Jurnalis itu Tukang Peras!

Delapan puluh persen wartawan/jurnalis adalah pemeras! Demikian menurut Rosihan Anwar, jurnalis senior tiga jaman (Kompas, 22 Mei 2010).

Barangkali apa yang diungkapkan Rosihan menunjukkan betapa memprihatinkan keadaan dunia wartawan kini yang berprofesi ganda. Tukang peras!

Sayangnya Rosihan tidak menjelaskan lebih banyak soal ini. Busuknya prilaku oknum wartawan yang memeras narasumber, sedikit sekali yang diberitakan di media massa. Seolah narasumber merasa tidak berdaya diancam oknum wartawan dengan cara memberitakan ke medianya. Menyerahkan sejumlah uang kepada oknum wartawan menjadi jalan terakhir itu.

Saya dan mungkin Anda sepakat bahwa tidak semua jurnalis/wartawan itu tukang peras! Masih banyak jurnalis/wartawan yang mempunyai integritas dan menjunjung tinggi kode etik jurnalistik dalam menjalankan tugasnya meliput dan mewawancara narasumber.

Profesi jurnalis/wartawan bagi para oknum yang berniat memperkaya diri dengan jalan memeras narasumber, seolah sudah menjadi kebiasaan. Boleh jadi tidak terdengar dan terungkapnya oknum jurnalis/wartawan yang memeras narasumber, karena narasumber tidak ingin repot mempermasalahkan kasus pemerasan ke pihak berwajib (polisi, red).

Orang-orang yang dianggap mudah ‘diperas’ adalah mereka yang bekerja di ‘lahan basah’, sehingga mudah bagi oknum jurnalis/wartawan memeras mereka.

Tidak terkecuali orang nomor satu di Palembang pun diperas dua oknum jurnalis/wartawan. Tidak tanggung-tanggung, mereka meminta 200 juta rupiah atau jika tidak, mereka akan memberitakan kasus korupsi yang dilakukan walikota Palembang Eddy Santana Putra. Kedua oknum tersebut akhirnya dilaporkan ke Poltabes Palembang dan ditahan (Kompas, 22 Mei 2010).

Oknum Bekal Kartu Pers

Di era reformasi dan kebebasan pers seperti sekarang, di satu sisi seperti memberi ruang bagi para oknum jurnalis/wartawan yang hanya berbekal kartu pers. Namun, sesungguhnya mereka ada yang tidak bernaung di media massa mana pun. Kalangan jurnalis menyebutnya wartawan tanpa suratkabar atau WTS.

Mereka seolah layaknya jurnalis/wartawan. Berada di dalam lingkungan jurnalis/wartawan saat meliput dan mewawancarai narasumber. Tapi, lihatlah gelagat mereka ‘menggiring’ narasumber agar memberi sekedar uang transportasi. Ya sebenarnya mereka ingin mendapat uang (ada yang menyebut “terima amplop”) dari narasumber.

Eksistensi para oknum ini jelas-jelas merusak nama baik profesi jurnalis/wartawan lain. Dewan Pers maupun organisasi profesi wartawan belum terlihat bagaimana menyingkirkan para oknum jurnalis/wartawan ini. Semakin dibiarkan, justru akan semakin berani melakukan pemerasan terhadap narasumber.

6 Comments

Filed under koran, media massa, pers

6 responses to “Jurnalis itu Tukang Peras!

  1. Mungkin maksudnya pemeras data dan fakta, bukan pemeras duit.😀

  2. Bikin aja satgas WTS, gimana?
    ya tugasnya menginvestigasi wartawan yang tukang peras. Atau bikin aja organisasinya biar ke dekteksi gitu loh

  3. Sayangnya kenyataannya begitu bang.. sepertinya bagi sebagian orang, itu sudah jadi simbiosis mutualisme.

    Saya pernah dikejar2 narasumber gara2 wawancara dia, katanya mau ngasih amplop….

  4. Tri

    emg, ga bisa dipungkiri, nama wartawan sekrg udh berubah konotasinya jadi “tukang peras”, dan itu sering terjadi sama saya, dan terus terang, geram.

    “lu wartawan? wah banyak duit dong!” ujar salah seorang tmn SMA saya yg skrg jd PNS.

    Hey! gara2 segelintir wartawan yang sering “ngamplop”, para wartawan yang masih ‘bersih” jd serba salah. tidak sekali dua kali saat liputan saya ditawari uang amplop, bahkan saat liputan ke warga-warga yang miskin.

    “ah, ambil aja. wartawan ‘itu’ aja ngambil td,”

    nah, di sini, pada saat seperti itu, biasanya kami menjelaskan bahwa kami tidak minta uang atau diberi uang, data saja sudah lebih dari cukup.

    JANGAN BERI WARTAWAN UANG. APAPUN ALASANNYA!

    nb: eh, baca blog gw sama reza: http://detasteofthejournalists.blogspot.com/

  5. jadi kasihan sama wartawan2 idealis yang bukan tukang peras. gimana demokrasi kita lancar kalo pers berantakan?

  6. Anti pers

    Wartawan indonesia memang tukang peras dan hanya tamat sd

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s