Produksi Minyak di Indonesia Menurun

Sekarang ini sekitar 95% lapangan minyak di Indonesia sudah masuk kategori mature. Artinya, tingkat produksinya sudah menurun dibandingkan saat berada di masa puncak. Bisanya, suatu sumur hanya berproduksi di masa puncak selama lima tahunan. Setelah itu menurun secara cepat dan kemudian penurunannya melambat.

Demikian pernyataan tersebut dikatakan Hilmi Panigoro, Chairman Medco Energi Internasional Tbk, seperti dikutip dari BusinessWeek Indonesia Edisi 18 Juni 2008. “Di Indonesia, kebanyakan lapangan minyak sudah berumur di atas 15 tahun. Jadi, produksinya sudah rendah. Untuk sumur-sumur seperti ini, persoalannya bukan menaikkan produksi melainkan membuat tingkat penurunan melandai,”kata Hilmi.

Menurut Hilmi, upaya ini dinamakan secondary recovery. Tetapi, untuk melakukan itu diperlukan biaya tambahan karena, misalnya, kita mesti memasukkan bahan kimia guna menjaga tingkat produksi. Yang juga perlu dipahami, meski tingkat produksi turun, ongkos produksi tetap. Sebab, di sumur tua ataupun muda, volume yang diangkat sama saja. Tetapi, kadar minyaknya turun sementara kadar airnya bertambah. Begitulah siklus hidup sumur minyak. Ini bisa dianalogikan sebagai manusia yang makin tua semakin membutuhkan perawatan, vitamin, dan sebagainya.

Jadi, kita harus membuka sumur baru?
Ya. Kita harus menemukan ladang-ladang muda baru. Harus dilakukan eksplorasi. Setiap tahun, perusahaan-perusaha an minyak telah menganggarkan dana yang besar untuk eksplorasi. Tetapi, ke mana perginya investasi itu? Mereka pergi ke tempat dengan faktor geologi dan ekonomi paling menarik. Sayangnya , Indonesia bukan tempat terbaik untuk investasi eksplorasi.

Survei terbaru yang dilakukan PricewaterhouseCoop ers (PwC) menunjukkan para pelaku industri perminyakan yang beroperasi di Indonesia sebetulnya berniat meningkatkan belanja modal untuk mencari cadangan baru. Namun, mereka mengeluhkan sejumlah masalah fiskal, hukum, dan birokrasi sebagai penghambat investasi.

Survei PwC menilai, pelaku industri minyak menganggap faktor geologi Indonesia masih menarik. Memang, faktor geologinya masih menarik. Tetapi, bagaimana dengan faktor lainnya? Saya beri satu contoh. Medco memiliki konsesi di Teluk Meksiko. “Di sana , kami hanya membayar royalti sebesar 16,7%. That’s it! Selebihnya untuk kami semua. Para pelaku industri pesimistis akan terjadi perbaikan iklim investasi. Akibatnya, kita akan melihat produksi minyak terus menurun. I can guarantee,”kata Hilmi.

“Ini di Teluk Meksiko bagian mana? Amerika Serikat atau Venezuela? Ini di bagian Amerika Serikat. Padahal, kita tahu, faktor stabilitas politik di negara itu masih yang paling menarik. Jadi, geologinya menarik, political stability-nya menarik, dan insentif fiskalnya bagus sekali. Nah, kalau Anda menjadi perusahaan minyak besar dan memiliki dana $ 1 miliar untuk eksplorasi, lokasi mana yang akan dipilih? Karena itu, menurut saya, pemerintah mesti memberi insentif yang secara signifikan lebih bagus,”jelas Hilmi.

Sebagai gambaran, insentif di wilayah Afrika Barat, seperti Angola , sudah lebih bagus dari kita. Di Yaman juga demikian. Yang juga harus diingat, potensi minyak terbesar Indonesia saat ini ada di wilayah Timur. Kita tahu, di sana infrastrukturnya belum established dan lautnya sangat dalam. Eksplorasi satu sumur bisa menelan $40-50 juta. Angka seperti itu bukan bagian perusahaan sekelas Medco. Itu bagiannya the major players.

Bukankah ada Cepu?
Itu tidak ada artinya.

Bukankah cadangannya besar?
Sekarang ini Indonesia memproduksi sekitar 900.000 barel per hari. Angka itu akan turun sekitar 5% per tahun. Berapa tahun diperlukan untuk mengembangkan Cepu hingga berproduksi? Tiga atau empat tahun? Karena produksi yang lain turun dengan kecepatan 5% per tahun, kehadiran Cepu hanya cukup untuk menahan supaya tidak turun lebih tajam. “Ya, nilainya mungkin akan naik sedikit dan kemudian turun lagi. Agar produksi Indonesia naik secara sustainable dalam jangka panjang, harus ada beberapa Cepu. Setiap tahun harus ada Cepu baru,”tegas Hilmi.

Mengapa pemerintah tak berstrategi melakukan eksplorasi sendiri?
Contohnya ada. Di Rusia, mereka mengajak Schlumberger dengan bayaran berupa fee yang tetap, bukan bagi
hasil. Itu berarti pemerintah Rusia mau mengambil risiko. Kalau gagal, ternyata sumurnya tak menghasilkan, mereka menanggung 100% sementara Schlumberger harus tetap dibayar. Tetapi, inilah seni dari eksplorasi. Ada unsur risiko.

Dalam sistem pembiayaan oleh investor, kalau sukses, diberlakukan sistem bagi hasil. Kalau gagal, seluruhnya ditanggung investor. Tentunya, pemerintah bisa mengambil pilihan seperti di Rusia. Besar uang subsidi yang dialihkan menjadi bantuan langsung tunai kira-kira Rp14 triliun. Kalaulah kita ambil Rp2 triliun dari uang itu untuk eksplorasi, jumlahnya sudah banyak sekali. Kalau di darat, paling tidak ia bisa mengebor 10 sumur di tempat yang sulit. Kalau di laut dalam, bisa empat sumur.

Bagaimana dengan probabilitas keberhasilannya?
Ya, itulah persoalannya. Apakah pemerintah mau mengambil risiko? Ini kan soal hilang-hilangan. Sebagai gambaran, di Myanmar kami mengebor tiga sumur dan habis uang sekitar $20 juta. Ternyata, semua sumur itu tak menghasilkan. Di Kazakhstan, kami pernah melakukan akuisisi perusahaan minyak. Ternyata, kami salah menghitung political risk dan perusahaannya terpaksa dilepas. Kami rugi $50 juta. Tetapi, di Libia, kami mengebor 10 sumur dan 7 menghasilkan. Secara umum, tingkat keberhasilan Medco kira-kira 30%, dari tiga sumur yang dibor, satu berhasil.

Ada pandangan, perusahaan minyak mengambil keuntungan yang terlalu banyak. Pernahkah pemerintah memberi tahu publik berapa besar pemasukan yang disumbangkan industri minyak kepada negara?
Tahun lalu, dari bisnis minyak, Medco mendapat keuntungan $135 juta. Berapa yang kami setor ke pemerintah? Sekitar $1 miliar. Bayangkan! Itu hampir sembilan kali keuntungan kami. Soal seperti ini mestinya diketahui oleh publik.

Menyangkut harga minyak dunia yang melambung gila-gilaan, apa yang sebetulnya terjadi?
Ini disebabkan ketidakpastian. Seandainya hari ini pasar merasa comfortable, yakin supply minyak akan stabil dalam 5, 10, 15, atau 20 tahun ke depan, orang tidak akan panik. Mereka tidak akan melakukan panic buying. Saat ini tidak ada kepastian bahwa supply akan ada terus. Maka, orang mulai menambah stok cadangannya.

Apa penyebab ketidakpastian ini?
Ada banyak masalah. Yang jelas, dulu, saat harga minyak $30-$40 per barel, negara-negara OPEC masih punya kapasitas lebih. Saat harga minyak naik, ia bisa menggelontorkan 1 juta barel tambahan ke pasar. Harga minyak kembali turun. Nah, hari ini, kapasitas produksi OPEC sudah maksimum.

Termasuk Arab Saudi yang memiliki cadangan terbesar di dunia?
Ya, termasuk Arab Saudi. Kalau mau menaikkan produksi, mereka harus investasi dari sekarang.

Apakah karena itu OPEC tak mau menaikkan produksi?
Bukan tidak mau. Tetapi, mereka tidak bisa. Produksi OPEC sudah maksimum. Sebagai contoh, produksi Indonesia saat ini sudah 400.000 barel di bawah kuota. Tidak ada negara yang menutup kekurangan itu.

Dengan dana demikian melimpah di wilayah Teluk, mengapa para syekh itu tak berinvestasi dalam eksplorasi?
Eksplorasi selalu berisiko. Orang-orang itu bukan jenis yang senang mengambil risiko. Mereka lebih senang memasukkan uangnya ke sektor properti. Kalaupun mau investasi di sektor minyak, mereka memilih membeli perusahaan yang sudah ada dan tidak menambah kapasitas. Mereka justru membeli cadangan.

*Photo: suasana malam hari di sebuah SPBU di Jalan Zainal Abidin Pagar Alam, Bandarlampung (by: Eriek)

12 Comments

Filed under diskusi

12 responses to “Produksi Minyak di Indonesia Menurun

  1. Au'

    Just info dan saya sampe sekarang masih agak heran dengan kenyataan yg terjadi ini : Apakah anda dan kalian tahu bahwa minyak tanah itu berasal dari avtur yg kita impor dari negara lain? aneh bukan?

    Sumbernya salah satu teman teman yg bekerja di BUMN yg bergerak di bidang perminyakan😀

  2. waduhhhh klo habis gimana yah?

  3. Hiyaaa… Kalo minyak bumi habis, siap2 punya betis gede. Kemana2 naik sepeda dan jalan kaki. Ahahahahaha… *khayalan ngaco*

  4. Uhm… kayak lagi dijajah lagi…

  5. Jaaah, bakal tutup depot minyak tanah saia..😦

  6. TIM's

    bukankah minyak itu salah satu energi yang tidak dapat diperbaharui/ditambah?

    cadangan minyak dimana-mana memang segitu doang. kalo di suatu negara cadangan minyak cuma secangkir, ya itu berarti cuma secangkir itulah yang bisa dieksplorasi. kita tidak bisa mengharapkan untuk mendapatkan minyak menjadi dua cangkir misalnya.

    permasalahan terhadap produksi minyak dunia yang menurun memang kompleks. banyak penyebabnya. salah duanya adalah menurunnya produksi minyak di negara2 anggota OPEC dan tidak/belum ditemukannya sumur2 minyak yang baru.

    cmiiw miaw.😀

  7. Hilmy ada benarnya ada juga salahnya. Mau nggak mau ada unsur kepentingan negara, demi rakyat luas. Karena harus ada prinsip keadilan, bukan seperti Russia yang hanya melahirkan oligarki oligarki segelintir penguasa baru karena minyak dan gas. Kita juga bisa seperti Venezuela yang bisa menasionalisasi perusahaan minyak , tentu dengan cara tertentu.

  8. Saya pernah baca keengganan para investor asing untuk membuka ladang baru adalah karena pemerintah sudah meminta bayaran dari mereka ketika ladang itu belum jadi sekalipun🙂

    Btw, saya sedang tertarik dengan wawancara TEMPO dengan Menristek Kusmayanto K di edisi terbaru soal krisis energi ini.

    Salam kenal, Bung!

  9. hmm sy agak lost nih itu tanyajawab itu antara kamu sebagai nara sumber atau orang lain.

    dan makasih soal info ini : “Tetapi, kadar minyaknya turun sementara kadar airnya bertambah. Begitulah siklus hidup sumur minyak.” sy jadi ngerti sedikit mengapa biaya produksi tetep sama.

    dan ini juga yg sy ngak ngerti : Bukankah ada Cepu?
    Itu tidak ada artinya….maksud jawaban itu apa yah

    ps : kalau dijawab tolong sekalian email aja ke saya krn sy ngak rutin kemari (itu jug bila ngak ngerepotin)

  10. heheh kayak kenal pertamina itu….

  11. HaSmi

    Makasih buat infony . . .
    Btw blh saya minta artikel . . .

    “Hilmi Panigoro, Chairman Medco Energi Internasional Tbk, dari BusinessWeek Indonesia Edisi 18 Juni 2008.”

    Info tsb mw saya jadikan referensi d Skripsi saya
    Atas infony tks . .

    Kirim k email asap . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s