Menulis untuk Terhindar dari Kepikunan

Demikian kata Marthias Dusky Pandoe, seorang jurnalis yang hidup pada tiga zaman. Pria yang telah berusia 80 tahun ini meluncurkan buku Jernih Melihat Cermat Mencatat.

Mungkin tak banyak sosok jurnalis senior yang dikenal oleh para jurnalis di era kini. Termasuk saya. Saya hanya ingat nama Rosihan Anwar. Sesekali pernah membaca tulisannya di opini media cetak harian tentang Pers.

Sayang sekali jika jurnalis muda tidak banyak belajar dari mereka berdua. Ilmu dan pengalaman mereka tak sebanyak dengan tulisan yang pernah ditulis di surat kabar maupun buku.

Saya pikir ada benarnya kata Pandoe, “Menulis untuk terhindar dari kepikunan.” Dibandingkan dengan membaca buku, aktivitas menulis adalah upaya menghindari kepikunan. Tak jarang pula pada usia produktif, rasanya pernah mengalami kepikunan.

Menulis perlu dilatih sejak dini. Menulis bukan hanya pekerjaan bagi jurnalis semata. Bahkan semua kalangan, siapa saja dan profesi apa pun tidak terlepas dari aktivitas menulis di samping banyak membaca buku.

Saya ingat waktu kecil (seusia SD,red), guru lebih memotivasi anak didiknya agar sering membaca buku. Sementara untuk rajin menulis hampir tidak pernah diingatkan (tanpa mengurangi rasa hormat para guru saya yang telah mendidik dan mengajarkan saya).

Boleh dikata saya agak terlambat belajar menulis serius. Baru menginjak tingkat dua di bangku kuliah dan bergabung di lembaga pers mahasiswa, baru mulai belajar menulis (karya jurnalistik,red). Tapi, dengan keseriusan dan ketekunan, istilah terlambat belajar menulis tidak ada lagi. Yang dibutuhkan adalah konsisten seperti Pandoe, masih tetap menulis hingga usia telah lanjut.

Menulis butuh latihan-latihan. Boleh jadi tanpa terasa tulisan-tulisan menjadi karya yang bisa banyak orang baca (jika mau berbagi seperti menulis di blog). Hasilnya nanti jelek, dikritik orang dan segala macam penilaian lain, kelak akan menemukan nilai yang sangat berharga bagi orang yang membacanya.

Dengan demikian, kita bisa mengambil hikmah dari kata Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Selamat Menulis!

4 Comments

Filed under media massa

4 responses to “Menulis untuk Terhindar dari Kepikunan

  1. Yap, menulis pasti ada manfaatnya.🙂

  2. phie2t

    wahh makasih pencerahannya
    smoga pit rajin nulis lagi ^^

  3. wah, mantebs nieh kata-kata dari om pram

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s