Kuasa Media Massa

JAUH sebelum mengenal internet sebagai salah satu media massa, kita mengandalkan media massa cetak, seperti koran, majalah dan tabloid sebagai media informasi yang mampu menjangkau publik secara luas. Dennis Mcquail (1996:53) membagi sejumlah peranan media massa sebagai berikut:

Pertama, jendela pengalaman yang meluaskan pandangan kita dan memungkinkan kita mampu memahami apa yang terjadi di sekitar kita, tanpa campur tangan pihak lain atau sikap memihak.

Kedua, juru bahasa yang menjelaskan dan memberi makna terhdap peristiwa atau hal lain yang terpisah dan kurang jelas.

Ketiga, pembawa atau pengantar informasi dan pendapat.

Keempat, jaringan interaktif yang menghubungkan komunikator dengan komunikan melalui berbagai macam umpan balik.

Kelima, papan penunjuk jalan yang menunjukkan arah, memberikan bimbingan atau instruksi.

Keenam, penyaring yang memilih bagian pengalaman yang perlu diberikan perhatian khusus dan menyisihkan aspek pengalaman lainnya, baik secara sadar dan sistematis maupun tidak.

Ketujuh, cermin yang memantulkan citra masyarakat terhadap masyarakat itu sendiri, biasanya pantulan citra itu mengalami perubahan karena adanya penonjolan terhadap segi yang ingin dilihat oleh para anggota masyarakat, atau sering pula segi yang ingin mereka hakimi atau cela.

Kedelapan, tirai atau penutup yang menutupi kebenaran demi pendapaian tujuan propaganda atau pelarian suatu kenyataan.

Dari peran-peran tersebut, sesungguhnya media massa memiliki kuasa terhadap publik di era reformasi dimana pers sangat terbuka sejak runtuhnya Orde Baru pada 1998 lalu. Media massa kemudian turut diramaikan dengan kehadiran internet (media online,red) yang hampir setiap menit atau bahkan sepersekian menit hadir mengisi informasi ke dalam dunia online.

Ruang publik yang biasanya disuguhi media cetak; koran, tabloid, dan majalah, selain itu kehadiran media elektronik; televisi dan radio pun demikian dengan pesat berkembang. Dulu yang kita sering didominasi televisi swasta yang bermarkas di Jakarta, kini hampir beberapa daerah memiliki dan menyiarkan siaran televisinya. Mereka memiliki khas dan kearifan lokal yang dapat diterima oleh masyarakatnya dibandingkan rezim televisi swasta dari Jakarta yang mementingkan peringkat/rating tayangnya daripada aspek edukasinya.

Pilihannya sekarang adalah publik sudah harus belajar menyeleksi terpaan media massa yang begitu derasnya bak air mengalir. Jika masyarakat kita sudah cerdas demonstrasi dan mengkritik pemerintah tanpa ada lagi kekerasan, artinya publik sudah mulai cerdas mana media massa yang mampu mengawal untuk kepentingan masyarakat agar terwujud keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

5 Comments

Filed under media massa, opini, teknologi informasi, televisi

5 responses to “Kuasa Media Massa

  1. massa yang menguasai media atau media yang menguasai massa ?

  2. @Om Vic: tergantung (apa yang digantung), om😛

    Namun sepertinya media yang menguasai massa menunjukkan realita yang terjadi saat ini.

    Ada dua teori tentang relasi media dan massa. Yang pertama Teori Agenda Setting; media menyortir dan menentukan apa yang dianggap penting untuk diketahui massa. Atau dengan kata lain, media memiliki kuasa menentukan prioritas informasi. Dan yang kedua adalah Teori Peluru; media ‘menembaki’ massa dengan peluru informasi. Menurut teori ini, massa diumpamakan sebagai pihak yang native dalam menerima informasi.

  3. hihihihii, jadi tidak enak hati -_____-

  4. betoel sekali, bahkan sekarang para blogger pun bisa disebut “media masa” karena sama2 menyampaikan informasi yg baru dan orisinil…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s