Melihat Kakak dari USG 4 Dimensi

ultrasonografi 4 dimensi

kakak (30w 5d)

Pekan ini usia kandungan ummi sudah 31 minggu. Hari Sabtu (8/9) lalu, saya mengantar sekaligus mendampingi ummi periksa kehamilannya ke dokter spesialis kandungan. Dari modal bertanya-tanya ke sejumlah teman ummi, kemudian kami berdua sepakat periksa di Klinik Eska. Lokasinya di Jalan Radial (sebelah show room Yamaha).

Awalnya saya tidak tahu klinik tersebut. Memang daerah jalan tersebut ramai berdiri ruko. Dengan mengendarai sepeda motor lawas, pelan-pelan mata sambil lirik ke kiri dan kanan ruko. Apalagi jalan yang selalu ramai, memang harus ekstra hati-hati sesekali melihat ke arah depan jalan. Atas  petunjuk yang diberikan temannya ummi, kami berdua akhirnya menemukan klinik tersebut.

Ketika sampai di depan klinik itu, saya membaca sebuah plang nama di atas pintu masuk. Tertulis nama dokter spesialis kandungannya adalah laki-laki. Saya bertanya-tanya dalam hati. Padahal kata ummi, dokter yang periksanya adalah perempuan. Di klinik itu, tak hanya dokter spesialis kandungan. Ada juga praktek dokter spesialis penyakit dalam.

Setelah masuk ke dalam, ada seorang perempuan berjilbab duduk dan sambil menulis sesuatu di mejanya. Tampaknya ia petugas menerima pendaftaran pasien. Sebut saja ia adalah suster. Saya baru tahu setelah mendengar pembicaraan suster di telepon yang menjelaskan bahwa dokter yang praktek perempuan hanya hari ini saja (Sabtu,red). Oh ya, berarti benar ternyata bukan hanya dokter laki-laki saja yang praktek di spesialis kandungan.

Karena baru pertama kali datang, jadi ummi dibuatkan kartu baru. Selesai ditanya identitas, yang selalu diukur adalah berat badan dan tekanan darah. Entah berapa berat badan ummi waktu itu. Memang kelihatan berat badannya bertambah, seiring bertambah besar kakak di dalam kandungan ummi.

Lama menunggu di ruang tunggu kira-kira satu jam. Kami datang sekitar pukul 10.30. Sementara jadwal praktek dokter mulai pukul 11. Duduk sambil membaca majalah sesekali melirik ke arah luar parkiran yang tembus dari balik pintu kaca hitam. Melihat jam di dinding sudah pukul 11. Belum tampak tanda-tanda orang masuk lewat pintu yang persis berada di depan kami berdua itu.

Akhirnya sekitar pukul 11 lewat 15 menit, sang dokter tiba. Namanya dr. Peby, SpOG. Dokter yang mengenakan jilbab ini datang bersama seorang anak kecil perempuan. Mungkin anaknya, pikir saya. Tak lama kemudian suster memanggil nama ummi dan mempersilahkan masuk ke ruang praktek. Saya juga ikut masuk mendampingi ummi ke dalam.

Di dalam ruang yang sejuk, ummi langsung dipersilahkan berbaring di meja periksa yang bersebelahan dengan alat Ultrasonografi atau USG 4 Dimensi. Saya baru melihat alat USG 4 D untuk pertama kalinya saat itu. Sebelumnya memang sudah biasa mengantar dan mendampingi ummi diperiksa USG 2 D. Hasilnya sering kami tunjukkan kepada orangtua kami. Dalam pikiran, bagaimana menjelaskan bahwa yang digambar hasil USG 2 D itu adalah anak kami yang bentuknya sulit dideskripsikan.

Sementara hasil USG 4 D menunjukkan wujud bayi secara lengkap fisiknya. Terkadang yang difokuskan dan difoto adalah kepala si bayi. Meskipun tidak berwarna sebagaimana foto berwarna, hasil USG 4 D yang didominasi berwarna kecoklatan itu telah membuat ummi senang dan senyum lebar. Tak hentinya ummi memandangi hasil USG 4 D itu dengan mata yang berbinar. Ia senang sekali akhirnya bisa melihat kakak yang masih di dalam kandungannya.

Kira-kira 20 menit dokter Peby memeriksa ummi. Tatapan tak lepas dari monitor dan tangannya sambil memutar-mutarkan alat USG 4 D di atas perut ummi. Dokter Peby mengatakan jenis kelamin kakak adalah perempuan. Padahal waktu diperiksa oleh bidan dengan alat USG 2 D sekitar 3 minggu lalu, jenis kelamin kakak adalah laki-laki. “Ada pentolnya,” kata bidan senior yang sudah berumur itu.

Tampak dari layar monitor USG 4 D, Subhanallah! saya terpesona ketika dokter Peby memperlihatkan (dengan bantuan alat USG 4 D itu)  kakak lagi menguap. Terbayang lucu sekali kakak seperti itu. Tapi, sayangnya pemeriksaan itu tidak menjadi bentuk rekaman video, dan hanya berupa gambar 4 dimensi.

Selain memeriksa secara fisik 4 dimensi, bisa juga alat USG 4 D mendengarkan suara denyut jantung kakak dan tampilan grafik jantungnya di monitor. Akhirnya sudah selesai pemeriksaan kandungan ummi. Pintu masuk dan pintu keluar ternyata berbeda. Pintu keluar menuju ke arah belakang dan membayar dengan suster. Kaget mendengar kata suster berapa yang harus kami bayar. Seperempat juta rupiah!

Selesai membayar dan melangkah menuju keluar klinik, saya menatap ummi yang kelihatan senang. Baru inilah kami berdua bisa melihat foto kakak pertama kalinya yang masih dalam kandungan ummi. Apalagi melihat langsung kakak lagi menguap saat diperiksa USG 4 D oleh dokter Peby.

Tinggal menjalani kira-kira 2 bulan lagi proses kehamilan ummi. Mudah-mudahan lahiran kakak berlangsung normal. Kakak dan ummi juga sehat. Semoga menjadi anak yang sholehah ya anakku! Aamiin.

3 Comments

Filed under kehamilan, keluarga, kesehatan

3 responses to “Melihat Kakak dari USG 4 Dimensi

  1. satria

    boleh tau alamat lengkap klinik eska nya gak?
    thanks….

    • eriek

      di Jalan Radial. kalau dari lampu merah simpang 5 terus ke arah simpang 4 PIM, lokasi kliniknya ada di sebelah kanan (sebelah showroom Yamaha).
      semoga infonya membantu🙂

  2. eva

    boleh tau no tlp klinik trsbt?…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s