Mengapa Perlu Pembatasan BBM Bersubsidi?

Pertanyaan di atas menjadi pemikiran saya sebagai orang awam ketika pemerintah mewacanakan akan melakukan pembatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi beberapa waktu lalu. Di sejumlah tanyangan stasiun televisi memuat iklan yang mengajak masyarakat agar menggunakan BBM nonsubsidi (dalam hal ini adalah BBM jenis Pertamax, red). Lalu, apa hubungan pembatasan BBM bersubsidi dengan iklan di televisi yang dibuat oleh Pertamina itu?

Saya berpikir bahwa pemerintah akan melakukan hal yang sama seperti pada era SBY-JK lalu, dengan menarik pasokan minyak tanah (bersubsidi,red) dan mengonversi ke gas di seluruh daerah Indonesia. Namun, hal itu dilakukan secara bertahap dan belum sepenuhnya seluruh daerah Indonesia menggunakan gas untuk kebutuhan memasak rumah tangga.

Minyak tanah yang disubsidi pemerintah sejak dulu, dilihat dari penggunanya adalah mayoritas masyarakat kelas menengah ke bawah yang tentunya sangat perlu disubsidi oleh pemerintah. Kebutuhan kuota minyak tanah setiap tahun selalu meningkat dan sangat besar ‘menguras kantong’ APBN. Oleh karena itu, pemerintah melakukan konversi minyak tanah ke gas yang lebih efisien dan dari segi harga lebih murah daripada menggunakan minyak tanah. Tentunya gas rumah tangga yang dikemas dalam 3 kilogram tersebut tetap disubsidi negara agar masyarakat menengah ke bawah terjangkau.

Setelah gas untuk mengebul asap di dapur, lalu BBM bersubsidi (jenis premium dan solar,red) yang mayoritas pengguna kendaraan motor pribadi akan dibatasi. Jika BBM bersubsidi dibatasi berarti akan menghemat APBN. Saat awal mengemuka wacana pembatasan BBM bersubsidi, yang dikenakan adalah seluruh kendaraan bermotor (jenis mobil pribadi,red) yang tahun pembuatannya di atas 2005. Tapi, pekan lalu setelah pemerintah dan Komisi VII bidang energi DPR RI membahas pembatasan BBM bersubsidi, ini disepakati bahwa seluruh kendaraan bermotor berplat hitam tidak dapat menggunakan BBM bersubsidi mulai triwulan ketiga tahun 2011 mendatang.

Kalau kendaraan bermotor pribadi berbahan bakar bensin (subsidi,red) bisa beralih ke pertamax, namun bagaimana dengan kendaraan bermotor pribadi yang berbahan bakar solar? Sejauh pengamatan saya di SPBU tidak ada jenis solar yang tidak subsidi. Pernah ada beberapa SPBU menyediakan Bio Solar. Entah apakah bahan bakar ini disebut BBM nonsubsidi?

Yang cukup melegakan adalah pengguna sepeda motor yang mayoritas pengguna BBM bersubsidi, tidak dikenakan pembatasan BBM bersubsidi dan tidak harus menggunakan jenis bahan bakar pertamax. Pengguna kendaraan sepeda motor notabane adalah mayoritas masyarakat kelas menengah ke bawah. Jika dibandingkan dengan para pemilik kendaraan mobil mayoritas masyarakat menengah ke atas, tentu wajar harus menggunakan BBM nonsubsidi.

Wacana pembatasan BBM bersubsidi dan nonsubsidi yang sangat menguasai hajat hidup orang banyak, itu sebentar lagi akan dimulai di daerah Jabodetabek dan secara bertahap akan diperluas dan diberlakukan seluruh daerah di Indonesia. Tapi, entahlah apakah akan efektifkah pemerintah ingin menghemat APBN-nya? Kalau berhasil menghemat, seharusnya bisa membangun infrastruktur transportasi massal, seperti kereta monorel. Tujuannya agar orang mengurangi menggunakan kendaraan pribadi yang kini sudah menyesakkan jalan-jalan raya. Tapi, kita lihat sajalah perkembangannnya di daerah Jabodetabek dulu. Apa yang akan terjadi nanti?

Leave a comment

Filed under lalu lintas, opini, transportasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s