Sebuah Pengabdian Terakhir

Pengantar
Di dalam pembuka buku: “Teknokra: Jejak Langkah Pers Mahasiswa”, pers mahasiswa atau pers kampus mahasiswa di Indonesia pernah menapaki masa gemilang dan keemasan pada era pers terbelenggu tirani kekuasaan dan hegemoni pemerintahan yang terlalu kuat tanpa penyeimbang. Sehingga fungsi pers sebagai kontrol sosial mengalami masa nadirnya. Saat-saat ini, menjadi momentum bertumbuhan pers mahasiswa yang harum namanya dan dicari-cari karena keberhasilan isi tulisannya (Gofur dkk, 2010).

Menjadi bagian terkecil di dalam sebuah organisasi pers mahasiswa telah banyak memberi arti penting dalam perjalanan hidup saya kala itu. Tak hanya merasakan bertambahnya ilmu akademik karena kewajiban sebagai mahasiswa memang harus kuliah. Namun di samping itu, saya ‘kuliah’ hingga larut malam (bahkan sampai esok paginya lupa mandi dan gosok gigi, red) di pojok itu. Teman-teman menyebutnya Pojok PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa). ‘Serpihan’ kecil-kecil kehidupan yang ternyata mendidik karakter pribadi menjadi tangguh dan survive.

Sebuah cerita lama (hampir empat tahun lalu, red), ini ingin saya kisahkan di ruang blog. Ya ini sekelumit cerita (LPj,red) menutup pengabdian di organisasi ‘gila’ itu. Mengapa saya sebut organisasi ‘gila’? Di cerita berikutnya akan saya bagikan untuk Anda. Selamat membaca.

Prolog
Suatu siang menjelang sore, sebuah pesan pendek tiba-tiba mampir di ponsel saya. Di inbox, tertera nama Iduy, nama panggilan akrab Yudi, sang Pemimpin Umum UKPM Teknokra terpilih buat periode 2005-2006. ”Riek, lo di mana? Ke Kopma sekarang. Penting,”tulis Iduy dalam pesan layanan singkat yang masuk ke ponsel saya. Saat itu yang saya ketahui, pasca beberapa hari setelah melaksanakan Mubes ke-XV, ketua dan dua orang mide formatur sedang menyusun perangkat struktur kepengurusan baru Teknokra satu tahun ke depan.

Bergegas saya langsung berangkat menuju gedung PKM dan menemui Yudi. Ketika saya akan menemuinya, Yudi telah duduk menunggu di depan Kopma ditemani Abdul Gofur, salah satu mide formatur waktu itu. Sebelumnya tidak pernah menduga maksud Yudi memanggil saya. Baru tahu maksud memanggil saya setelah Yudi dan Ago memberikan gambaran singkat pada jabatan pemimpin redaksi, pemimpin usaha dan kepala pusat penelitian dan pengembangan. Mereka menganggap, hanya dari tiga posisi penting itu yang memenuhi buat saya buat mengisi di salah satu jabatan itu kelak. Kepada saya kemudian didiskusikan apa-apa saja visi dan misi dari saya jika menempati dari salah satu tiga jabatan itu. Ya, semacam fit proper tesnya Presiden RI menyeleksi calon-calon yang akan menduduki jabatan menteri di kabinetnya.

Hal yang paling penting buat saya setelah kalah dalam perolehan suara dengan Yudi dan Heni dalam bursa pemilihan calon ketua formatur, yakni pada Mubes ke-XV satu tahun lalu di Granat Center, dengan ingin tetap eksis di Teknokra selama satu tahun ke depan (2006, red). Komitmen sisa pengabdian terakhir buat Teknokra ini pula diikrarkan bersama-sama satu angkatan saya (angkatan 24, red) setelah selesai dari Mubes tahun kemarin. Meskipun tak perlu harus menghasilkan kesepakatan bersama secara tertulis. Tapi, setidaknya sebuah komitmen dibangun berdasarkan hati nurani yang ikhlas untuk selalu siap akan dijalankan bersama-sama dalam memutar roda kepengurusan baru berikutnya. Tantangan di Teknokra semakin berat akan semakin berat dilalui nanti.

Saya coba bisa meyakini diri sendiri, siapa pun nanti yang akan terpilih dan di mana pun jabatan itu akan diamanahkan pada kepengurusan satu tahun akan datang, harus didukung sepenuhnya. Karena saya pun juga belajar melihat dari pengalaman beberapa kepengurusan terdahulu sejak saya mulai magang sampai sekarang. Memang terlihat sulit mempertahankan kru-kru Teknokra yang seharusnya masih dibutuhkan untuk memperkuat sekaligus meneruskan estafet ’nafas’ Teknokra. Terlebih lagi cobaan berat itu dialami angkatan ’tua’. Mungkin terlihat satu atau dua orang meminta mundur dari menambah satu tahun pengabdian kepengurusan.

Pada akhirnya buat menentukan tiga jabatan (Pemred, Pemus dan Kapuslitbang) yang nanti akan diisi siapa pun itu, saya serahkan sepenuhnya kepada mereka bertiga, ketua formatur serta didampingi dua orang mide formatur. Karena mengingat keputusan final yang menentukan jabatan Pemred dan Pemus, sekaligus juga Kapuslitbang adalah di tangan Pemum.

Teman-teman pengurus dan adik-adik magang yang saya banggakan,
Pemum terpilih Yudi kemudian menunjuk saya untuk menjadi Pemimpin Redaksi Teknokra untuk satu tahun ke depan (2006, red). Rasanya berat sekali membayangkan akan ’memikul’ beban amanah ini kepada saya. Melihat sekaligus merasakan ’stres’ nya di bidang redaksi ketika saya mulai memasuki kehidupan yang bernama Teknokra, dari kepemimpinan Pemred Kak Ucup, Bang Yamin, Kak Tur, dan Bung Roni. Lalu, hal itu sempat terpikirkan oleh saya,’’Mampukah saya memimpin redaksi?’’

Bekal selama di bidang redaksi pun saya sadar masih dirasakan minim. Mungkin tidak sebanding dengan Rieke yang sejak awal dididik di redaksi hingga terakhir masa kepengurusan periode tahun 2005-2006 ini, memiliki kapasitas yang cukup mumpuni di bidang redaksi. Sedangkan saya, berangkat dari fotografer hanya beberapa bulan menjelang berakhirnya masa kepemimpinan Pemred Bang Yamin. Lalu di masa Pemred Kak Tur, saya diamanahkan sebagai webdesigner. Sebuah amanah yang notabenenya bekerja dengan duduk di depan layar monitor komputer, kemudian mendesain dan merancang situs yang dikelolah oleh Teknokra sendiri (students.unila.ac.id) dan terkadang sedikit sekali banyak terlibat reportase di lapangan.

Kemudian berlanjut pada masa Pemred Bung Roni, saya baru dipercaya sebagai redaktur berita setelah melalui reshufle pengurus pada bulan Agustus 2006 lalu hingga akhir tahun. Karena sebelum menjadi redaktur, saya amat banyak memegang teknis pemasaran sebagai koordinator untuk melakukan distribusi kepada mahasiswa dan lebih banyak kerja-kerja di bidang usaha. Praktis, pengalaman saya di bidang redaksi boleh jadi masih sedikit dan juga tidak berjenjang. Tapi, hal itu bukan menjadi terhalang buat saya yang telah dipercaya untuk memimpin redaksi yang bernama Teknokra ini. Saya berdo’a mencoba meyakini diri saya sendiri bahwa saya berani tampil maju demi Teknokra.

Tak menunggu berlama-lama memutuskan kesediaan saya untuk menjadi Pemimpin Redaksi Teknokra, akhirnya saya memproklamasikan diri dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim bahwa saya yakin pasti bisa.

Teman-teman dan adik-adik magang Teknokra,
Tanpa terasa sudah hampir satu tahun saya menahkodai kapal redaksi Teknokra bersama teman-teman sekalian untuk mengarungi samudera yang luas. Waktu yang tak disangka demikian cepat berlalu, kini tiba saatnya saya merapatkan kapal besar ini ke darmaga. Lalu harus mempertanggungjawabkannya secara terbuka kepada semua awak kru Teknokra.

Idealnya, laporan pertanggungjawaban yang dibuat ini adalah evaluasi kerja bidang redaksi selama hampir satu tahun periode kepengurusan, yakni kinerja para kru redaksi dalam menjalankan masing-masing fungsi personalia yang telah diatur dalam Pedoman Pokok Organisasi (PPO). Para kru redaksi telah melakukan apa dan menghasilkan apa, memang sangat perlu disampaikan di dalam laporan pertanggungjawaban ini. Namun, mewakili seluruh kru di redaksi, karena sebagai pemimpin di sana, menjadi sebuah keharusan bagi saya untuk menyampaikannya kepada seluruh kru Teknokra, tak terkecuali para magang, generasi penerus ’nafas’ Teknokra di masa akan datang.

Teman-teman sekalian dan adik-adik magang Teknokra yang saya sayangi,
Kini saatnya saya paparkan hasil evaluasi kerja di bidang redaksi selama satu tahun periode kepengurusan 2005-2006 ini. Saya mencoba menuliskan laporan ini dengan terbagi secara terperinci dalam beberapa sub judul.

Program Kerja dan Realisasi
Seperti yang tertuang pada amanat Mubes ke-XV pada Desember 2005 lalu, telah disepakati bahwa melimpahkan program kerja bidang redaksi untuk kepengurusan berikutnya (periode 2005-2006, red), antara lain:
– Majalah Berita Triwulan Teknokra terbit sebanyak tiga edisi
– Buletin Teknokra News terbit sebanyak 10 edisi
– Teknokra.com dihidupkan kembali

Perjalanan roda kepengurusan Teknokra segera dimulai pasca dilantik pada kamis, 5 Januari 2006 lalu di Ruang Sidang Gedung PKM lantai dua Unila, langsung dipelopori oleh para awak redaksi pada keesokan hari (Jumat, 6 Januari 2006) dengan agenda mengadakan rapat evaluasi Tek-News Edisi No 73. Sebagai catatan penting, rapat evaluasi selama satu periode kepengurusan yang lalu (2004-2005, red) tidak pernah terlaksana. Oleh sebab itu, menjadi perioritas penting buat kepengurusan periode berikutnya (2005-2006, red) untuk menyelenggarakan rapat evaluasi Tek-News sebagai bentuk pembelajaran tidak hanya para awak kru redaksi, tapi juga lebih penting penulis yang notabene melibatkan para magang Teknokra untuk memperbaiki dari kesalahan yang terkadang sering ditemui.

Sayangnya, saat rapat evaluasi ketika itu hanya dihadiri sebagian kecil pengurus saja. Jumlah ada sekitar delapan orang pengurus. Sedangkan para magang, tak satu pun tampak batang hidungnya buat menghadiri rapat itu. Saat itu pula saya mulai merasakan sedih. Rapat penting seperti itu tak dihadiri satu pun magang. ”Bagaimana nanti jika mereka telah diterima menjadi pengurus?,”pikir saya yang mulai khawatir kemampuan mereka di masa mendatang. Sedihnya saya itu pun cukup beralasan karena saya takut akan kembali mengulangi kesalahan pada terbitan Tek-News mendatang.

Mungkin terkesan yang melekat dan dialami magang reporter adalah melakukan prioritas kerja-kerja reportase, setelah itu menulis di ruang redaksi. Jika kewajiban menulis berita itu telah selesai mereka lakukan, kemudian pulang meninggalkan Teknokra. Seolah-olah yang terbayangkan di Teknokra hanya kerja-kerja reportase di lapangan, namun untuk menghadiri setiap rapat-rapat penting redaksi terbilang jarang hadir, justru lebih didominasi pengurus yang datang.

Sebagai contoh kembali dapat terlihat pada saat rapat perdana proyeksi Tek-News Edisi No 74 (Selasa, 17 Januari 2006) di kepengurusan baru yang terbentuk (periode 2005-2006, red), di antara yang hadir saat itu lebih banyak dihadiri sekitar 12 pengurus. Lagi-lagi saya tidak menjumpai satu pun anak magang Teknokra pun. Kemana para magang? Lagi-lagi saya sedih melihat hal ini kembali terjadi. Seharusnya, dari mulai masa magang inilah mereka dididik agar bisa mengikuti setiap agenda rapat-rapat redaksi. Ini juga penting buat mereka kelak menjadi pengurus tidak bakal gagap apa yang seharusnya dilakukan nanti dalam mengikuti rapat atau sewaktu-waktu ditunjuk buat memimpin rapat.

Teman-teman pengurus dan adik-adik magang penerus ’nafas’ Teknokra,
Permasalahan selain minimnya jumlah pengurus yang hadir dalam rapat proyeksi dan bujeting Tek-News terutama kru redaksi dan para magang, ternyata cukup membuat kebingungan dalam mengumpulkan berita-berita yang siap diliput. Kendala tersebut tentu saja membuat molor deadline yang selama ini telah ditetapkan melalui matrix kerja bidang redaksi untuk terbitan Buletin Dwimingguan Tek-News.

Sebagai contoh Tek-News Edisi perdana di awal kepengurusan (2005-2006, red), lebih banyak menulis di sana adalah saya sendiri. Mulai dari headline, liputan khusus diskusi panel teman-teman BEM se-Indonesia di Metro, sampai menulis beberapa berita di lintas fakultas. Secara pribadi, saya malu mengatakan hal ini. Kok Pemred lebih banyak menulis di Tek-News? Kemanakah para reporter dan magang reporternya? Saat itu memang tampak sedikit sekali kru magang junior angkatan 31, dan magang senior angkatan 30 yang aktif menulis di Tek-News. Terlebih lagi buat intensitas kehadiran di Teknokra saja bisa dihitung amat jarang.

Untuk menyikapi Tek-News tersebut segera terbit, tentu saja saya sebagai Pemimpin Redaksi telah meminta Redaktur Pelaksana: Rieke dan dua orang Redaktur Berita: Padli dan Riska untuk segera menyelesaikan terbitan. Maksud saya, saat reporter dan magang reporter belum melaksanakan amanahnya buat menulis di Tek-News di edisi itu agar tepat waktu (deadline, red), idealnya Redaktur Berita menangani kerja-kerja reportase Tek-News. Memang tindakan seperti ini tidak baik buat ke depan dan tidak bisa dimaklumi. Namun, apakah harus menunggu berlama-lama agar Tek-News yang seharusnya terbit setiap dua minggu sekali menjadi sebulan sekali? Saya kira kita semua sepakat tidak menginginkan itu bukan? Karena amanat Mubes tahun lalu, harus kita laksanakan semampu dan sekuat tenaga kita semua.

Ketika belum tampak ada respon cepat, saya kemudian meminta pendapat dari Pemum untuk masalah ini? ”Gimana Yud, anak-anak reporter dan magang sedikit sekali yang berjalan?” kata saya. ”Bila perlu Redaktur mem-back up,” ujar Yudi. Saya katakan, masalahnya juga sama. Lalu, saya berinisiatif bergerak cepat untuk melakukan reportase di lapangan dan menyelesaikannya sampai pada tahap editing tulisan sendiri. Kemudian setelah semua berita-berita telah cukup, Redaktur Artistik: Taufik menyelesaikan semua lay out Tek-News. Sayangnya, Artistik: Edi belum bisa secara maksimal dan cepat. Hasilnya, terbitan Tek-News Edisi No 74 membutuhkan waktu selama satu bulan agar bisa terbit.

Pasca terbit Tek-News Edisi No 74, ternyata masalah kembali terulang pada edisi berikutnya. Tek-News Edisi No 75 terbit pada bulan Maret 2006, seterusnya kembali berlanjut Tek-News terbit sebulan sekali. Padahal, idealnya Buletin Tek-News kita terbit setiap dua minggu sekali. Ternyata persoalan tetap saja pada kurangnya kru reporter yang produktif dan magang yang aktif.

Hingga sampai Tek-News Edisi No 77, saya mendengar cerita dari teman pengurus dengan seorang alumni yang mengomentari edisi tersebut saat hendak mencetak edisi itu ke Jakarta. ”Ini mah edisi Pemred,”ucap teman saya menirukan komentar seorang alumni itu. Yah, lagi-lagi saya kembali harus ’turun tangan’ untuk mengisi sejumlah berita-berita yang belum dilaksanakan para reporter dan magang reporter. Saya sadar betul apa yang saya lakukan adalah kurang bisa mempercayakan sepenuhnya dan mengoyomi kru redaksi, terutama reporter sampai magang reporter dalam menjalankan tugas reportase di lapangan. Namun, sekali lagi saya mempertanyakan sampai berapa lama harus menunggu? Itu pun tak dapat dijawab. Untuk itulah sekuat tenaga saya lakukan buat menyukseskan semua terbitan Tek-News tepat pada waktunya. Meskipun, pada kenyataan di lapangan masih saja molor deadline.

Permasalahan tidak hanya pada kurang produktifnya jajaran reporter dan aktifnya magang Teknokra dalam meliput berita. Tapi, sering kali foto peristiwa di lapangan sangat kurang terpotret. Apalagi di saat terjadi momen-momen penting, sang fotografer: A Cepi Arif dan redaktur foto: M Reza, keduanya sama-sama mempunyai ilmu ’menghilang’ yang cukup lama. Sehingga, penanggungjawab untuk hunting foto lebih akhirnya melibatkan sejumlah kru magang yang ingin belajar mengambil gambar. Tapi, hal itu tidak terlalu intens, malah yang terjadi banyak sekali foto-foto yang kurang berkualitas dalam pengambilan angle-nya.

Jika saja redaktur foto dapat memfungsikan kerjanya dengan baik dan aktif, maka bisa diharapkan pola pembelajaran dan diskusi penentuan foto yang layak untuk dimuat pada setiap akan terbit Tek-News menjadi nilai positif buat magang. Hal itu juga penting buat kederisasi dan sekaligus transfer ilmu tentang ilmu fotografi yang semakin jarang di dapat sekarang. Seperti meniru redaktur foto Yunda Dyah Ayu Pratiwi pada periode kepengurusan 2004-2005 yang lalu, seharusnya bisa dicontoh.

Di artistik, sejak Edi Prasetyo masuk pada jajaran baru ini, memang perlu banyak melakukan percepatan pembelajaran di bidang ini. Mungkin selama tiga sampai empat edisi pertama Tek-News masih sepenuhnya di-layout oleh redaktur artistik: Taufik Jamil Alfarau. Kemudian, setelah cukup mumpuni mulai edisi kelima dan seterusnya, artistik yang hanya seorang ini bisa menangani sendiri layout Tek-News. Meskipun, masih beberapa perlu dibimbing tangan redaktur artistik. Terkadang kehadiran Suci Gizela Pertiwi di luar bidang redaksi (staf keuangan bidang usaha) cukup membantu pembelajaran seorang Edi di artistik.

Namun, sejak memasuki bulan Oktober 2006, di bidang redaksi khususnya dalam terbitan Tek-News mulai ada geliat perubahan ke arah yang lebih baik. Hal itu ditandai dengan bertambahnya personel baru dari para magang angkatan 33 yang jumlahnya cukup banyak hampir mencapai 30 orang.  Perlahan-lahan mereka mengikuti dinamika redaksi yang kental dan ketat dengan pressure agar menepati deadline terbitan Tek-News. Dari situ, saya sengaja tidak banyak turut campur dalam soal editing dan cek akhir. Saya pikir, inilah saatnya sepenuhnya saya serahkan kepada redaktur dan redaktur pelaksana bisa lebih leluasa dalam menangani manajemen redaksi pada Tek-News terutama mulai dari editing sampai pada kebijakan menentukan judul akhir sebelum cetak. Agar kelak nanti di tangan merekalah yang akan memegang kebijakan redaksi di dalam waktu dekat.

Pada akhirnya, di akhir Desember ini sebelum menutup tahun, saya memberikan pertanggungjawab dalam bentuk secara tertulis di sini selama memimpin redaksi selama satu tahun periode kepengurusan ini. Terbitan Tek-News tercapai hanya delapan kali terbit, dari target sepuluh edisi terbit. Memang harus diakui bahwa spirit Tek-News yang diperuntukkan bagi para magang sebagai media awal pembelajaran menulis straight news perlu ditingkatkan kembali. Pemahaman memang tidak cukup sekali dua kali, tapi butuh kesabaran dan setiap saat selalu diingatkan untuk selalu belajar menulis. Intinya, jangan pernah cukup kata telah puas hanya dengan sakali menulis di Tek-News.

Selanjutnya, untuk terbitan Majalah Berita Triwulan Teknokra yang ditargetkan dalam program kerja adalah sebanyak tiga kali terbit. Namun, pada kenyataannya hanya dapat terbit satu kali dalam satu tahun periode kepengurusan (Edisi No 208 Juli-September 2006). Sedangkan, satu edisi lagi sedang dalam proses berjalan. Itu pun hanya beberapa rubrik saja yang telah terselesaikan. Malah lebih banyak rubrik wajib yang belum dapat dikerjakan sepenuhnya hingga sampai saat ini.

Proyeksi majalah Edisi No 208 untuk di periode kepengurusan ini (2005-2006, red) dimulai pada Februari 2006. Saya lupa persisnya tanggal berapa. Saat itu, cukup banyak dihadiri pengurus Teknokra. Di dalam agenda tersebut, akan menentukan tema utama dari rubrik peristiwa. Setelah melalui pemilihan dan sejumlah argumentasi dari para kru Teknokra yang hadir, maka terpilihlah tema tentang persengketaan warga dengan tuan tanah di Pulau Sebesi, Lampung Selatan dengan penanggungjawab penulis: Riska Meitania, Rieke Pernama Sari, dan Yudi Nopriansyah.

Kebijakan saat itu mengangkat dua tema peristiwa, yang satu lagi adalah mengangkat tema tentang konflik gubernur vs DPRD Lampung. Selanjutnya melakukan proyeksi terhadap rubrik-rubrik wajib yang sifatnya perlu melakukan reportase di lapangan, seperti: budaya, ekspresi, bidik lensa dan feature. Sedangkan lainnya non-liputan, seperti: salam kami, etos kita, komitmen, resensi, kyay jamo adien, dan analisi wacana.

Teman-teman pengurus dan magang yang sudah mulai mengantuk,
Jika ingin adil antara tuntutan agar Tek-News dapat terbit idealnya dua minggu sekali, begitu pula dengan Majalah Triwulan Teknokra pun juga seharusnya bisa terbit dalam rentang waktu tiga bulan sekali. Namun, yang terlihat kenyataannya para penanggung jawab penulis di majalah sejak mulai proyeksi sering terlihat santai dan mengulur-ulur waktu sampai lebih dari tiga bulan lamanya. Akhirnya seperti terjadi pada majalah Edisi No 208, yang seharusnya dapat terbit pada bulan Mei-Juli 2006, tapi kenyataannya terealisasi baru bisa terbit pada bulan September 2006 (Edisi 208 Juli-September 2006).

Peringatan melaui teguran sampai dengan menuliskan di papan tulis mungkin tak terhitung berapa kali saya mengoceh di sana. Yang ditegur hanya menganggung dan bilang iya. Entah dijalankan atau tidak, buktinya keesokan harinya selalu saya tanyakan tanggungjawab tulisan para PJ penulis rubrik. Sampai saya mencoba menghubungi via telepon beberapa kali tidak pernah mendapat tanggapan, dan justru tak digubris sama sekali ketika kembali diingatkan saat ketemu di jalan. Sampai-sampai saya harus membuatkan surat peringatan kepada Riska Meitania untuk segera menyelesaikan tulisan peristiwa utamanya, yang kemudian saya antar sendiri sampai ke rumahnya. Hal ini saya lakukan demi realisasi target bisa terselesaikan rubrik peristiwa yang menjadi tema utama di majalah Teknokra pun juga rubrik-rubrik lainnya yang telah diproyeksikan. Sangat disayangkan sekali jika tidak dijalankan sama sekali.

Alhasil, teguran melalui surat pada akhirnya ditindaklanjutinya dengan segera menyelesaikan tulisannya. Karena, melihat sejumlah rubrik wajib lainnya dan tambahan tulisan di rubrik non wajib, telah terselesaikan dan sebagian di-layout redaktur artistik. Sejumlah rubrik yang masih terlihat kosong pun segera saya sikapi. Terutama rubrik-rubrik yang tidak wajib untuk memenuhi target sebanyak 100 halaman.

Namun sangat disayangkan, rubrik peristiwa yang satu lagi (konflik gubernur vs DPRD Lampung, red) tidak dapat dilaksanakan sema sekali oleh Hanafi Sampurna sebagai penanggungjawab pada edisi No 208. Berkali-kali seperti saya sama mengingatkan para PJ di rubrik lain untuk menyelesaikan tanggungjawab tulisannya, namun sekali lagi saya benar-benar merasa terpukul dan ia meremehkan tanggungjawabnya. Dan pada keputusan terakhir, ia hanya tersenyum-senyum saja saat saya menanyakan perihal tulisannya dan cukup ia hanya mengatakan untuk mundur dari amanah yang sudah dipercaya sejak awal proyeksi.

Edisi Khusus
Dengan semangat memberikan sesuatu yang berbeda bagi mahasiswa baru 2006, melalui kebijakan bersama Pemum dan Pemus, saya memutuskan untuk di kepengurusan tahun ini (2006, red) agar dapat merealisasikan terbitan ”Edisi Khusus Mahasiswa Baru 2006”. Seiring perjalanannya melalui proyeksi pada bulan Juli 2006 dan diberi waktu kepada penanggungjawab tulisan dari rubrik yang dipilihnya, masih ditemukan masalah klasik, yakni deadline molor sampai pada awal September 2006.

Padahal yang ingin dicapai saat mahasiswa baru 2006 sedang propti di Gedung Serba Guna Unila, Edisi Khusus seharusnya segera dapat diterima oleh para mahasiswa baru di sana. Namun, tak bisa dipaksakan. Terbitan Edisi Khusus yang berformat majalah ini baru bisa dinikmati para mahasiswa baru pada pertengahan menjelang akhir bulan September 2006.

Melalui Edisi Khusus ini, apalagi format berbentuk majalah dengan kertas lux dan HVS yang tebal memberikan nilai yang positif buat pembaca yang notabene masih mahasiswa baru 2006. Hal yang lainnya selain memberikan informasi khusus buat mereka, juga tertuang misi dari Teknokra untuk menarik mereka agar masuk Teknokra.

Teknokra.com
Teknokra selain memiliki dua penerbitan, yakni majalah dan buletin, sejak dulu Teknokra mengembangkan Teknokra online agar dapat berkiprah dan dikenal di dunia maya (internet, red). Namun, permasalahan yang kerap kali tidak berdayanya media online ini disebabkan karena masih minimnya sumber daya manusia yang mumpuni dalam mengelola website sekaligus merawatnya. Padahal, jika kita bisa konsisten sejak dari dulu dan tidak terputus dalam pengelolaan Teknokra online, setidaknya Teknokra sebagai lembaga pernebitan pers mahasiswa tertua di Indonesia, mulai bisa menapaki secara bertahap agar dapat banyak dikenal luas di jaringan dunia internet. Apalagi pengakses internet saat ini sudah banyak menjamur dari kalangan media massa.

Artinya, selain memiliki nama yang sudah mulai dikenal luas, ditambah berita-berita seputar kampus Unila yang seharusnya dapat diakses pengunjung website. Namun, dalam up date berita seputar kampus masih dilakukan pada tataran tingkat internal universitas saja. Belum sampai bisa/diperkenankan diakses secara umum dari luar kampus Unila. Dari mulai format content sampai pada akses internet untuk mengisi berita-berita itu, masih sepenuhnya milik BBS Unilanet, sebuah unit penyedia jaringan internet di lingkungan Unila. Situs yang sejak tahun 2003 itu hingga sekarang (2006, red), dikelola oleh Teknokra secara kontinu, yakni beralamat di: students.unila.ac.id inilah merupakan kerjasama yang saling menguntungkan.

Namun, seiring perjalanan hingga di penghujung tahun 2006 ini, Teknokra baru dapat merealisasikan situs berita milik Teknokra online yang beralamat: http://www.teknokraunila.com. Padahal, brain image Teknokra online sejak tahun 2002, alamat situs yang dimiliki adalah http://www.teknokra.com. Tapi, alamat tersebut telah berpindah kepada orang lain untuk kepentingannya. Sehingga, Teknokra online membuat alamat baru dan mencoba konsisten selalu up to date dalam pemberitaan terutama di kampus Unila.

Pengerjaan dengan merancang web terbaru sampai kepada tahap maintance (perawatan, red) selama ini tidak pernah dilakukan oleh webdesigner. Hal ini disebabkan karena keberadaan dua orang kru webdesigner: Dede Darmawan S dan Riki Verlian, tidak pernah intens di Teknokra dan tidak melaksanakan fungsi-fungsi kerja webdesigner. Hingga pada akhirnya, teknis pengerjaan sepenuhnya saya langsung tangani, mulai dari register ulang nama domain dan sewa hosting di rumahosting.com selama tiga bulan sampai bulan Februari 2007 mendatang. Kemudian melakukan perancangan website Teknokra online yang terbaru sampai pada tahap bisa diakses umum di jaringan bebas internet. Jadi hingga sampai saat ini, Teknokra online kembali dapat dioptimalkan dengan membuat alamat baru di: http://www.teknokraunila.com

Kesan Mendalam itu
Teman-teman pengurus dan magang Teknokra yang saya banggakan,
Manusia adalah gudangnya khilaf. Begitu pula saya sebagai manusia biasa yang pasti tak pernah lepas dari kekhilafan dan kesalahan. Secara penuh sadar, saya telah banyak berbuat salah dan kekhilafan kepada teman-teman pengurus dan seluruh magang ketika kita bersama-sama dalam satu kapal bernama Teknokra selama mengarungi samudera yang luas. Melalui momentum forum Musyawarah Besar ini kita bertemu, sekaligus melaporkan LPj sebagai wujud pertanggungjawaban kepemimpinan saya di bidang redaksi kepada semua teman-teman dan tentunya kepada Allahu Swt.

Dengan menundukkan hati secara ikhlas, saya berharap (bukan atas dasar paksaan, red) kepada teman-teman pengurus, pun juga adik-adik magang yang hadir di sini dan juga yang tidak sempat yang hadir saat ini, dengan legowo memaafkan saya karena segala perkataan yang terkadang menyakitkan hati, perilaku yang tidak layak, sampai-sampai buruk sangka yang terkadang muncul begitu saja secara tak sengaja. Sekali lagi, mudah-mudahan permohonan maaf saya ini diperkenankan teman-teman sekalian.

Buat Iduy, Rieke, May, dan Diova (24 forever) yang hingga kini masih menemani saya di hari-hari yang panjang Teknokra dalam suka dan duka pada satu tahun di akhir masa kepengurusan yang banyak cobaan ini. Iduy, terima kasih atas kepercayaan lo kasih ke gua. Sorry bos, terkadang gw ngga sejalan mengikuti gaya kepemimpinan lo. Oia, kapan kita jalan-jalan lagi ke Suban buat makan durian?
Rieke, apa jadinya gw tanpa lo. Eh, maksudnya di bidang redaksi lho. Terima kasih buat mendampingi gw, meringankan pekerjaan kerja-kerja redaksi yang terkadang bikin gw ’stres’ sendiri melihat redaksi tidak pernah sesuai harapan gw. Semoga kita bisa kembali ber-partner redaksi lagi.
May, sosok cewek yang sejak saya mengenalnya dari magang sampai sekarang tidak pernah berubah. Coba deh lebih bersabar untuk menilai pandangan orang. Jangan cepat mengambil keputusan terburu-buru tanpa dipikirkan lebih dahulu. Tapi, gw senang bisa kenal lo koq.
Diova, jangan cemberutan terus dong. Memang sulit untuk selalu memenuhi apa yang lo inginkan. Ingat Diov, belajarlah coba mengerti keinginan orang lain, meskipun terbilang sulit, tapi gua yakin lo pasti bisa. Tetap semangat ya!
Buat Dede ’Wawan’ Pak Ibon, meskipun gw yakin lo tidak ada di ruangan ini, di mana pun lo sekarang, yang pasti terima kasih gw atas persahabatan yang ’gila’ buat menjadi ’gila’ di depan komputer terus. Inget coy, masa mukim kuliah kita tinggal berapa lama lagi. Gua yakin lo pasti mencapai apa yang lo cita-citakan. Oia, kok kalo’ gw ingat lo, gw inget kyay jamo adien. Hehehe…
Haji Munawaroh, kenapa lo harus mundur di saat kita sedang perlu dengan lo? Tapi, gw yakin lo punya maksud tertentu yang ngga gw ketahui.
Heni ’Qnoy’, hampir saja gw lupa menuliskannya. Meskipun gw yakin lo tidak berada di ruangan ini, oia, gw kok ditinggal sih? Begitu cepat lo meninggalkan Teknokra. Yah, sudahlah itu adalah pilihan lo dan juga atas permintaan kedua orangtua lo.
Terkhusus buat Doni ’donkay’, pendamping setia selama satu tahun ini. Lucu juga kalau kita setiap mau pergi selalu dikira ngapain gitu. Hehe. Oia, makasih ya buat berbagi cerita sampai kita jalan-jalan ke Talang Padang. Oia, jadi ngga mo ke rumah gw ntar?

Taufik ’kipote’, Rio ’Boby’, Padli ’kay’, Nashrul ’Arul’, Hendy ’metrosensual’, Hanafi ’bonbon’, Reza, Riki, Iskandar ’too cool’, Anas ’pam’, Suci ’kwek’, dan Linda ’bunda’. Pada awalnya saya bangga di angkatan kalian begitu kompak maju masuk bursa bakal calon ketua formatur di Pra Mubes kemarin. Ternyata, berbalik kenyataannya satu per satu di antara kalian mundur. Hanya meninggalkan Taufik sendiri menjadi bakal calon yang maju. Saya pribadi amat kecewa yang telah dipilih, tapi mundur. Yah, sudahlah itu mungkin keputusan terbaik teman-teman yang mundur dari pencalonan ketua formatur.
Buat Taufik, atur dong bos emosi lo tuh. Cobalah lebih sedikit bersabar. Rio ’Boby’, jangan takut mencoba menjadi pemimpin. Bukankah setiap diri kita adalah pemimpin? Padli ’kay’, tanggungjawab ke depan semakin berat. Bimbinglah angkatan di bawah lo. Bangkitkan semangat lo! Jangan menunggu disuruh baru bergerak dong. Inisiatif.
Nashrul ’Arul’, jangan keasikan mikirin yang di luar terus dong. Pikirin juga buat Teknokra nih. Masih banyak yang perlu dibenahi.
Hendy ’metrosensual’, boleh-boleh aja terima telpon dari si ’itu’, tapi nanti Teknokra harus lebih diprioritaskan juga lah. Eh, bagi-bagi dong ilmu dandannya. Hehe.
Hanafi ’Bonbon’, gua gak pernah mengerti seperti apa konsep kekeluargaan menurut lo itu. Kalau hanya memendam kekecewaan yang berkepanjangan karena masalah kekeluargaan di Teknokra, ya tidak akan pernah sanggup lo selesaikan sendiri.
Reza, tolonglah jangan banyak menghilang dari Teknokra. Jangan pernah merasa puas yang sudah didapat. Bagi-bagi ilmu fotonya buat adik-adik di Teknokra tuh.
Riki, kapan mo balik lagi ke Teknokra? Kok cuma mampir aja.
Iskandar ’too cool’, sekarang semakin tegas buat bersikap nih. Ilmu dari siapa tuh?
Anas ’pam’, cobalah lebih menghormati kakak-kakaknya. Jaga sikap kamu yang berlebihan dan terkadang tidak sopan terhadap yang lebih tua. Emosinya atur dong.
Suci ’kwek’, kayaknya cukup banyak perubahan drastis nih selama di Teknokra. Makasih ya sudah menguatkan bidang redaksi untuk artistiknya. Andaikata ada penerus seperti kamu yang rela menginap buat banyak belajar. Tapi, saya yakin pasti nanti ada banyak Suci junior yang akan menggantikan kamu. Memperkuat Teknokra lebih baik lagi.
Linda ’bunda’, kamu itu kok ibu banget sih. Hehe. Makasih ya atas bantuannya. Sungguh membantu saya kok. Oia, sesekali gantian mampir dong ke kostan saya. Silahturrahmi gitu lho. Katanya kita tetangga dekat kudu dekat ya.

Siswoyo, Riska, dan Edi. Saya yakin pada kalian bertiga masih tetap eksis buat lebih baik Teknokra. Sis, sesekali tularkan dong gimana cara buat cerpennya. Riska, dulu kok bisa lebih aktif banget, tapi sekarang jadi jarang kelihatan. Kurangin dong ilmu menghilangnya. Jangan cuma datang ke Teknokra karena ada hajatan atau acara aja.

Generasi calon midle di Teknokra, Yumi, Andri, Dwi, Suratmi, Nita, dan Cepi. Kalian harus sudah mulai siap menghadapi tantangan di Teknokra yang semakin kompleks. Jangan cepat menyerah! Yumi, saya tahu kamu sekarang kamu seorang diri di angkatan kamu. Tapi, jangan jadi alasan kamu mundur dan menyerah ya. Saya tahu kamu mampu kembali bangkit setelah cukup lama menghilang. Beri contoh yang baik buat adik-adik angkatan di bawahnya. Andri, hobi kamu tidaklah akan menghalangi buat aktif di Teknokra kan? Mulailah lebih aktif menyelami seluruh yang Teknokra miliki sekarang. Jangan sia-siakan itu. Dwi, mulai aturlah prioritas mana yang lebih penting untuk Teknokra. Pulang kampung seminggu sekali apa ngga ngebosenin? Suratmi, nah kalau cerita kan saya baru tahu apa masalahnya. Memang tidak semua perlu diceritakan sih. Nita, kemanakah kamu? Menghilang lagi susah lagi buat kamu kembali aktif. Cepi, iyaa..kalau kamu cerita ke saya, jadi buat saya mengerti maksud kamu menghilang cukup lama waktu itu. Ayo dong aktif seperti kakak-kakaknya.

Pengurus yang belum lama ini masuk jajaran di Teknokra, Agung, Harumi, Risma, Nur, Rizki, dan Wiwin. Saya yakin kalian bisa kembali solid. Memang sulit menyatukan semua keinginan. Agung, saya terkadang kesal dengan kamu. Banyak sekali menghilangnya kamu, padahal terkadang ada di sekitar gedung PKM. Sekedar masuk ke Teknokra saja enggan. Enak-enak ngobrol di depan Mapala. Sedangkan, teman-teman kamu sedang susah menyelesaikan amanah buat menyukseskan Tek-News. Kok ngga ada rasa empati, hanya senyum-senyum saja saat saya lewat di depan kamu. Kalau saya jadi kamu, tentu saya amat malu sekali. Cobalah berubah untuk berempati dengan teman-teman kamu di Teknokra. Harumi, kalo boleh saya cerita Kak Rio tuh sering ngelembur sendirian loh ngerjain iklan-iklan buat di majalah dan Tek-News. Andai saya bisa membantu, ingin sekali saya mencoba meringankan dengan mengerjakan layout iklan itu agar lekas selesai. Nah, kini gilirannya kamu lebih intens seperti Kak Rio ya. Risma, kok ngga berubah? Ayo dong jangan hanya memenuhi keinginan kamu saja. Coba belajar lebih banyak lagi. Saatnya bukan lagi takut ini dan itu. Percuma dong sudah dididik di Teknokra, tapi masih takut-takut. Nur, hebat deh mulai ada perubahan sedikit demi sedikit. Saya salut deh. Cuma jangan selalu menunggu ’diketok’ baru ngomong. Diam tak selamanya emas. Rizki ’pingky’, jika Teknokra selalu dilihat dari kerjanya pasti akan terasa berat buat dijalankan. Tuntutan akan terus datang, tanpa henti. Pilihannya adalah tetap terus maju atau tidak sanggup meneruskan. Kesungguhan akan membuahkan hasil yang kamu inginkan. Tapi, itu tidak secara instan langsung didapat. Berproseslah terlebih dahulu di Teknokra, niscaya suatu saat nanti yakin didapat yang dicita-citakan. Oia, makasih ya suguhan secangkir kopi hangat dan dua potong roti mesisnya ya:) Wiwin, saya pikir sekembalinya kamu beberapa waktu lalu ke Teknokra, membahagiakan saya untuk kembali memperkuat redaksi Teknokra. Maaf ya saya belum sempat buka obrolan dengan kamu.

Bagi kalian yang baru saja bergabung menjadi pengurus Teknokra, Arif ’towo’, Ellyn ’jialing’, dan Malhen. Kalian tulang punggung Teknokra untuk akan datang. Pertahankan! Gema, Mahda, Ari ’bendot’, Dyah Vera, Erliya ’lemot’, Wilda dan Yonia. Ayo kalian jangan lemah buat selalu menyukseskan Teknokra. Yakin pasti bisa melewati proses sisa puncak magang. Arif ’towo’, saya pun kembali teringat saat saya mengajak kamu ngobrol di depan gedung PKM buat menjadi perantara bagi teman-teman angkatan kamu. Ya, saya bisa mengajak kamu bisa eksis di Teknokra sampai sekarang adalah sebuah hikmah. Saya bersyukur sekali. Tapi, sayangnya kamu belum bisa mengayomi teman-teman yang belum pernah datang lagi. Ellyn ’jialing’, hei ternyata cukup banyak berubah ya setelah kamu menjadi pengurus. Bagus deh kamu coba ’menyelami’ Teknokra. Bukan yang lainnya ya. Hehe. Malhen, jangan selalu sendirian di luar sana. Coba munculkan karaktermu sebagai seorang Teknokra yang kritis dan pemberani. Kamu pasti bisa.

Angkatan ‘jabang bayi’, Ahmad, Ali ’jablai’, Arif, Dennis, Dewi, Ely, Evi, Hafni, Heriansyah ’siro’, Ismi, Mela, Reni, Ria, Riang, Ricky ’mali’, Rustam ’mastur’, Siti, Sri, Sukri, Tira, Vera, Weni dan lain-lainnya yang belum sempat tersebutkan semua. Kalian mengingatkan saya ketika saat saya pertama kali magang di Teknokra. Saya salut dengan kekompakan kalian sampai sekarang. Jujur, saya terharu melihat kalian yang masih baru beberapa bulan di Teknokra, sudah mulai digembleng dengan macam-macam kegiatan, namun kalian masih bisa eksis hingga sekarang. Pertahankan kekompakkan kalian itu. Suatu hari nanti mungkin sekitar 3-4 tahun lagi saya kembali ke Teknokra, saya ingin melihat kalian yang masih solid dan lebih ’gila-gilaan’ beraktivitas di Teknokra.

Demikian Laporan Pertanggungjawaban yang saya buat ini. Tak terlepas dari banyak kesalahan dan kekurangan dari pembuatan Lpj bidang redaksi di tahun kepengurusan periode 2005-2006. Tak bosannya saya selalu minta maaf atas kesalahan selama interaksi saya dengan teman-teman sekalian. Mudah-mudahan kita bisa sama mengoreksi untuk perbaikan di bidang radaksi Teknokra.

Pojok PKM, 22 Desember 2006
Pemimpin Redakasi UKPM Teknokra

Erie Khafif Mukti

6 Comments

Filed under buku, mahasiswa, media massa

6 responses to “Sebuah Pengabdian Terakhir

  1. ck ck ck.. siyuusss aku bangga nian punyo kawan mcak kando nih. dak sio sio aku didik kando nih betaon taon yeh.:mrgreen:

    berat ess bahasannyo. aku komeng di artikel yg laen bae yeh (lol)

  2. mbak nit-mbak nit..
    aku kejar2.
    ternyata disini.. *menges

  3. @intan : jiaaaaaaaaaaaahh nak ngapo ngejer mb nit dek😀 kangen yoh?😆

  4. Walaupun ada pengalaman sedikit, tetapi anda memiliki pondasi skill yang mumpuni, usaha anda memang saya ancungi jempol ! Bravo pak ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s