Keceriaan Saling Berbagi dan Diskusi Jurnalisme

Sebuah pesan pendek masuk ke telepon genggam saya pukul 13:27 WIB. “Scpetny y kk. Hri ni cuma dikit yg ngumpul, cm 8 org lho kk”. Pesan pendek itu dari Sari, penggiat ekstrakurikuler Majalah Dimensi. Seketika aku bergegas berangkat. Rencana pertemuan ini sudah disepakati minggu kedua Maret lalu di SMAN 5 Palembang.

Cuaca hari Kamis siang itu cukup panas. Tapi tampaknya tidak membuat beberapa siswa-siswi yang sedang latihan pengibaran bendara merah-putih, itu  tak peduli cuaca panas yang menyengat mereka. Satu siswi yang membawa bendera dan didampingi dua siswa masing-masing tugasnya pengibar bendera dan pengerek bendera.

Sebagian para siswa memang sudah pulang sejak pukul satu siang. Mereka yang masih berada di sekolah adalah para penggiat ekskul. Di ruang kelas yang bersebelahan dengan ruang unit kesehatan sekolah (UKS), ada enam anak ekskul Majalah Dimensi duduk di bangku bagian depan.


Tiba-tiba saya teringat momen pertemuan seperti ini empat tahun lalu. Bahkan, pada saat itu Ibu Agustin, guru Bahasa Indonesia yang membina ekskul yang menggeluti bidang jurnalistik, ini mau mendampingi bertemu dan memberikan sebagian kecil pengalaman jurnalistik saya kepada mereka.

Empat tahun berlalu, mereka yang sudah alumni mungkin sekarang sebagian besar ada yang kuliah dan bekerja. Kini generasi berada di tangan adik-adik mereka kelas X dan XI, tapi tidak dibimbing Ibu Agustin. Beliau tak lagi mengajar karena alasan kesehatan yang kurang baik dan jelang pensiun. Semoga beliau selalu dalam keadaan sehat wal afiat. Amin.

Ruang Diskusi Jurnalistik SMA
Mengapa ekskul majalah sekolah yang dipilih? Pada perkenalan dan pertemuan yang baru pertama kali ini dengan enam anak penggiat ekskul Majalah Dimensi siang itu, saya mengatakan ingin membuka ruang diskusi yang seluas-luasnya. Tidak saja menyangkut penerbitan majalah yang sudah rutin mereka terbitkan, tapi meyakinkan mereka bisa menjadi jurnalis sekolah handal yang paham kaidah-kaidah jurnalistik.

Lalu, pikiran lain muncul dan menghantui. Untuk apa susah-susah mengurusi mereka? Apa untungnya? Astaghfirullah. Rasanya ingin mengenyahkan pikiran itu yang kadang-kadang menghantui saya. Sambil meyakini diri bahwa apa yang saya lakukan agar ilmu dan pengalaman menggeluti pers mahasiswa (persma) hampir lima tahun lamanya, tidak lupa. Punya ilmu dan pengalaman, kenapa tidak ditularkan kepada mereka? Seperti yang dikatakan Pak Harfan, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Belitong di dalam film Laskar Pelangi, “Hiduplah dengan memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya”.

Tidak terasa sudah hampir satu jam saya bercerita sedikit pengalaman kepada mereka. Meskipun baru enam anak yang datang, namun setidaknya terlihat wajah mereka antusias. Syukurlah. Bahkan, Rika, ketua Majalah Dimensi berujar, “yah kok baru sekarang kak?”. Saya hanya tersenyum dan mengatakan bahwa baru tahun ini saya kembali menetap di tanah kelahiran setelah cukup lama mencari ilmu dan pengalaman di provinsi yang dikenal sebagai Sai Bumi Ruwa Jurai.

Terinspirasi dulu pernah belajar dan ada ruang diskusi dengan teman-teman penggiat persma di Lampung, namanya adalah Bengkel Jurnalisme. Kini para penggiat bengkel ini masih tetap eksis dan masih aktif. Ada sekolah jurnalistik yang dimentori oleh para jurnalis surat kabar lokal. Sekolah jurnalistik ini hanya sebutan saja. Tidak sama dan setara seperti sekolah-sekolah formal pada umumnya yang hingga sampai jenjang tertentu dapat sertifikat atau ijazah. Sekali lagi bukan seperti itu. Mereka sangat antusias belajar dan diskusi tentang jurnalistik, dari mulai membahas peristiwa yang kini sedang hangat sampai membedah jurnalisme secara lebih luas lagi.

Ada harapan kedepannya almamater sekolah saya ini akan membuka ruang seluas-luasnya seluruh siswa-siswi yang ingin belajar benyak tentang jurnalistik. Ya sebut saja Bengkel Jurnalisme anak SMA. Jadi tidak hanya diperuntukkan bagi penggiat ekskul Majalah Dimensi saja. Prinsipnya semua siswa boleh ikut berpartisipasi. Semoga akan terwujud nantinya. Amin.

*ilustrasi foto: kursus jurnalistik Fakultas persiapan Kedokteran Unila, Sabtu (24/5/2008).

4 Comments

Filed under media massa, pelatihan

4 responses to “Keceriaan Saling Berbagi dan Diskusi Jurnalisme

  1. hohoho… ayo giat menulis dan menjadi citizen journalism… you can do it !

  2. waaaah RuaRRrrr biasa dedikasi anda!

  3. jrit, baru ngeh tentang foto itu. ternyato cuma ilustrasi toh, di fk unila. tadinyo aku pikir ruang kelas smunli la pecak ruang kuliah😛

    anyway, nice shot, om. pengalaman di teknokra itu sungguh berharga untuk tidak dibagikan🙂 *asal jangan cerito soal begadangan di pkm yang wc-nyo dak terurus itu ye*😛

  4. tary Sonora

    hmmm…jalan ke sini jadi inget template blog ku yg kemarin, oyah salam kenal ya, ini kunjungan pertamaku ke blogmu. ngomongin dunia jurnalistik, aku juga bergelut di bidang itu. menarik loh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s