Firewall

SEORANG guru jurnalisme dan sekaligus senior saya dulu pernah bilang (begini kira-kira),”berita dan iklan dipisahkan oleh firewall.” Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, firewall itu tembok api atau pagar api.

Tak bisa dipungkiri rezim kebijakan kantor redaksi di sebuah surat kabar, di tempatnya bekerja kini, tidak bisa mewujudkan seperti apa yang pernah dia katakan seperti di atas. Berita dan iklan di surat kabar itu tidak memiliki (firewall) batas secara tegas yang memisahkannya. Mungkin pembaca surat kabar sudah paham hal itu.

Firewall istilah di dunia jurnalisme adalah sebuah garis tipis yang memisahkan antara berita dan iklan. Tak semua surat kabar di Indonesia menerapkan hal ini kecuali satu atau dua surat kabar yang terbit di Jakarta.

Di bangku kuliah dulu, pelajaran ini tak begitu istimewa. Sekalipun tidak pernah disinggung dalam pembahasan mata kuliah yang wajib maupun pilihan.

Entah penting atau tidak, ketika belajar pertama kali (dalam ruang diskusi dengan sesama teman pers mahasiswa, red) materi tentang firewall, sumber surat kabar yang menjadi rujukan sebagian besar dari Amerika Serikat. Pertanyaan muncul, pentingkah firewall diterapkan pada surat kabar di Indonesia?

Boleh jadi para pembaca surat kabar di Indonesia, kebanyakan sudah mengerti mana yang disebut berita dan mana itu iklan. Ya, dalam pemahaman sederhananya iklan itu ada gambar/ilustrasi dan berita biasanya kumpulan teks/kata-kata. Iklan biasanya diletakkan di bawah pada setiap halamannya. Sedangkan berita cenderung lebih menempatkan di setengah bagian atas setiap halamannya.

Mungkin memang tidak ada kode etik secara khusus bagi seluruh surat kabar di Indonesia yang mengatur dimana harus menempatkan berita dan iklan. Terkadang saya pernah menemukan beberapa iklan yang berada di sebelah nama rubrik (paling atas, red). Padahal seharusnya iklan telah mempunyai tempatnya tersendiri yang dipisahkan oleh firewall.

Prinsip adanya firewall hanya menegaskan sebuah surat kabar tidak mencampurkan mana berita dan iklan. Maka, pembaca tidak ‘dikaburkan’ lagi dengan pencampuran iklan di tempat berita di kelompokkan. Bukan berarti penempatan iklan sesuka hati sang konsumen di mana pun karena berani membayar mahal dan harus ‘mematahkan’ kaidah firewall.

Kaidah firewall ini belum menjadi isu yang penting bagi pengelola surat kabar di Indonesia. Mungkin mereka sudah tahu kaidah ini sejak lama, tapi menganggap tidak menjadi hal yang mendasar dan penting untuk diperhatikan dan diterapkan.

Agaknya pelajaran tentang firewall ini hanya ada dalam ruang diskusi dan dalam tataran pemahaman yang berlalu tak mudah diwujudkan. Mau bagaimana pun tetap di tangan pemilik/pengelola surat kabar yang memiliki otoritas atas perubahan menerapkan firewall ini. Pesimistis ya? May be yes, may be no. hehe.

4 Comments

Filed under koran, media massa, pelatihan

4 responses to “Firewall

  1. kalau bagi para maniak ads*nse dan sejenisnya, sebisa mungkin garis pembatas itu dihilangkan, demi readability iklan yang bersangkutan, sehingga pengunjung mengkliknya (entah secara sengaja ataupun tidak) dan mengucurkan tetes-tetes uang ke pemilik blog😛

  2. Yang penting para pembaca dalam membaca tulisan harus pintar2 memilih.🙂

  3. ayo membaca dan pilihlah bacaan sesuai dengan kebutuhan mu😀

  4. Untungnya email dan komputer kita punya firewall dan folder khusus spam🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s