Palembang memang Panas, tapi…

Dua ruas jalan di pertigaan Celentang (Jl.Residen H.Abd Rozak, Palembang) digenangi air setinggi betis orang dewasa. Air genangan tersebut akibat hujan deras selama hampir 3 jam mengguyur Palembang.

Akhir-akhir ini cuaca kota Palembang terasa cukup panas. Bayangkan! Siang hari pas matahari di atas kepala, terasa bener-bener panas menyengat kulit dan bikin keringat segede jagung bercucuran. Apalagi saya yang sering beraktivitas di luar rumah. Karena kebetulan pada siang hari itulah jadi terasa tahu rasanya cuaca panas yang sungguh sangat menyengat.

Mengendarai sepeda motor, jaket dan sarung tangan merupakan barang wajib pakai. Jika tidak, kebayang kulit bisa gosong lantaran sinar matahari yang menyengat kulit.

Ini saja sudah dilengkapi jaket dan sarung tangan, tapi di antara ujung jaket dan sarung tangan masih terbuka (kulit terlihat). Jadilah kelihatan belang  di pergelangan tangan, seperti mengenakan gelang hitam. Hehe.

Baiklah. Mari kita tetap bersyukur atas nikmat cuaca yang sedang panasnya akhir-akhir ini. Yang punya usaha dan sangat bergantung dengan sinar matahari, ini jadi berkah buat mereka. Apalagi buat ibu-ibu sehabis menyuci baju, jemuran jadi cepat kering. Hanya dijemur beberapa jam saja sudah matang. Eh, kering maksudnya. Hehe.

Nah! Tahukah Anda, beberapa pekan lalu Palembang diguyur hujan yang cukup lama. Kira-kira hampir 3 jam! Hujan dua jam saja sudah bikin was-was hati. Betapa tidak, saya waktu itu berada di rumah bersama ayah dan ibu, tampak sudah waspada air got/kali di depan rumah sudah naik ke permukaan dan pelan-pelan air naik hingga teras depan rumah. Tidak bisa berbuat banyak waktu itu. Bahkan ibu saya pun pasrah. Pokoknya apa pun barang (seperti karpet dan sajadah) yang berada di atas lantai, sudah diangkat ke tempat yang lebih tinggi.

Hingga malam tanda-tanda hujan yang mengguyur kota Palembang kala itu, susah ditebak berhentinya. Dikira hujan sudah selesai, eh beberapa menit kemudian hujan turun lagi. Subhanallah! hujan sulit dipastikan berapa lama. Semua sudah kehendakNya.

Saat itu malam saya lupa persisnya jam berapa hujan sudah usai, saya pulang ke rumah mertua. Ketika hendak keluar rumah, beberapa menit kemudian melewati jalan berar sudah harus berhadapan dengan kemacetan kendaraan bermotor yang sangat panjang. Kira-kira 4 kilometer macetnya! Untungnya mengendarai sepeda motor dan berhasil menyusuri tepi jalan yang becek bercampur tanah sisa guyuran air hujan berjam-jam itu.

Genangan air sudah tampak surut pada siang hari. Sebagian besar sepeda motor memilih jalan agak ke tengah ruas jalan. Tujuannya agar air tidak banyak mengenai mesin motor.

Setelah sampai di ujung kemacetan, ternyata ada genangan air yang luas di persimpangan tiga Celentang. Pantas saja bikin macet. Padahal sepanjang sejarahnya saya tinggal dan sering melalui jalan tersebut, hampir tidak pernah macet. Bukan macet seperti jalan-jalan protokol di Jakarta yang sudah menjadi pemandangan sehari-hari pada jam berangkat dan pulang kerja.

Dengan mengendarai sepeda motor jenis bebek yang hampir jadul itu, saya lewati genangan air yang luasnya kira-kira 100 meter persegi dan sudah menyerupai kolam luas itu. Setelah berhasil melalui genangan air hingga hampir ke ruas jalan yang kering, sepeda motor saya ‘terbatuk-batuk’. Ini akibatnya nekat tadi. Sambil berharap-harap cemas, semoga tidak terjadi sesuatu yang bikin rusak mesin sepeda motor saya.

Mesin sempat mati tiba-tiba ketika sepeda motor sudah melaju dengan lancar melewati genangan air. Beberapa kali mengengkol tuas starter motor, tapi tak kunjung hidup. Akhirnya harus mengeluarkan ‘senjata’ di balik jok. Saya buka busi dan bersihkan seluruh permukaannya dari air yang terlihat agak membasahi busi. Tak beberapa lama setelah itu memasang busi kembali dan mencoba mengengkol kembali starter motor beberapa kali, akhirnya bisa hidup. Meskipun demikian suara motor seperti ‘keselek’ dan tiba-tiba mati sendiri.

Perjuangan tidak berhenti begitu saja. Saya kembali membuka busi dan membersihkan berkali-kali sampai yakin bahwa kepala businya kering dari air. Untuk kesekian kalinya engkol tuas starter motor, akhirnya bisa lancar dan tiba di rumah dengan selamat.
Alhamdulillah.

1 Comment

Filed under jalan, kendaraan, kota, lalu lintas, transportasi

One response to “Palembang memang Panas, tapi…

  1. EL DIABLO

    Pakai 9 power pada busi dan gunakan pula oli motul ester 5100 dijamin biar banjir tetap lancar jaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s