Orangtua Harus Awasi Balita Baru Belajar Berjalan

image

Setiap orangtua pasti senang melihat buah hatinya sudah bisa berjalan. Ada yang sudah belajar berjalan sejak umur 8 bulan. Ada pula yang baru lancar berjalan umur 2 tahun. Setiap balita memiliki kemampuan yang berbeda-beda.

Mbak Naurah sudah bisa berjalan umur 14 bulan. Sejak bisa berjalan, mbak Naurah ngga bisa diam. Dia selalu jalan keliling dari satu tempat ke tempat lain di rumah maupun di teras rumah. Sebagai orangtua, tidak boleh lengah mengawasi anak yang baru berjalan ini.

Pernah suatu hari mbak Naurah berjalan (entah ke ruang mana). Sementara saya dan umminya ngga lagi mengawasinya. Tiba-tiba jerit suara tangisnya memecah keheningan di rumah pada waktu itu. Ternyata mbak Naurah terduduk di lantai. Mungkin mbak Naurah jatuh terpeleset.

Meskipun sudah diawasi, mbak Naurah kadang terjatuh sendiri. Yang sangat saya khawatirkan adalah kepala terjatuh duluan. Aduh! ini sudah beberapa kali terjadi. Walaupun sudah dipegangi, tetap saja ngga terhindar kepala membentur lantai. Maafkan abi ya nak, belum bisa selalu menjagamu.

Syukur Alhamdulillah pascajatuh, kepala mbak Naurah ngga apa-apa. Setiap kali kepala yang terbentur ke lantai (sesudahnya pasti menangis keras), saya periksa bagian belakang kepalanya. Takutnya ada benjolan atau sesuatu yang tidak kita inginkan.

Kalau sempat baca-baca artikel di internet tentang kepala terjatuh, saya ngeri. Efek atau dampaknya macam-macam. Pokoknya jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Selain suka jalan keliling-keliling, mbak Naurah suka naik dan duduk di kursi. Duh! Awalnya saya ngeri kelakuannya satu ini. Kursi setinggi dada mbak Naurah, bisa dia panjat. Tetap saja ini selalu dipantau dan bukan dilarang.

Kita tahu balita yang sudah mulai belajar berjalan, pasti orangtua banyak melarang anaknya ini dan itu. Contohnya ngga boleh pegang benda-benda/parabot rumah. Mungkin khawatir takut jatuh dan pecah terkena kaki anaknya. Terus masih banyak lagi larangan lainnya.

Bagaimana dampak sering melarang anak? Saya merasa anak tersebut nanti jadi kurang aktif. Dia bisa jadi khawatir selalu dibayang-bayangi larangan orangtuanya. Jadi melarang anak sebaiknya tidak selalu dilakukan. Mungkin kita biarkan anak melakukan apa yang diinginkan. Sementara kita jauhkan benda-benda yang membahayakan jika terjatuh atau bisa melukainya.

3 Comments

Filed under keluarga, naurah, rumah tangga

3 responses to “Orangtua Harus Awasi Balita Baru Belajar Berjalan

  1. Sama di saya juga mas Eriek😀 Sejak Wira belajar jalan, itu umur kaya didiskon lima tahun ya, hehe.

    Dan yang namanya ngglundung, nabrak, nyungsep… Itu bakal terus ada sampe anaknya udah bener-bener bisa jalan dengan lancar.

    Bahkan udah berjalan pun, masih ada ‘pe-er’ lagi kalo rumahnya dua lantai. Wira pernah jatuh sampe enam anak tangga. Ini jantung ayah-ibunya udah loncat kemana-mana.

    Mas Eriek pasti udah tau, tapi sekedar mengingatkan aja mas, kalo anak jatuh, bisa dicek beberapa hal🙂

    Pertama, kalo anaknya nangis, berarti dia Insya Allah masih baik-baik aja. Masih punya kesadaran dan kekuatan untuk menangis. Kalo mendadak pingsan, harus dibawa ke dokter.

    Kedua, perhatiin kalo anaknya muntah. Biasanya saya awasi 2-3 hari (48 jam). Kalo dalam 48 jam itu anak mendadak muntah ga ada sebab, bawa ke dokter.

    Ketiga, kalau sampai demam dan anaknya lemas. Kalau demam, mungkin terjadi karena trauma/shock/kaget. Tapi kalau jadi demam dan anaknya lemas (maunya tiduuuur terus dan ga main) bisa diperiksakan ke dokter.

    “Bagaimana dampak sering melarang anak? Saya merasa anak tersebut nanti jadi kurang aktif.”

    Saya punya dua pendekatan soal ini, mas. Kadang saya ga mau melarang anak biar dia tau. Misalnya, dia jatuh, saya ga akan serta merta nolong dia lalu malah ngomong “lantainya nakal!” Lah… Kan anak yang jatuh, kok nyalahin lantai? Jadi biasanya saya bilang, “lain kali hati-hati ya…” Pernah sekali Wira nyungsep ketika jongkok. Udah dibilangin, “hati-hati ya nak, nanti nyungsep.” Eh, anaknya malah melengos. Terus nyungsep muka duluan. Jadi lah dahi memar dan bagian atas mulut luka.

    Ibunya? Ngetawain. Tentu saja.

    Tapi saya akan melarang keras kalau dia sudah mulai nekat dan pecicilan. Misalnya, pegang-pegang tombol kompor atau buka-buka lemari sendok-garpu. Nanti makin si anak makin jago menggapai, itu lemari dapur bisa diobrak-abrik semua, hehe. Jadi saya langsung bilang, “TIDAK”, dan anaknya saya jauhkan dari lemari atau kompor. Kadang saya suka bilang, “lihat saja. Tidak dimainkan” sambil saya pegang tangannya. Ini nantinya untuk melatih anak ketika dia sudah besar untuk nggak usil/tangannya gerayangan dan bisa menahan diri.

    Terus sedikit tips, mas. Naurah pelan-pelan diajarkan arti kata “diam di tempat, nak.” Ini berguna ketika nanti Naurah udah bisa menggapai benda. Takutnya dia nyenggol piring atau gelas dan pecah. Ketika kaget, anak reflek bergerak mendekat orangtua. Kalo bergerak, takutnya malah kakinya luka nginjek pecahan beling. Jadi kalau Naurah ga sengaja pecahin gelas/piring, bisa dibilangin untuk diem di tempat sementara mas Eriek atau istri bisa beresin pecahan beling.

    “Maafkan abi ya nak, belum bisa selalu menjagamu.”

    Jangan minta maaf, mas Eriek🙂 Mas Eriek ga salah apa-apa lho. Mas Eriek dan istri sudah menjaga Naurah dengan baik sekali. Namanya jatuh atau sakit itu wajar, jadi saya rasa ga perlu meminta maaf. Malah Naurah bisa belajar. Semoga Naurah sehat terus ya mas😀

    P.S. Maaf jadi panjang, mas.

    • eriek

      Mbak Retno,

      wah!..saya surprise sekali jadi mendapat sharing yg banyak nih. memang tantangan berat bagi ortu ngejaga anak masih belajar jalan. kalau gak kuat ngikuti kemauannya kadang2 jadi lelah. eh dianya malah masih semangat 45. hehe..

      for all ur sharing, thanks very much ya. mudah2an ada para emak/mama/bunda yg mau berbagi cerita suka-duka menjaga anaknya yg masih balita dan baru mulai belajar berjalan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s