Category Archives: televisi

Hati-Hati Banyak Makanan Mengandung Formalin dan Boraks

image

Murid SD diwawancara sebuah stasiun televisi mengenai banyak ditemukan makanan mengandung formalin berbahaya. (Foto dokumen 1/4/2015)

Bulan suci Ramadhan sebentar lagi akan kita tinggalkan. Selama bulan Ramadhan, banyak sekali kita temui makanan takjil untuk buka puasa.

Hampir di setiap sudut tempat dan tepi jalan ramai para pedagang takjil. Aneka ragam makanan takjil yang dijual membuat para konsumen tertarik membelinya.

Continue reading

Leave a comment

Filed under islam, kesehatan, sosial, televisi

Act of Violence

Walter Lippmann, seorang jurnalis di Amerika Serikat, dalam bukunya Public Opinion, mengatakan bahwa demokrasi pada dasarnya cacat. Orang kebanyakan tahu dunia secara tidak langsung, melalui “gambaran yang mereka buat di kepala mereka”. Mereka menerima gambaran mentah ini umumnya dari media. Problemnya, kata Lippmann, gambaran yang ada di benak orang ini sangat terdistorsi dan tak lengkap. Gambaran ini dirusak oleh kelemahan pers yang tak dapat diubah. Yang tak kalah buruk, kemampuan publik untuk memahami kebenaran—bahkan jika kebenaran itu datang—sering terkalahkan oleh bias, stereotipe, kelalaian dan ketidak pedulian manusia.

Barangkali yang dikatakan Lippmann relevan dengan yang terjadi kemarin hingga hari ini, masyarakat disuguhi tayangan/informasi oleh pers media elektronik (televisi,red) khususnya.

Continue reading

2 Comments

Filed under media massa, televisi

Kuasa Media Massa

JAUH sebelum mengenal internet sebagai salah satu media massa, kita mengandalkan media massa cetak, seperti koran, majalah dan tabloid sebagai media informasi yang mampu menjangkau publik secara luas. Dennis Mcquail (1996:53) membagi sejumlah peranan media massa sebagai berikut:

Pertama, jendela pengalaman yang meluaskan pandangan kita dan memungkinkan kita mampu memahami apa yang terjadi di sekitar kita, tanpa campur tangan pihak lain atau sikap memihak.

Kedua, juru bahasa yang menjelaskan dan memberi makna terhdap peristiwa atau hal lain yang terpisah dan kurang jelas. Continue reading

5 Comments

Filed under media massa, opini, teknologi informasi, televisi

Tentang Popularitas

privasiPopularitas berasal dari kosakata populer, berarti: dikenal dan disukai banyak orang; disukai dan dikagumi orang banyak (KBBI: 1988: 695). Popularitas menjadi sebuah hal yang dekat dengan kalangan artis dan politisi. Barangkali dua kalangan itulah yang sedang ‘naik daun’ di ruang publik belakangan ini.

Seperti halnya para artis lebih banyak menghiasi di layar kaca hampir di seluruh setiap stasiun televisi swasta. Melalui tayangan infotainment, wajah artis tampil di sana. Sudah lumrah buat kita semua, tayangan yang isinya kawin-cerai, pertikaian, pertengkaran, keretakan rumah tangga. Sudah jenuhkah masyarakat yang menjadi penonton?

Baiklah, media massa macam stasiun televisi yang menyiarkan tayangan infotainment yang isinya kebanyakan artis itu, merupakan agenda setting media. Media massa menentukan sendiri, mana yang menarik untuk disiarkan dan mana yang tidak. Saya ingat jargon yang sering menjadi perburuan para jurnalis untuk memiliki nilai berita (news value) tinggi adalah bad news is a good news. Anda sepakat?

Continue reading

11 Comments

Filed under dialog, diskusi, opini, televisi

Diundang Acara Bincang IT di LTV

bincang it

Minggu lalu, tepatnya Sabtu malam (19/1) lalu, saya dan teman blog saya, Gery, diundang hadir dalam acara di Lampung TV (LTV). Nama acaranya “Bincang IT” yang disiarkan secara langsung (live) dari studionya. Ketika itu kebetulan acaranya mengangkat tema tentang “Blog”. Mungkin karena saya dan Gery kebetulan blogger asal Lampung ini lumayan nge-blog di dunia maya. Makanya, Pak Budi, pengasuh acara “Bincang IT” di LTV tertarik mengundang kami.

Awalnya, saya kaget mendapat sms dari Gery, kalau blogger Lampung akan diundang pada acara yang disiarkan stasiun TV lokal Lampung ini. Saya jadi bertanya-tanya sendiri. “Kok bisa ya kita diundang?”pikir saya. Oh, saya baru ingat agregator yang kami buat untuk menghimpun seluruh blogger Lampung yang beralamat di: www.seruit.com, jadi perhatian bagi Pak Budi. Ia pernah mengirim pesan di komentar. Pak Budi yang baru saya kenal itu, ternyata seorang pengusaha penjualan komputer yang berkantor di bilangan simpang empat Tugu Gajah, Tanjung Karang, Bandar Lampung.

eriek di ltv

Sebelum siaran, saya dan Gery berpesan kepada Pak Budi agar jangan tanya yang susah-susah. Pak Budi hanya tersenyum. Kami pun tersenyum pula mendakan kami belumlah seperti blogger profesional macam Budi Putra yang punya banyak blog di mana-mana.Ketika masuk ke ruang studio LTV, seketika ruangan yang dingin itu terasa ‘menusuk’ tulang. Saya kedinginan. Bahkan, kaki saya gemetar sendiri. Saya pun mencoba untuk menenangkan diri. Tetap saja kaki saya, saat duduk di kursi di studio itu, kaki saya gemetar tak henti-hentinya. Saya berusaha tetap tenang dan nyaman. Tapi, ada teman yang bilang ke saya sempat melihat saya dari pesawat televisinya, kalau saya tampak tegang. Saya senyum-senyum saja dan bilang ke teman saya,”ya maklum, biasanya meliput sekarang diliput masuk tv pula. hehe..”kata saya.

Saya lupa berapa lama durasi acara Bincang IT yang membahas tentang Blog ini. Kalau tidak salah kira-kira antara 30-45 menit. Itu sudah termasuk bagian iklan saat acara. Di saat iklan itulah ada waktu rileks. Ya, sekedar merapikan baju atau ngobrol sedikit dengan Pak Budi dan Gery. Ketika iklan selesai, dimulai lagi dialog-dialog seputar Blog, manfaatnya, tujuannya, hingga sampai tips dan trik sehat untuk ngeblog.

Tak terasa acara sudah hampir selesai, walaupun seharusnya ada tanya jawab dari penelpon, tapi saluran telepon selalu saja terputus saat telah terhubung. Bahkan, ada penelpon dari luar kota (Lampung Tengah, red) menanyakan acara tersebut (LTV, red).

Mungkin inilah pengalaman ikut dialog siaran langsung di studio televisi LTV. Mungkin benar apa kata teman saya tadi, saya terlihat agak tegang dan kurang santai. Namanya juga baru pertama kali diwawancarai, kan biasanya saya tugasnya mewawancarai. Hehe…

ban motor

Pulang dari acara Bincang IT itu, nasib kurang baik menimpa kami berdua. Ban belakang sepeda motor saya bocor saat hendak pulang. Untung saja ada bengkel tampal ban masih ada yang buka. Maklum malam minggu biasanya masih ramai di pinggiran jalan. Ya, terpaksa harus mendorong si “Legenda Hitam” saya itu hingga ke tukang bengkel.Malam itu sambil menikmati suasana jalan yang ramai oleh pemuda-pemudi yang mengendarai sepeda motor hilir-mudik, Gery sibuk foto-foto. Memang blogger harus jadi narsis ya? Entahlah, sambil terus mendorong sepeda motor saya yang semakin lama makin melelahkan.

Oh ya, terima kasih buat Simon, teman blogger Lampung yang menyempatkan foto dan menonton dari pesawat televisinya ketika kami berdua berada di studio LTV. Saya juga minta izin mempublish lagi dua foto (narsis) melekat di blog saya. Hehe…

11 Comments

Filed under dialog, diskusi, televisi