Jangan Dekati Truk!

Akhir-akhir ini, semakin banyak truk melewati sejumlah ruas jalan raya kota Palembang, Sumatera Selatan. Dari mulai truk pengangkut batubara sampai truk tronton panjang pengangkut peti kemas. Kendaraan bermotor pribadi: mobil dan motor saja sudah banyak, apalagi ditambah hadirnya truk-truk besar dan bermuatan hampir mencapai 40 ton, semakin ramai dan memadati sejumlah ruas jalan kota.

Di satu sisi kehadiran truk-truk tersebut, menunjukkan dinamika perkembangan perekonomian ibukota Sumatera Selatan cukup pesat belakangan ini. Sebagai contoh aset tambang batubara yang diangkut truk-truk besar, itu diangkut dari kabupaten Tanjung Enim, Empat Lawang, dan kabupaten lainnya. Dengan menggunakan sarana jalan, truk-truk yang mengangkut batubara puluhan ton tersebut ke Pelabuhan Tanjung Api-Api. Untuk menuju pelabuhan baru itu, truk-truk harus melalui ruas-ruas jalan kota Palembang.

Meskipun ruas jalan yang dilalui truk-truk besar itu tidak diperbolehkan masuk ke dalam tengah kota, tapi kehadirannya melalui ruas-ruas jalan (lingkar luar) kota, dirasakan membuat percepatan kerusakan infrastruktur jalan. Mengapa demikian? Tanah yang dibangun untuk konstruksi jalan raya di kota yang berusia 1328 tahun ini, asalnya sebagian besar adalah rawa. Wajar banyak kita jumpai ruas jalan, mulai retak, melengkung membentuk cekungan, aspal pecah dan sebagainya. Apalagi jika turun hujan dan memasuki musim hujan, tentu menambah parah infrastruktur jalan.

Waspada Truk!
Jika Anda mengetik: truk tronton, pada situs pencarian Google, maka akan banyak muncul berita kecelakaan truk panjang ini. Ketika hampir 10 menit keluar rumah, saya pernah lihat truk tronton yang mengangkut peti kemas, tiba-tiba beberapa mur roda belakang satu per satu lepas. Satu buah roda belakang (sisi luar sebelah kiri) hampir lepas. Saya yang saat itu mengendarai sepeda motor melihat jelas proses lepasnya mur satu per satu dari rodanya. Tapi, hampir saja roda itu lepas dari sumbu rodanya. Dari lajur sebelah kiri jalan, orang-orang (pengendara sepeda motor dan mobil pribadi) memperingati dengan memberi isyarat klakson mobil. Untunglah kenek (asisten sopir) apa yang terjadi pada roda truk trontonnya.

Tak jarang pula, sepeda motor menjadi korban dari ‘penindasan’ truk tronton. Entah salah pengendara sepeda motor atau sopir truk. Truk boleh jadi seperti lokomotif yang tidak secepat sepeda motor atau mobil pada saat melakukan pengereman mendadak. Di berita tayangan televisi, sering terjadi pengendara sepeda motor yang terjepit dan terlindas truk, saat pengendara sepeda motor menyalip kendaraan bermotor lain. Akibat keberanian yang ekstra itu, justru mencelakai dirinya dan kebanyakan meninggal dengan kondisi yang mengenaskan.

Jadi, jika Anda (lebih utama) pengendaraan sepeda motor lebih baik selalu waspada berada di dekat truk. Sopir truk belum tentu memperhatikan semua sisi truk, jika sewaktu-waktu membelok dan ternyata ada sepeda motor di sampingnya. Bisa-bisa terjepit pengendara sepeda motor itu dan parahnya jika tergilas roda truk. Na’udzubillah!

1 Comment

Filed under jalan, kendaraan, kota, lalu lintas, metropolitan, sosial

One response to “Jangan Dekati Truk!

  1. Iya, seram juga…😐

    Sebagai pengendara motor, saya harus lebih waspada lagi di manapun dan kapanpun.😐

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s