Cerita di Bawah Pohon

Ini bukan cerita di bawah pohon cemara seperti dengung lagu anak-anak naik-naik ke puncak gunung. Bukan itu. Bukan pula cerita luar biasa yang ‘menggemparkan’ dunia pemberitaan media cetak maupun elektronik di tanah air Indonesia. Ah, sebenarnya ini cuma sepotong cerita tidak menarik. Tapi tiba-tiba suara bisikan ‘memerintah’ saya agar menceritakannya.

Matahari sebentar lagi tepat berada di atas kepala. Kira-kira siang itu masih pukul 12 kurang. Sepeda motor berwarna biru tipe bebek diparkir tak jauh dari meja makan sebuah kedai makan. Meja panjang dan beberapa kursi plastik itu berada di luar dan dilindungi oleh pepohonan seakan menjadi atap peneduh buat para pengunjung yang makan di kedai itu.

Ada sekumpulan mahasiswa ngobrol sambil menikmati hidangan makan siang mereka. Kadang-kadang tertawa puas. Sampai-sampai kedua matanya terpejam sendiri. Ada lagi seorang mahasiswa baru tiba ditemani seorang mahasiswi, kemudian menempati tempat duduk sisi kanan. Mereka pesan makan ke penyaji, lalu larut dalam obrolan.

Suasana siang yang begitu terik oleh sinar matahari seakan hilang karena ‘dipayungi’ pepohonan yang rindang. Sesekali angin bertiup pelan dan membuat suara daun-daun saling bergesekan merdu. Ah, saya masih tetap suka dengan suasana kampus hijau ini.

Sepiring nasi putih, semangkok soto ayam dan segelas air putih hangat tiba di atas meja. Sambil menunggu makan siang tadi, konsentrasi membuka aplikasi mobile dan khusu’ menulis < 160 karakter di twitter. Makan siang yang menyenangkan sambil mengingat-ingat kebersamaan dengan teman-teman kantor 4 bulan lalu. Obrolan ringan, canda-tawa, dan kadang-kadang jadi serius menyangkut kebijakan kampus. Ya, suasana kedai makan di samping perpustakaan itu mungkin akan selalu menjadi saksi bisu. Akan banyak memiliki kisah seiring berganti generasi dan berganti tahun demi tahun.

Mungkin ada ratusan orang yang pernah makan di kedai itu yang punya ratusan cerita tidak menarik bagi saya maupun Anda. Tapi bagi mereka punya cerita yang menarik, sedih, kesal, marah, dan bermacam-macam perasaan yang ‘tumpah’ di sana. Akankah mereka berkumpul lagi kelak di sana pada lima, sepuluh atau dua puluh tahun mendatang? Mengutip kata Andreas Harsono, seorang jurnalis, di blog pribadinya ia menulis dengan tajuk “Ibarat kawan lama datang bercerita.” Akan sangat berkesan memikat tatkala ditulis detail demi detail. Sangat yakin ada rasa selalu ingin membaca kembali. Begitulah cerita yang tidak menarik ini saat di bawah pohon yang rindang itu.

6 Comments

Filed under mahasiswa, makanan, teman, universitas

6 responses to “Cerita di Bawah Pohon

  1. Tidak begitu tidak menarik, buktinya saya tetap bisa mempertahankan mata untuk tetap membacanya, sampai selesai. Hehe…

    Btw, salam kenal
    Ditunggu kunjungan baliknya

  2. Hmmm…. kisah lama… apakah bisa diingat di masa depan?🙂

  3. be… hati – hati kesambet😀

  4. hihihi… nostalgila kampus hijau ye, om?😀
    duh, jadi kangen masa-masa kuliah dulu😀

  5. jiyaaaaaahhhh mencak la tuo nian hee…😀

  6. saya jg punya cerita di bawah pohon, dg menu yg sama! soto ayam! bbrp pekan lalu menyempatkan diri u/ ‘bertandang’ ke kampus yg sejatinya belum berhak saya tinggalkan:mrgreen:

    ahh… walaupun cerita itu tidak menarik bagi orang lain, tp bagi saya, tiap lamunan yg mengembara ketika saya duduk di bawah pohon itu, mampu membawa saya bahagia telah memiliki angan2 yg 5 tahun atau 10 tahun mendatang akan menjadi kenyataan dan biarlah daun2 muda pohon itu yg akan bercerita, kalau dulu saya pernah merajut angan bersama daun2 yg telah berguguran..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s