Monthly Archives: March 2010

Watak Manusia itu Bernama “Duit”

ADA benarnya ungkapan di atas dengan realitas kini. Ungkapan yang tercetus dari seorang dosen yang dikutip dari jurnalis di Bandar Lampung, ini seperti ingin ‘mengetuk’ kita. Ada watak baik dan buruk. Lalu, ada yang namanya watak ‘duit’.

Di dalam buku “Permainan Kekuasaan“, pakar Psikoanalisis, Sigmund Freud, menilai ada gabungan sifat binatang dan aspek rakus manusia yang disebut watak anal (anal character), yaitu suatu watak yang energi utamanya tertuju pada nafsu menimbun, baik menimbun uang, materi, kenikmatan, maupun menimbun sebanyak-banyaknya dan sekuat-kuatnya kekuasaan (Arge, 2008).

Ternyata begitulah kita. Kita manusia kan? Diberikan amanah pekerjaan, karier, jabatan, sampai gaji plus komisi yang menggiurkan ternyata disalahgunakan. Ya tidak semua begitu. Saya tidak mengeneralisasi semua manusia seperti kata Freud.

Continue reading

Advertisements

7 Comments

Filed under korupsi kolusi, media massa, opini

Keceriaan Saling Berbagi dan Diskusi Jurnalisme

Sebuah pesan pendek masuk ke telepon genggam saya pukul 13:27 WIB. “Scpetny y kk. Hri ni cuma dikit yg ngumpul, cm 8 org lho kk”. Pesan pendek itu dari Sari, penggiat ekstrakurikuler Majalah Dimensi. Seketika aku bergegas berangkat. Rencana pertemuan ini sudah disepakati minggu kedua Maret lalu di SMAN 5 Palembang.

Cuaca hari Kamis siang itu cukup panas. Tapi tampaknya tidak membuat beberapa siswa-siswi yang sedang latihan pengibaran bendara merah-putih, itu  tak peduli cuaca panas yang menyengat mereka. Satu siswi yang membawa bendera dan didampingi dua siswa masing-masing tugasnya pengibar bendera dan pengerek bendera.

Sebagian para siswa memang sudah pulang sejak pukul satu siang. Mereka yang masih berada di sekolah adalah para penggiat ekskul. Di ruang kelas yang bersebelahan dengan ruang unit kesehatan sekolah (UKS), ada enam anak ekskul Majalah Dimensi duduk di bangku bagian depan.

Continue reading

4 Comments

Filed under media massa, pelatihan

Media Dikuasai Pemilik Modal

PERUSAHAAN media massa di Indonesia tidak terlepas dari ‘cengkraman’ pemilik modal yang punya kepentingan di dalamnya. Di jaman kebebasan pers Indonesia seperti sekarang, pemilik modal melancarkan pengaruh dan kepentingan melalui perusahaan media yang dikelolanya.

Sama halnya dengan sebuah perusahaan yang didirikan pemilik modal dan bertujuan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya melalui perusahaan itu. Namun yang membedakan dengan perusahaan media massa adalah tanggung jawab moral dan sosial mereka terhadap masyarakat. Masyarakat sangat berharap terhadap pers yang dapat menumbuhkan demokrasi yang selaras dan tercapainya tujuan kebebasan berpendapat yang dilindungi undang-undang.

Pers sebagai pilar demokrasi keempat, tentu menjadi pengawal jalannya pemerintahan (eksekutif) agar bersih dan transparan. Sehingga jalannya pemerintahan yang telah diamanahkan oleh masyarakat tersebut, harus sepenuhnya dijalankan dengan asas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (Pancasila sila kelima, red). Hal ini menjadi tugas pers menjembatani masyarakat dengan pemerintah. Apakah pemerintah berjalan sesuai amanah atau sebaliknya? Jika pemerintah ada indikasi menyimpang atau tidak amanah, maka tanggung jawab pers untuk mengungkapnya ke publik.

Continue reading

6 Comments

Filed under koran, media massa, opini