Pulau Ayin

“Itu Pulau Ayin,”kata salah satu rombongan kami sambil menunjuk ke pulau yang dimaksudnya.

Arthalita Suryani atau lebih akrab disebut Ayin, seperti belakangan ini diberitakan di berbagai media cetak dan elektronik karena ‘tersandung’ kasus suap bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Saya baru tahu pulau itu dari bapak-bapak yang ikut dalam rombongan naik kapal motor. Saya juga baru tahu bahwa Ayin adalah seorang pengusaha asal Lampung. Namun, sayangnya nasibnya kini sedang menunggu vonis Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Jakarta.

Saya ikut dalam rombongan bapak-bapak dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pesawaran, Lampung. Jika saya tak salah hitung, ada sekitar 15 orang termasuk saya yang ikut dalam rombongan itu. Kebetulan saya diajak dosen saya, Endang L.Widiastuti,Ph.D, Sabtu-Minggu lalu (12-13/7) melihat ke beberapa pulau yang masuk di dalam Kabupaten Pesawaran. Ia adalah dosen FMIPA Biologi Unila. Saya biasa menyapanya Ibu Endang. Meskipun badannya besar, tapi ia lincah. Bahkan Bu Endang bisa menyelam (diving,red).

Untuk mencapai Pulau Lelangga, rombongan kami berangkat naik kapal motor dari Darmaga Ketapang, Padang Cermin, Lampung Selatan. Kira-kira 30 menit perjalanan naik kapal motor untuk mencapai ke Pulau Ayin itu.

Pulau Ayin adalah salah satu pulau yang kami datangi. Nama sebenarnya adalah Pulau Lelangga. Tapi, orang lebih akrab menyebutnya Pulau Ayin daripada Pulau Lelangga. Karena popularitas nama Ayin meningkat setelah disebut-sebut di media massa. Di atas pulau itu, ada dua villa besar. Tampak mewah. Ada pula sebuah jet motor terparkir di atas sana. Di pinggir pantai, dibuatkan jaring penutup sepanjang lebih dari 20 meter. Di dalamnya ada banyak jenis ikan laut. Ikan hiu pun ada di dalam jaring itu. Waktu itu saya tak turun ke pulau itu. Saya justru turun ke laut. Mencoba-coba menyelam dengan mask dan snorkle.

Air laut terasa dingin ketika saya turun dari kapal motor. berputar-putar sambil memandangi dasar laut. Cukup dalam meskipun tak jauh dari bibir pantai pulau. Saya tak sampai ke dasar laut karena tak berani. Jadi hanya berkeliling di seputar kapal motor yang berlabuh agak jauh dari pinggir pulau itu.

Ketika Kepala Dinas DKP beserta rombongan hendak masuk melihat-lihat lebih dalam sekitar Pulau Lelangga, ada beberapa penjaga di sana tidak mengizinkan masuk. “Orang pemerintahan saja tidak boleh masuk, gimana ini?”keluh Affrudin, Kepala Dinas DKP Kabupaten Pesawaran setelah menemui penjaga Pulau Ayin itu.

Tentang kepemilikan pulau, Affrudin menegaskan bahwa tidak bisa seseorang memiliki pulau karena hal tersebut ilegal. “Adapun Pulau Lelangga yang disebut-sebut milik Arthalita Suryani alias Ayin sebenarnya tidak diperbolehkan karena melanggar UU No 27 Tahun 2007,”jelas Affrudin. UU No 27 Tahun 2007 adalah UU tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Kabarnya banyak pejabat yang dekat dengan Ayin sebelum ia terganjal kasus BLBI, seringkali villa di atas pulau itu menjadi tempat rekreasi mereka. Hamparan laut yang luas dan biru memang mengundang kesejukan angin yang bertiup. Entah berapa banyak pulau lain di Indonesia ini dikuasai para pejabat dan pengusaha kaya macam Ayin? Lampung ini kaya dengan pulau-pulau kecil yang menarik menjadi wisata bahari. Seharusnya tak dikembangkan secara perseorangan, melainkan dikelola sebagai wisata untuk masyarakat.

Kalau Anda masih ingat, ada Pulau Panjang dan Meriam Besar di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat dilego di internet. Menyedihkan sekali sampai-sampai pulau saja bisa dijual. Segalanya karena uang dan uang yang menggiurkan. Ya Indonesiaku😦

11 Comments

Filed under lampung, laut, pantai, traveling, wisata

11 responses to “Pulau Ayin

  1. Indah

    PerRtamaXx..
    wah, diving enak ga?? belum pernah nyoba, halahh..kapan gitu!
    hmm… emang enak ya jadi orang kaya, tapi apa enaknya jadi orang kaya tapi juga kaya fitnah hehehe entah itu fitnah atau justru yang sebenarnya yang pasti makin besar kekuatan seseorang makin besar pula tanggung jawab yang ia emban.

  2. wartawan tempo pernah dicegat sama pengawalnya juga kan pas mencoba masuk ke pulau itu.

  3. @Indah: diving enak loh Indah! bisa lihat dasar laut yang bagus. pengen kesana lagi suatu saat nanti🙂

    @itikkecil: wah..aku malah belum tahu ada wartawan Tempo pernah dicegat waktu masuk ke pulau itu. kita aja dicegat gak boleh masuk ke dalam waktu itu.

  4. Eh..rik..Liat Pulau Pinguin dak….hehehhee

  5. Au'

    Oalah uenak e jalan2 teyuss😛

  6. Pingback: Budidaya Ikan Kerapu di Teluk Lampung « The World of Eriek’s Written

  7. hemmm enak nya bisa ke pulau kecil… serasa kayak columbuss **gak nyambung dech😛 salam kenal ya mas nya

  8. PERJALANAN
    –joko sutrisno

    kian hari mengendap malam,
    lihatlah, di ujung sana!
    panjang jalan terbentang,
    apa harus ku tempuh langitku?

    rintang tegak berbunga merah
    mengabur sudah,
    patahkan tubuh ini,
    biar semua jelas tanpa warna,

    titik titik awal!
    ya hanya itu saja,
    tidak lebih,

    kesempatan,
    di mana?
    lelah aku rapuh,
    rindu lapang di tinggal kenang,
    apa harus ku tempuh langitku?

    (jakarta, 29 Juli 2008)

  9. wah.,… alamnya indah sekali….😀

  10. Aan

    Ehm, home sweet home.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s