Monthly Archives: July 2008

Budidaya Ikan Kerapu di Teluk Lampung

Ternyata tak hanya di Pulau Ayin saja berdiri bangunan/rumah yang terlihat layak dengan lengkap fasilitas di dalamnya bak cottage yang bisa buat disinggahi. Apalagi untuk menginap tentu saja menyenangkan karena pemandangan di sekitar pantai dan juga laut yang biru begitu ‘meneduhkan’ pandangan. Terasa sejuk dan damai.

Menyusuri ke beberapa pulau kecil lainnya, Saya melihat sebuah bangunan rumah kayu (bukan restoran,red) bercat coklat agak hitam. Saya merekam kesan bahwa bangunan rumah itu pastilah milik orang untuk kepentingan pribadi. Sama seperti di Pulau Ayin, dimiliki seorang Ayin saja. Bukan dikelola untuk wisata yang bisa mendatangkan wisatawan untuk berlibur di sana. Sayangnya tidak seperti yang diharapkan tadi. Ternyata pulau-pulau kecil dapat dengan mudah dimiliki orang, bukan negara yang memelihara pulau-pulau yang indah (bukan Indah ini, red). Hehe becanda kok Ndah 🙂

Continue reading

Advertisements

50 Comments

Filed under lampung, laut, pantai, traveling

Pulau Ayin

“Itu Pulau Ayin,”kata salah satu rombongan kami sambil menunjuk ke pulau yang dimaksudnya.

Arthalita Suryani atau lebih akrab disebut Ayin, seperti belakangan ini diberitakan di berbagai media cetak dan elektronik karena ‘tersandung’ kasus suap bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Saya baru tahu pulau itu dari bapak-bapak yang ikut dalam rombongan naik kapal motor. Saya juga baru tahu bahwa Ayin adalah seorang pengusaha asal Lampung. Namun, sayangnya nasibnya kini sedang menunggu vonis Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Jakarta.

Saya ikut dalam rombongan bapak-bapak dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pesawaran, Lampung. Jika saya tak salah hitung, ada sekitar 15 orang termasuk saya yang ikut dalam rombongan itu. Kebetulan saya diajak dosen saya, Endang L.Widiastuti,Ph.D, Sabtu-Minggu lalu (12-13/7) melihat ke beberapa pulau yang masuk di dalam Kabupaten Pesawaran. Ia adalah dosen FMIPA Biologi Unila. Saya biasa menyapanya Ibu Endang. Meskipun badannya besar, tapi ia lincah. Bahkan Bu Endang bisa menyelam (diving,red).

Continue reading

11 Comments

Filed under lampung, laut, pantai, traveling, wisata

Taman Hutan Rakyat Wan Abdul Rachman

Taman Hutan Rakyat atau Tahura Wan Abdul Rachman adalah salah satu Tahura yang ada dan dilindungi di Indonesia. Lokasi Tahura Wan Abdul Rachman memiliki topografi bergelombang ringan sampai berat dan sebagian datar, di dalam kawasan terdapat 4 (empat) buah gunung yaitu : G. Rantai (1.671 m dpl), G. Pesawar (661 m dpl), G. Betung (1.240 m dpl) dan G. Tangkit Ulu Padang Ratu (1.600 m dpl).

Senin lalu (7/7), saya bolak-balik dari Taman Kupu-kupu Gita Persada ke Tahura mengendarai mobil Pak Anshori. Waktu itu hendak mengambil banner yang biasa digunakan untuk even pameran di kota Bandarlampung. Ya, lumayan jauh jika jarak dari Tahura ke kota. Untung saya tidak sendiri. Arka dan Nita, temannya dari FMIPA Biologi, yang mengambil banner ke toko percetakan.

Saya mencoba dua jalur yang berbeda dari Tahura ke Taman Kupu-kupu. Jalur pertama melalui dalam kota dan jalur kedua melalui jalan menuju arah Taman Wisata Kedaton. Tapi rasanya jalur pertama terasa lebih cepat meskipun masuk dalam kota terlebih dahulu dengan kemacetan kendaraan bermotor. Sedangkan jalur kedua, sepanjang jalan berliku-liku dan sempit. Ya maklumlah jalan di gunung memang begitu. Apalagi naik-turun. Wah capek deh.

Continue reading

9 Comments

Filed under lampung, traveling, wisata

Mengunjungi Taman Kupu-kupu Gita Persada

Berbagai jenis kupu-kupu ada di dalam sebuah penangkaran yang menempati lahan seluas 4,8 Ha di kaki Gunung Betung, Desa Tanjung Manis, Kemiling, Bandar Lampung. Ketika saya datang ke sana, Senin lalu (7/7) bersama teman saya, Arka dan Redha, di depan pintu masuk terbuka, tapi terlihat sepi dan tak ada orang di sana. Setelah masuk ke dalam, saya hanya melihat sebuah motor yang diracik seperti motor cross, bersandar di sebelah pohon.

Sebuah rumah berdinding kayu terlihat masih kokoh. Dari dalam rumah itu baru muncul seseorang. Kang Aseb, biasa dipanggil seperti itu. Ia orang Sunda. Arka mengenalnya sebagai penjaga di sana. Mereka berdua tampak bercakap bahasa Sunda. Tak sepotong kata pun saya mengerti bahasa asal Jawa Barat ini.

Kami bertiga berangkat dengan sepeda motor dari kampus. Saya sendirian, Arka dan Redha berboncengan berdua. Sepanjang jalan di kaki Gunung Betung menuju lokasi ini, udara terasa sejuk meskipun saat itu cuaca sedang cerah. Maklum, ketinggian di lokasi itu 460 meter di atas permukaan laut. Jalan beraspalnya agak sempit dan berliku-liku. Maklum saja jalan di kebanyakan di daerah gunung pasti berliku-liku.

Continue reading

17 Comments

Filed under lampung, mahasiswa, teman, traveling, wisata

Persahabatan Blogger

Anda mungkin sering mendengar pepatah,”Tak Kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta.” Lalu, malah ada yang menambahi,”tak cinta maka tak..”(silahkan menambahi titik-titik itu.hehe). Seperti itulah proses bertahap di saat orang mulai saling kenal-mengenal.

Kehadiran banyak teman menjadikan sebuah warna tersendiri untuk bisa saling berbagi bersama-sama. Tidak hanya suka, tapi kehadiran teman bisa mengobati duka. Mereka bisa mengobati menjadi senyum, gembira kembali dalam keceriaan.

Teman yang punya kesamaan hobi macam ngeblog pun belakangan ini sudah banyak. ‘Wadah’ mereka masing-masing mengekspresikan di dalam blog-nya. Menulis. Diskusi di milis. Bercanda. Tukar-pendapat. Padahal, mereka tidak saling bertemu (tatap muka) satu dengan yang lainnya dalam sebuah pertemuan.

Tapi, ketika para blogger yang sering bertemu di dunia maya itu ada keinginan saling bertemu secara langsung (para blogger akrab menyebutnya “kopdar”), mereka pun menggagas bertemu di darat. Bahkan, ada saja blogger dari jauh sekali pun benar-benar niat ingin bertemu. Tentunya tak sekedar bertemu saja, tapi disertai ‘bumbu’ acara makan-makan. Sepertinya sudah lazim ada acara kopdar, pasti ada acara makan-makan.

Continue reading

15 Comments

Filed under blog, diskusi, kopdar, makanan, teman

Sayang Anak

anak kecil

Anak adalah buah hati sang ayah dan ibunya. Kehadirannya menambah kebahagiaan sebuah keluarga. Bahkan ada ungkapan, banyak anak, banyak rezeki. Betulkah? Silahkan Anda menilainya dari sudut pandang dan pengetahuan.

Suatu hari minggu bulan Juni kemarin, tak sengaja melihat seorang anak perempuan di dalam keranjang belanja. Rambutnya yang hitam-lurus diikat. Warna kulitnya putih. Entahlah usianya berapa tahun, saya lupa bertanya kepada anak itu. Keisengan saya tiba. Sebuah kamera digital saya ambil dari tas, lalu bidikan mengarah kepada anak itu. Blitz off. Saya menahan nafas sambil menekan tombol “shutter”, agar ibu, ayuk, kakak, bibik, ncing (entah siapa mereka ya, ibunya anak itu? *penasaran) tidak melihat saya saat memotret anak di dalam keranjang itu.

Yap. Dapat satu foto bagus sore itu, persis tidak jauh setelah pintu masuk utama Palembang Indah Mall (PIM). Kebetulan para nyonya itu sibuk menyaksikan acara Miss XL (eh,kabar teman Wongkito juara gak ya?). Haruskah anak itu ikut menonton apa yang ditonton para nyonya dewasa itu? Mungkin si anak di dalam benak hatinya berkata,”Apa itu? Itu apa?”

Continue reading

17 Comments

Filed under keluarga, teman