Sekarang atau Menunda lagi

Sebuah alasan klasik itu bernama sibuk. Sehingga, waktu luang yang sesungguhnya bisa dimanfaatkan untuk menulis, ternyata tidak bisa memanfaatkan waktu tersebut meskipun hanya beberapa menit saja.

Dalam sebuah tulisan yang pernah saya baca (persisnya saya lupa dimana menemukan tulisan tersebut), saat hampir mengurangi hingga berhenti menulis baik sengaja maupun tidak sengaja, ternyata membuat pikiran jadi pikun. Hal itu benar atau tidak, saya tidak tahu. Tapi, saya sadari bahwa dalam waktu hampir lebih dari lima bulan lamanya saya tidak menulis, rasanya banyak hal yang sering lupa. Apalagi menemukan ide-ide yang baik ditulis, ternyata hilang begitu saja.

Sepanjang kurun waktu tersebut, saya mulai berpikir sekarang atau menunda, menunda dan menunda lagi. Sementara waktu, hari demi hari terus berganti. Saat itu pula disadari atau tidak, aktivitas pikiran di otak yang seharusnya dituangkan ke dalam tulisan, ternyata hanya menumpuk di dalam barisan rangkaian kata, lalu hilang dan lupa.

Sepanjang waktu tidak menulis itu, kemudian dalam benak pikiran ada sesuatu yang mengharuskan kembalilah menulis! Roni Seperiyono, senior saya pada waktu itu di pers mahasiswa, selalu mengatakan “kembali kepada khitoh jurnalistik”. Karena dulu konteksnya hampir tidak pernah melewatkan tema-tema tentang jurnalistik. Namun, saya menerjemahkannya dalam situasi dan kondisi sekarang adalah kembalilah menulis seperti dulu yang menjadi kebiasaan, menjadi kesenangan asik berlama-lama di depan komputer sembari jari-jari ini ‘menari’ di atas keyboard.

Apa kata orang dan komentar mereka sering menjadi hambatan menulis dan tetap konsisten. Sekarang kelihatannya bukan komentar orang yang membaca, tapi kita sendiri yang malas atau sibuk lantaran pekerjaan yang menyita waktu. Apalagi kemunculan situs-situs jejaring sosial yang hanya menulis singkat atau celotehan sehari-hari, sehingga menjadi malas membuat tulisan secara mendalam sepanjang kesanggupan kita masing-masing.

Kata Pramoedya Ananta Toer, ”Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”.  Keabadian akan menjadi sejarah yang selalu tercatat dan dibaca. Selamat datang menulis lagi, kata batin saya.

1 Comment

Filed under media massa, opini, pers

One response to “Sekarang atau Menunda lagi

  1. RSP

    betul om, kata orang bijak dulu bilang, “ikatlah ilmu itu dengan menulisnya”. dan saya sudah menulis di kolom komentar ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s