapi, saya kira tema seperti ini masih menarik sebagai refleksi bagi kita. Jika sebelumnya ada yang telah membaca, saya kira menarik sekali diikuti kembali. Mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kita semua. Berikut ini pesan asli yang saya dapatkan itu:

(Pesan ini saya terjemahkan dari suatu tulisan berbahasa Inggris yang saya terima melalui email dari seorang kawan. Maaf bila salah/kurang tepat menerjemahkannya (Boedi Dayono, Januari 2004)

Perbedaan antara negara berkembang (miskin) dan negara maju (kaya) tidak tergantung pada umur negara itu.

Contohnya negara India dan Mesir, yang umurnya lebih dari 2000 tahun, tetapi mereka tetap terbelakang (miskin).

Di sisi lain-Singapura, Kanada, Australia, dan New Zeland-negara yang umurnya kurang dari 150 tahun dalam membangun, saat ini mereka adalah bagian dari negara maju di dunia, dan penduduknya tidak lagi miskin.

Ketersediaan sumber daya alam dari suatu negara juga tidak menjamin negara itu menjadi kaya atau miskin.

Jepang mempunyai area yang sangat terbatas. Daratannya, 80 persen berupa pegunungan dan tidak cukup untuk meningkatkan pertanian dan peternakan.

Tetapi, saat ini Jepang menjadi raksasa ekonomi nomor dua di dunia. Jepang laksana suatu negara “industri terapung” yang besar sekali, mengimpor bahan baku dari semua negara di dunia dan mengekspor barang jadinya.

Swiss tidak mempunyai perkebunan coklat tetapi sebagai negara pembuat coklat terbaik di dunika. Negara Swiss sangat kecil, hanya 11 persen daratannya yang bisa ditanami.

Swiss juga mengelola susu dengan kualitas terbaik. (Nestle adalah salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia). Swiss juga tidak mempunyai cukup reputasi dalam keamanan, integritas dan ketertiban-tetapi saat ini bank-bank di Swiss menjadi bank yang sangat disukai di dunia.

Para eksekutif dari negara maju yang berkomunikasi dengan temannya dari negara terbelakang akan sependapat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal kecerdasan.

Ras dan warna kulit juga bukan faktor penting. Para imigran yang dinyatakan pemalas di negara asalnya ternyata menjadi sumber daya yang sangat produktif di negara-negara maju/kaya di Eropa.

Lalu…apa perbedaannya?

Perbedaannya adalah pada sikap/perilaku masyarakatnya, yang telah dibentuk sepanjang tahun melalui kebudayaan dan pendidikan.

Berdasarkan analisis atas perilaku masyarakat di negara maju, ternyata bahwa mayoritas penduduknya sehari-hari mengikuti/mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan sebagai berikut.

  1. Etika, sebagai prinsip dasar dalam kehidupan sehari-hari
  2. Kejujuran dan integritas
  3. Bertanggungjawab
  4. Hormat pada aturan dan hukum masyarakat
  5. Hormat pada hak orang/warga lain
  6. Cinta pada pekerjaan
  7. Berusaha keras untuk menabung dan investasi
  8. Mau kerja keras
  9. Tepat waktu

Di negara terbelakang/miskin/berkembang, hanya sebagian kecil masyarakatnya mematuhi prinsip dasar kehidupan tersebut.

Kita bukan miskin (terbelakang) karena kurang sumber daya alam, atau karena alam yang kejam kepada kita. Kita terbelakang/lemah/miskin karena perilaku kita yang kurang/tidak baik.

Kita kekurangan kemauan untuk mematuhi dan mengajarkan prinsip dasar kehidupan yang akan memungkinkan masyarakat kita pantas membangun masyarakat, ekonomi dan negara.

Jika Anda tidak meneruskan pesan ini, tidak akan terjadi apa-apa pada diri Anda!! Hewan peliharaan Anda tidak akan mati, Anda tidak akan kehilangan pekerjaan, Anda tidak akan mendapatkan kesialan dalam 7 tahun, juga Anda tidak akan sakit.

Tetapi, jika Anda tidak meneruskan pesan ini, tidak akan terjadi perubahan apa-apa dalam negara kita. Negara kita akan tetap berlanjut dalam kemiskinan dan akan menjadi lebih miskin lagi.

Jika Anda mencintai negara kita, teruskan pesan ini kepada teman-teman Anda. Biarkan mereka merefleksikan hal ini. Kita harus mulai dari mana saja. Kita ingin berubah dan bertindak!!

Dan perubahan dimulai dari kita sendiri.

17 Comments

Filed under Uncategorized

Oleh-olehnya Mana Rik?

(Pempek, makanan khas Wong Palembang, mempunyai banyak macam bentuk dan namanya. Sayangnya, Saya tidak hafal betul nama-namanya. Dinikmati bersama-sama dengan keluarga atau teman, sungguh menyenangkan sekali. Foto di atas bukan saya yang memfoto. Foto itu koleksi dari Pak Nayel dari Palembang. Saya lupa memfoto ketika kami bersama-sama menikmati pempek di rumah May, Senin sore kemarin (20/8).

Begitulah teman-teman saya menanyakan keberadaan ‘buah tangan’ setelah saya kembali pulang dari Palembang, Senin pagi kemarin (20/8). “Rik, mana pempeknya?” kata teman saya beberapa hari yang lalu.

Pempek, makanan asli ‘wong kito galo’ (Orang Palembang, red), ternyata sangat disukai teman-teman saya di Lampung. Entah karena kita semua tinggal di Sumatera, jadi tidak asing lagi dengan makanan khas Palembang ini. Ternyata, teman-teman saya suka makan pempek Palembang. Apalagi menunggu hingga saya kembali ke Lampung.

Kalau saya ada rencana pulang ke Palembang, sudah pasti ‘ditodong’ temen-temen untuk membawakan oleh-oleh. Tentu saja Pempek. Tapi, senang juga membawakan mereka pempek asli racikan ‘Wong kito galo’. Tentu benda sekali saat mencicipi pempek yang dijual di kebanyakan warung-warung pempek di Lampung.

Senin pagi kemarin (20/8), setelah saya tiba di kostan, segera saya kirim sms ke May. “May, ajak temen-temen ya kita makan pempek tempatmu,”begitu kira-kira isi pesan singkat ke May, teman saya. Saya minta ke dia menjadi tuan rumah buat acara makan pempek bersama. Kemudian, tidak lama dia balas sms dan menyanggupinya.

Tak banyak waktu itu saya membawa pempek dari rumah. Ya, saya kira nanti cukup dimakan di dua tempat terpisah. Tetap yang paling utama saya hidangkan untuk teman-teman saya di rumah May, di daerah Way Kandis.

Aroma pempek itu tercium harum khasnya. Padahal belum saya buka plastik yang membungkusnya itu. Belum lagi aroma cukanya (semacam kuah yang berwarna hitam sebagai pelengkap untuk makan pempek, red) sedap terhirup oleh saya. Sepertinya cukup pedas terlihat dari cukanya yang cukup kental berwarna hitam itu tersimpan di dalam botol plastik.

Sekitar jam 4 sore, saya telah tiba di rumah May lebih awal. Teman-teman lainnya belum tiba. Tapi, mereka janji akan datang. Apalagi ini acara makan pempek gratis. Tentu saja tidak akan mereka sia-siakan kesempatan langka ini. Dede dan Yudi akhirnya tiba setelah menunggu beberapa lama. Untungnya, May sudah menggoreng lagi pempek yang saya berikan sebelumnya. Kami pun segera melahapnya satu per satu. Sungguh nikmat sekali. Mak nyuss….. (meminjam istilah Bondan Winarno)

11 Comments

Filed under Uncategorized

Rencana ke Palembang

(Jembatan Ampera: sebuah jembatan di kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia yang dibangun tahun 1960 sebagai bayaran Jepang kepada Indonesia atas penjajahannya dulu. Jembatan Ampera, yang telah menjadi semacam lambang kota, terletak di tengah-tengah kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Jembatan ini dibuat oleh Jepang. Dahulunya bagian tengah dari jembatan ini bisa dinaikkan dan diturunkan bila ada kapal yang akan lewat. Difoto oleh: Eriek, tahun 2006 lalu, Teks: Wikipedia)

Saya ada rencana ingin pulang ke Kota Palembang akhir pekan ini. Kangen sekali dengan orangtua, mbak, dan kakak saya di rumah. Kangen ingin merasakan kembali nikmatnya makan pempek asli racikan ‘wong kito’.

Kebetulan hari Jumat, tanggal 17 Agustus nanti libur nasional untuk memperingati Hari Proklamasi Republik Indonesia ke-62 tahun. Rasanya kesempatan untuk pulang ke rumah nanti mudah-mudahan bisa tercapai. Soalnya, terakhir saya pulang ke rumah saat merayakan Idul Adha beberapa waktu yang lalu. Waktu itu juga tidak berlama-lama. Seingat saya antara 2-3 hari saja.

Rieke, teman saya yang kini jurnalis di Majalah Inspired Kids, ingin sekali ikut ke Palembang. Bahkan, beberapa hari yang lalu kami chatting menentukan tanggal akan berangkat ke Palembang. Tapi, sayangnya ia belum yakin bisa ikut. Katanya, ia akan ke Bandarlampung bersama tantenya. Mungkin ia ingin liburan dengan teman-teman yang lain di Bandarlampung.

Rencana ke Palembang pun sebenarnya sudah lama sejak Desember tahun lalu. Teman satu angkatan saya lainnya, Yudi, May, Diova, dan Dede pun saya ajak untuk ke Palembang. Mereka ingin sekali main ke Palembang. Sekedar jalan-jalan mengelilingi kota Palembang itu menyenangkan.

Pulang ke Kota Palembang dari Bandarlampung, biasanya saya menggunakan fasilitas jasa Kereta Api (KA). Nama KA-nya Limex Sriwijaya. KA ini berangkat pada pukul 9 malam. Saya selalu memilih Kelas Bisnis untuk kembali pulang ke rumah. Harga satu tiket Kelas Bisnis ini Rp 55 ribu rupiah. Kalau tidak salah harga tiket kelas itu belum naik. Lama perjalanan cukup lama. kira 9 jam perjalanan. Berarti tiba di Stasiun KA Kertapati Palembang kira-kira pukul 6 pagi.

Hari ini rencananya saya akan pesan tiket untuk berangkat hari Kamis malam tanggal 15 Agustus nanti. Mudah-mudahan tiketnya masih terjual. Meskipun hari Kamis tanggal 16 Agustus belum libur, saya ingin lekas-lekas pulang lebih awal. Khawatir tiketnya telah habis terjual karena akhir pekan ini libur cukup lama (2-3 hari).

13 Comments

Filed under Uncategorized

Jakarta Memilih Gubernur Baru

(Saya suka suka sekali foto di atas. Unik. Secara belum akrab dengan Jakarta, ya lebih asik berfoto di depan pintu masuk gerbang komplek Monumen Nasional (Monas) di Jakarta Pusat. Mungkin salah satu kebanggaan warga kota Jakarta adalah Monas ini)

Hari ini, Rabu, 8 Agustus 2007, penduduk Jakarta akan memilih gubernur dan wakil gubernur baru. Sutiyoso atau lebih akrab dipanggil Bang Yos ini, akan segera menyerahkan ‘tahta’ kepemimpinan DKI Jakarta kepada gubernur baru nanti. Dua calon pasangan gubernur dan wakil gubernur Adang-Dani dan Foke-Prijanto mungkin sedang berdebar-debar hari ini. Mereka menantikan siapa yang layak dipilih oleh warga Ibukota Republik Indonesia untuk memimpin Jakarta ke depan.

Banyak janji dari kedua calon pasangan gubernur dan wakil gubernur itu telah diberikan selama kampanye kemarin. Namun, akankah benar janji-janji mereka setelah terpilih nanti membawa amanah warga kota Jakarta? Mungkin mereka sebagai warga negara Jakarta sudah paham, bagaimana track record para kandidat nomor satu di DKI Jakarta ini. Akan terbukti nanti setelah di antara kedua pasangan ini telah menjadi gubernur DKI Jakarta.

Melihat Jakarta dengan penuh sesak manusia dan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Tidak hanya kemewahan itu saja, ada pula di sepanjang kali berdiri tempat-tempat singgah para kaum miskin. Ada gubuk-gubuk kayu yang beratap seng. Ada pula mereka mandi dan mencuci di kali yang telah terlihat tidak bersih lagi. Saya pernah melihatnya sungguh memprihatinkan sekali.

Jakarta memang seperti sebuah tempat impian bagi banyak orang di luar ibukota RI ini. Jakarta yang memiliki daya tarik ini memiliki peredaran uang yang tinggi. Betapa tidak. Lebih dari tiga dekade pemerintahan Orde Baru, dua pertiga investasi asing yang masuk ke Indonesia ditanam di Jakarta (Mcbeth 2001:56).

Wajar saja jika banyak orang dari luar Jakarta berlomba-lomba mencari kerja di sana. Bahkan, momen tersebut terlihat saat menjelang setiap usai Lebaran Idul Fitri. Bisa dipastikan mungkin ada dari saudaranya yang telah berhasil di Jakarta lalu mengajak saudaranya yang lain di kampungnya. Tentu saja diajak bekerja seperti saudaranya yang telah berhasil tadi.

Di usia DKI Jakarta yang telah mencapai 469 tahun ini, dipastikan akan menjadi daya tarik yang sungguh luar biasa dari tahun ke tahun. Saat ini saja, diperkirakan ada sekitar 12 Juta warga Jakarta. Entah berapa banyak dari jumlah tersebut yang hanya bermukim di kota Jakarta. Selebihnya bermukim di pinggiran kota Jakarta dengan mata pencaharian di Jakarta.

Tidak salah mengapa Jakarta sangat maju jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Indonesia. Namun, tugas pemerintah pusat agar tidak hanya Jakarta menjadi tulang punggung perekonomian yang pesat di Indonesia. Pemerataan pertumbuhan perekonomian terutama di luar Pulau Jawa sudah seharusnya dilakukan. Jika tidak, Indonesia tidak akan pernah maju seperti negara tetangga, Malaysia, Thailand atau Singapura. Semoga Jakarta mempunyai gubernur yang amanah dan selalu berpihak kepada warganya.

9 Comments

Filed under Uncategorized

How Addicted to Blogging Are You?

“Wow…cukup tinggi ya!?” gumam saya setelah mencoba mengisi sebuah survei di situs ini. Hasil survei saya setelah menjawab 14 pertanyaan yang ditunjukan, nilai saya yakni 77 persen dalam kecanduan nge-blog. Sebelumnya, secara tidak sengaja saya menemukan survei ini dari blogger tetangga, Bodhi.

Kalau diingat-ingat dari sejarahnya, saya memulai aktivitas blogging pada tahun 2004 lalu. Kemudian, tahun 2005 saya sempat vakum dan berhenti nge-blog. Saya, ketika itu, tidak tertarik meneruskan blogging. Biasanya posting saya berisi kegiatan sehari-hari yang menarik untuk saya tulis ke dalam blog. Atau kadang-kadang ada isu yang menarik di media massa, kemudian saya tulis ke dalam blog.

Nah, kemudian pada tahun 2006 hingga sekarang ini, saya kembali memulai aktivitas blogging setelah hampir setahun tidak diisi. Untungnya, username dan password di Blogspot saya tidak lupa. Ya, jadi tinggal meneruskan saja mengisi dan sesekali membenahi template blog-nya agar sedikit lebih menarik.

Dari aktivitas blogging ini, saya jadi mempunyai ‘wadah’ untuk menulis secara bebas. Tentu saja saya menulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Meskipun demikian, kadang-kadang saya merasa masih kurang puas dengan tulisan yang saya buat itu. Mungkin terlihat serius seperti layaknya tulisan di media massa cetak atau online. Tapi, saya tetap konsisten menulis di blog saya ini dengan gaya seperti itu. Kadang-kadang juga ingin menulis dengan gaya orang bertutur/bercakap. Seperti kata “bagaimana” ditulis menjadi “gimana” dan seterusnya masih banyak lagi.

Untuk terus melatih tulisan agar lebih baik lagi, ada sebuah blog Juru-Kabar yang saya nilai bagus. Blog ini berusaha mengumpulkan para jurnalis yang memiliki blog. Kemudian posting-posting mereka dikumpulkan menjadi satu yang up date di blog Juru-Kabar. Menarik sekali. Saya pun ikut tergabung di dalamnya. Hampir setiap blog para jurnalis itu saya intip. Secara saya pelajari gaya tulisan mereka gunakan dalam menulis pada masing-masing blog-nya. Menulis sepertinya telah memberikan arti dalam kehidupan yang terus berjalan hingga saat ini.

13 Comments

Filed under Uncategorized

di Jakarta

(Kiri: Roni terlihat semangat memeluk Wildan setelah akad. Kanan: Saya bisa pakai baju batik.hehe)

Posting sebelumnya (Go to Jakarta) adalah cerita saat bersiap-siap akan berangkat ke Jakarta dan selama perjalanan malam hari. Ada Yudi, Roni, Reza dan Hendi, kami berlima konvoi dengan mengendarai tiga sepeda motor. Bisa disebut touring. Saya menikmati betul perjalanan ketika itu.

Meskipun malam hari yang diliputi udara yang cukup dingin dan angin malam yang sebetulnya kurang bagus, tetap saja kami nekad berangkat ke Jakarta malam itu. Saya pun tak bisa membayangkan touring dengan sepeda motor pada malam hari. Jika dibandingkan dengan mengendarai mobil, tentu saja masih cukup aman. Selain dari segi keselamatan dan juga kesehatan, karena menurut saya tidak terlalu capek.

Selama kira-kira dua jam di dalam kapal penyeberangan ferry, tiba saatnya kami mulai kembali perjalanan. Satu per satu kendaraan terlihat antri keluar dari ‘mulut’ kapal. Mulai dari truk, bus, mobil pribadi sampai sepeda motor, bergantian keluar. Jorok dan bau tercium cukup menyengat hidung. Di tempat parkir truk-truk besar di kapal itu, memang sudah biasa. Bahkan, hampir semua kapal begitu semua kondisinya.

Perjalanan pun dimulai setelah turun dari kapal. Pelabuhan saat turun dari kapal tadi bernama Pelabuhan Merak, Banten. Selama lebih kurang tiga jam, kami melakukan perjalanan malam itu. Udara cukup dingin. Tas ransel saya letakkan di depan dada saya. Gunanya agar angin tidak menembus ke dalam badan saya. Jika tidak, bisa-bisa saya masuk angin.

Rute perjalanan dari Merak ke Jakarta, masih cukup saya ketahui. Meskipun malam hari, alhamdulillah tidak kesasar hingga sampai tujuan. Karena sebelumnya, saya pernah ke Jakarta dengan mengendarai sepeda motor juga. Tapi, bedanya waktu itu saya berangkat sendiri dan banyak kesasar di Jakarta. Kasihan sekali ya.

Sepi. Dingin. Sedikit pegal-pegal. Tapi, perjalanan tetap harus diteruskan. Meskipun begitu, tetap saja kita menggeber sepeda motor selekasnya. Saya jadi penunjuk arah bagi teman-teman yang lainnya. Secara hapal jalan-jalan menuju Jakarta yang memusingkan itu.

Saat di sebuah jalan setelah meninggalkan Kota Serang, seketika sepeda motor yang saya kendarai mengenai lubang. Untung saja tidak sampai jatuh. Tapi, tiba-tiba terdengar suara seperti besi saling beradu setelah membentur lubang tadi. Seketika itulah saya segera berhenti dan memeriksa apa yang terjadi pada motor saya itu. Gear rantai belakang menyangkut penutupnya. Pikir saya tadi, rantai motor putus dan untung saja tidak seperti yang dibayangkan.

Akhirnya momen seperti ini dimanfaatkan Yudi dan yang lainnya buat istirahat sejenak. Reza menemani saya memperbaiki kerusakan pada penutup gear rantai motor di sebuah stasiun pengisian bahan bakar yang sudah tutup dan sepi. Hanya terdengar suara musik radio di tempat penjaganya. Beberapa menit akhirnya bisa juga diatasi kerusakan kecil ini.

Jam kira-kira menunjukkan pukul 2 dini hari. Gila bener, pikir saya. Kita harus secepatnya sampai di Jakarta. Sekalian istirahat kalau sudah sampai tujuan saja. Daripada istirahat sekarang, malah keburu siang untuk sampai ke Jakarta nanti.

Touring dilanjutkan kembali. Sebenarnya, tak ada yang tahu ke masjid, tempat resepsi nikahnya Wildan. Kita hanya diberitahu nama masjid dan jalannya saja. Ini Tantangan untuk menemukannya.

Akhirnya, setelah memasuki daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat, masjid yang dituju ditemukan juga. Suara azan subuh pun kemudian terdengar dari masjid itu. Sampai juga di Jakarta.

***

(Dari kiri-kanan: Hendi, Roni, saya, Aan dan Yudi (di belakang), Rieke, dan Kak Yamin. Tambah satu lagi sang fotorafer, Reza. Kami Jalan-jalan dan berfoto ria di seputaran Monas. Dari malam sampai pagi keliling Kota Jakarta. Sempat terdampar di sebuah air mancur di Komplek Senayan sampai pagi Subuh. Saya menikmati betul jalan-jalan saat itu. Kapan ya kita jalan-jalan seperti ini lagi?)

Siang hari, acara resepsi nikahnya Wildan dimulai. Cukup banyak alumni Teknokra yang tinggal di Jakarta, datang saat acara itu. Ada Kak Ucup atau lengkapnya Muhammad Ma’ruf (dulu pernah sebagai Pemimpin Redaksi tahun 2002 dan sekarang jurnalis Harian Umum Seputar Indonesia), Kak Yamin (mantan Pemimpin Redaksi tahun 2003 dan sekarang jurnalis di Harian Umum Jurnal Nasional), Mbak Eva (dulu pernah sebagai Pemimpin Usaha tahun 2004 dan sekarang bekerja di Pantau), Kak Turyanto (mantan Pemimpin Redaksi tahun 2004, sekarang jurnalis Harian Umum Jurnal Nasional), dan Dayu (mantan Redaktur Foto tahun 2005 dan sekarang bekerja di Pantau) dan Rieke (mantan Redaktur Pelaksana tahun 2006 dan sekarang jurnalis pada Majalah Inspire Kids).

Yudi pernah bilang,”Weeii….ada lima generasi pemred bertemu di sini semua.” Baru saya sadari, ada lima mantan pemred, mulai dari Kak Ucup, Kak Yamin, Kak Turyanto, Roni dan saya ada di sana. Mungkin momen ini secara tidak sengaja saja bisa saling bertemu. Kita semua berfoto-foto. Mengenang kebersamaan kita semua.

(Saat kembali pulang ke Bandarlampung dari Jakarta, Saya tidur-tiduran di atas sehelai koran dikelilingi mobil-mobil yang parkir di atas kapal ferry penyeberangan. Di luar sedang hujan deras. Untungnya banyak makanan dan kopi panas untuk sekedar penghangat. Perjalanan dari Cilegon ke Merak, sempat kehujanan dan baju kita basah semua. Dingin)

4 Comments

Filed under Uncategorized