Watak Manusia itu Bernama “Duit”

ADA benarnya ungkapan di atas dengan realitas kini. Ungkapan yang tercetus dari seorang dosen yang dikutip dari jurnalis di Bandar Lampung, ini seperti ingin ‘mengetuk’ kita. Ada watak baik dan buruk. Lalu, ada yang namanya watak ‘duit’.

Di dalam buku “Permainan Kekuasaan“, pakar Psikoanalisis, Sigmund Freud, menilai ada gabungan sifat binatang dan aspek rakus manusia yang disebut watak anal (anal character), yaitu suatu watak yang energi utamanya tertuju pada nafsu menimbun, baik menimbun uang, materi, kenikmatan, maupun menimbun sebanyak-banyaknya dan sekuat-kuatnya kekuasaan (Arge, 2008).

Ternyata begitulah kita. Kita manusia kan? Diberikan amanah pekerjaan, karier, jabatan, sampai gaji plus komisi yang menggiurkan ternyata disalahgunakan. Ya tidak semua begitu. Saya tidak mengeneralisasi semua manusia seperti kata Freud.

Coba lihatlah berita headline di surat kabar, televisi dan internet pada satu minggu terakhir ini. Sekalipun saya maupun Anda sudah muak berita secara bertubi-tubi tentang oknum Direktorat Jenderal Pajak bernama Gayus Tambunan. ‘Pengadilan’ media massa masih berlangsung hingga kini menghiasi layar kaca televisi terhadap pegawai negeri sipil berpangkat golongan IIIA ini. Bahkan, seluruh keluarganya pun ikut terjerat dalam lingkaran kejahatan mafia pajak Gayus Tambunan senilai Rp 25 miliar.

Puncak Gunung Es
Alih-alih Presiden SBY beberapa waktu lalu mengajak masyarakat agar membayar pajak, namun di satu sisi masyarakat melihat kenyataan oknum aparat pajak ‘mencederai’ Ditjen Pajak, Kementerian Keuangan dan pemerintahan SBY itu sendiri. Terlebih lagi ‘mencederai’ kepercayaan masyarakat notabene adalah wajib pajak.

Para pakar di layar televisi mengatakan inilah momentum dan puncak gunung es agar pembenahan segera dilakukan di Ditjen Pajak setelah munculnya mekelar kasus pajak. Rencana remunerasi PNS di Kementerian Keuangan (termasuk Ditjen Pajak) tahun 2010 ini mungkin akan ‘terganjal’ atau gagal (?).

Pendapat yang meyakini bahwa dengan memberi gaji dan komisi yang besar, maka tidak akan terjadi korupsi dan kolusi. Namun pada kenyataannya hal ini terbantahkan. Pegawai rendah sampai pejabat negara di lahan ‘basah’ sangat penuh peluang korupsi dan kolusi. Ya walaupun sistem dan penataan di tempat kerjanya telah dibikin seminimal mungkin tidak akan terjadi korupsi dan kolusi, tetap saja ada celah lobang berbuat memperkaya diri.

Setelah kejadian ini yang menambah citra dan catatan buruk institusi pajak, apakah akan diikuti perbaikan di institusi pemerintahan lainnya? Jika sistem sudah diperbaiki dan betul-betul sudah mengunci rapat peluang korupsi dan kolusi, namun masih tetap saja terjadi, kepada siapa lagi masyarakat memberi amanah?

Dalam Buku “Strategi Memberantas Korupsi: Elemen Sistem Integritas Nasional“, pemberantasan korupsi bisa gagal karena: Pertama, kekuasaan yang terbatas di tingkat atas (pemerintah baru mungkin ingin memberantas korupsi secepat-cepatnya, tetapi mungkin mewarisi birokrasi korup yang menghambat upaya-upaya mengadakan perubahan). Kedua, upaya-upaya perubahan yang terlalu mengandalkan diri pada hukum atau pada upaya penegakan hukum (sehingga menimbulkan penindasan, penyalahgunaan wewenang menegakkan hukum dan melahirkan korupsi baru) (Pope, 2003).

Pernyataan nomor dua di atas relevan dengan yang terjadi saat ini. Institusi Kepolisian yang seharusnya bertindak profesional menindak makelar kasus pajak, justru ada oknum yang ‘bermain’ di dalamnya. Ternyata ada penyalahgunaan wewenang penegakan hukum dan justru melahirkan korupsi maupun kolusi baru.

Lalu, siapa yang bisa dipercaya sekarang? Semua saling mencurigai. Jangan-jangan si A terlibat ini itu. Jangan-jangan si B ikut ‘bermain’ memperkaya diri. Dan seterusnya tak akan habis reality show di layar kaca.

*Foto berasal dari newsweek.com

7 Comments

Filed under korupsi kolusi, media massa, opini

7 responses to “Watak Manusia itu Bernama “Duit”

  1. yupssss… jika ingin menguji seseorang berikanlah dia uang, dan lihat bagaimana dia menghabiskannya…
    eriek mau ngasih saya uang… dengan senang hati saya terima

  2. Wah… sifat manusia emang dasarnya rakus ya…😦
    Ga pernah akan merasa puas dengan apa yg didapat.
    Semoga dengan tertangkapnya Gayus ini, bisa menjadi momen perbaikan di kubu semua departemen dan dinas yang ada.🙂

  3. ngomong-ngomong rakus, saya jadi laper, maklum ngomen di siang bolong panas, kelar lab, tapi gak ada duit :p

  4. wow!! kyk baca proposal skripsi.. hehehe
    nice writing Btw..🙂

  5. Nice Post….
    No commentlah, dah banyak orang yang comment tentang kasus ini. Semoga berakhir dan berganti kasus baru *lho kok?*

  6. Korupsi menjadi profesi.
    Siapkan kipas saja buat indonesia pas dineraka nantì.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s