Tepuk Tangan Panggung Sandiwara

“Baik..baik pak ditahan dulu. Kita akan kembali setelah jedah iklan berikut ini,”kata seorang anchor cantik sebuah stasiun televisi berita itu.

Tepuk tangan penonton di sana menggema beberapa saat sebelum sempat berpindah ke tayangan iklan. Debat dan saling ‘memancing’ argumentasi sudah menjadi tontonan publik pada pagi dan malam. Hampir setiap hari.

Narasumber diundang agar berbicara ini dan itu. Bila perlu lawan bicara di studio atau di tempat lain, dibikin ‘panas’. Nah, tugas anchor sebagai ‘kompor’ agar suasana debat menjadi ‘panas’.

Tuduh-menuduh sudah biasa dilakukan di acara itu. Tapi, siapa berkata benar dan siapa yang berani mengaku salah. Semua tampak subjektif. Masing-masing pihak menantang dan berani ‘buka-bukaan’ di meja hijau. Di sanalah panggung sandiwara akhir dipentaskan.

Pada akhirnya tujuan itu agar penonton dibikin terhibur dan mereka bertepuk tangan. Entah benar-benar terhibur atau malah kita menjadi orang yang pragmatis atas krisis demi krisis menggerogoti negeri ini. Kita menonton dagelan dan memberi tepuk tangan panggung sandiwara itu.

3 Comments

Filed under korupsi kolusi, media massa, opini, politik

3 responses to “Tepuk Tangan Panggung Sandiwara

  1. dunia ini memang panggung sandiwara, semuanya mudah berubah🙂

  2. Apakah itu benar sandiwara? Ada skenarionya?:mrgreen:

  3. dulu bentuk wawancara bukan kayak gini kan? kak eriek dewek pernah wawancara kan? cubo kasih tips.. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s