Act of Violence

Walter Lippmann, seorang jurnalis di Amerika Serikat, dalam bukunya Public Opinion, mengatakan bahwa demokrasi pada dasarnya cacat. Orang kebanyakan tahu dunia secara tidak langsung, melalui “gambaran yang mereka buat di kepala mereka”. Mereka menerima gambaran mentah ini umumnya dari media. Problemnya, kata Lippmann, gambaran yang ada di benak orang ini sangat terdistorsi dan tak lengkap. Gambaran ini dirusak oleh kelemahan pers yang tak dapat diubah. Yang tak kalah buruk, kemampuan publik untuk memahami kebenaran—bahkan jika kebenaran itu datang—sering terkalahkan oleh bias, stereotipe, kelalaian dan ketidak pedulian manusia.

Barangkali yang dikatakan Lippmann relevan dengan yang terjadi kemarin hingga hari ini, masyarakat disuguhi tayangan/informasi oleh pers media elektronik (televisi,red) khususnya.

Peristiwa tragedi berdarah yang terjadi sejak pagi hingga sore kemarin (Rabu, 14/04) di depan kawasan makam Habib Hasan atau dikenal Mbah Priuk di Tanjung Priok, ditonton jutaan masyarakat melalui layar kaca televisi. Respon yang mengemuka lebih dulu adalah marah dan sikap anarkis, sebelum informasi/fakta yang benar didapatkan secara utuh.

Tayangan televisi atas tindakan kekerasan (Act of Violence) yang masif bak pertempuran di medan peperangan, menimbulkan kebencian. Entah harus membenci tayangan kekerasan yang selalu diulang-ulang media televisi itu atau pihak-pihak tertentu yang harus bertanggungjawab. Realitas peristiwa itu diadopsi masyarakat publik.

Peran media massa sebagai sarana ‘jembatan’ memberi damai dan ketenangan pascakekerasan. Namun, upaya tersebut tidak serta menyurutkan tayangan kekerasan yang diulang-ulang karena demi mengejar ‘rating’ dan pujian dari penontonnya. Ya memang sulit menyurutkan dan mengurangi tayangan kekerasan demi kekerasan itu di layar televisi. Masyarakat publik ‘menelan’ dan membuat kesimpulan sendiri apa yang mereka tonton. Bukan tidak mungkin mereka akan belajar meniru jika sewaktu-waktu mengalami seperti ditontonnya di layar kaca.

Bukan hal yang tidak mungkin tayangan tindakan kekerasan masif ini menular ke sejumlah daerah lain, seperti peristiwa menurunkan Rezim Orde Baru Soeharto pada Mei 1998 lalu. Tak hanya ibukota saja yang rusuh, namun diikuti pula daerah-daerah lain demikian rusuh bak berubah menjadi medan pertempuran.

Dengan alasan apa pun, memang media massa tidak bisa dihalang-halangi agar tidak menanyangkan tindakan kekerasan yang masif itu karena mereka berbuat atas kebebasan pers yang dijamin Undang-undang. Tinggal bagaimana caranya agar masyarakat awam tidak mereduksi tayangan kekerasan yang masif  itu. Ibarat bom waktu, ingatan masyarakat terhadap kekerasan yang pernah ditontonnya, maka mungkin akan ‘meledak’ sewaktu-waktu. Tapi, semoga dugaan-dugaan itu tidak akan terjadi.

2 Comments

Filed under media massa, televisi

2 responses to “Act of Violence

  1. ah, sejak dahulu kala, bagi (sebagian) media; ‘oplah’ adalah hal yang utama.

  2. Hmmm… artinya media memegang peran penting juga dalam pencerdasan bangsa ini….🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s