Hidup dan Mati Jurnalis

September 2004 lalu, saya dan teman-teman pers mahasiswa dari seluruh perguruan tinggi di Lampung, ikut aksi keprihatinan atas meninggalnya Ersa Siregar, jurnalis RCTI. Ia meninggal dunia dalam tugasnya sebagai jurnalis pada waktu itu konflik di Aceh, 29 Desember 2003 lalu.

Saya dan teman-teman saya yang ikut aksi di depan Bundaran Gajah, Jalan Raden Intan, Bandar Lampung, itu barangkali tak pernah mengenal begitu dekat sosok siapa Ersa Siregar. Tapi, kami berkabung atas kepergiannya. Kami belajar dan menjadi tahu bahwa pekerjaan jurnalis sangat dekat dengan maut ketika meliput di daerah yang sedang konflik senjata. Siapa pun yang berprofesi sebagai jurnalis  (TV, suratkabar, radio, internet, dll), ikut merasa kehilangan pria berusia 52 tahun ini.

Ada banyak jurnalis yang meninggal pada saat liputan dan karena isi pemberitaan yang ditulisnya. Pada saat liputan peristiwa terutama di daerah konflik seperti baru-baru ini menjadi headline di tayangan televisi berita Indonesia adalah aksi kaos merah melawan militer Thailand di Bangkok.

Sewaktu-waktu jurnalis tak luput jadi korban akibat pertempuran di ibukota Thailand. Dalam pengamatan secara awam, mungkin kita akan menilai tugas mereka menantang bahaya, nekat, dan cari mati!

Bagaimana pun juga tugas dan tanggung jawab harus mengantar mereka berada di sana untuk meliput setiap peristiwa yang terjadi. Karena merekalah seluruh dunia tahu apa yang sedang terjadi di sana. Beruntung pula pemerintah negara tersebut tidak bertindak represif terhadap para jurnalis yang bertugas meliput berita. Jika sebaliknya, maka tidak mungkin kita akan tahu peristiwa berdarah yang terjadi di sana.

Sementara itu, ada pula jurnalis yang meninggal karena tulisannya dinilai membuat ‘gerah’ orang yang memiliki kekuasaan atau kepentingan tertentu. Belum hilang dari ingatan kita kasus terbunuhnya Fuad Muhammad Syafruddin, jurnalis Harian Bernas, Jogjakarta, 16 Agustus 1996 lalu. Tidak ada pelaku yang berhasil di jebloskan ke penjara. Seakan kasus Udin ini ‘menguap’ begitu saja tak membekas.

Terakhir seorang jurnalis Radar Bali, Anak Agung Prabangsa, ditemukan meninggal, 16 Februari 2009 lalu karena dibunuh. Meninggalnya disebabkan menulis tentang kasus penyimpanan proyek di Dinas Pendidikan Bangli, Bali. Kasus ini pelaku berhasil ditangkap dan diadili di pengadilan.

Pada hakikatnya, jurnalis sebagaimana seorang warga negara yang dijamin hak asasi manusia dimana ia berada dalam menjalankan tugasnya meliput peristiwa. Namun, adanya peristiwa seperti Udin dan Anak Agung Prabangsa, menunjukkan kemerosotan negara untuk menjamin kebebasan pers. Masih ada perilaku premanisme untuk menyelesaikan masalah. Padahal, undang-undang pers menjamin bagi orang atau kelompok tertentu yang keberatan terhadap berita yang ditulis oleh media massa, bisa menuliskan surat hak jawab. Kemudian media massa tersebut wajib memuat atas keberatan pihak yang ditulis oleh media tersebut.

Semoga kebebasan pers di Indonesia menunjukkan kemajuan yang semakin berkualitas, baik isi berita yang disajikan maupun kualitas para jurnalisnya.

6 Comments

Filed under media massa, pers

6 responses to “Hidup dan Mati Jurnalis

  1. *tetralogi buru mode on*

    hmm… jadi inget ketika minke menulis tentang trunodongso dan kelaliman pabrik gula. lantas beradu mulut dengan redaktur ‘sn vd/d’ terkait tulisannya tersebut yang dinilai ‘cari mati’.

    *oot mode on*

  2. tapi saya tetep ingin jadi jurnalis.

  3. sepertinya ini kunjungan perdana. salam kenal y bang.:mrgreen:

  4. Sayangnya seringkali para jurnalist tidak mendapatkan perlindungan yang semestinya. Walaupun itu sebuah resiko meliput di medan konflik.

  5. waw, ternyata resiko menjadi seorang jurnalis itu besar yach?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s