Ditilang Polisi

ditilang polisi

Eh, bukan saya loh yang ditilang polisi. Sumpah bukan saya. Bener kok, bukan saya. Jangan paksa saya untuk mengatakannya. Halah….halah….*lebai🙂

Jadi ceritanya begini. Di saat matahari di atas kepala pada hari Kamis siang kemarin (17/4), saya dan Gery pergi ke Radio Oz 94,4 FM Bandarlampung. Tujuannya menyerahkan proposal permohonan agar dapat berpartisipasi di acara talkshow di radio itu hari Sabtu besok (19/04) pagi. Di tengah jalan kami berdua bersepeda motor. Gery membonceng saya naik di atas sepeda motornya.

Tiba di persimpangan tiga Way Halim. Saat itu lampu merah menyala. Motor kami kebetulan berada di garis depan lampu merah. Dari arah berlawanan, sebuah motor bebek memutar arah dari depan lampu merah. Padahal saat itu dari arah berlawanan beberapa kendaraan bermotor berhenti menunggu lampu hijau menyala.

Dengan percaya dirinya, pengendara motor tadi memutar balik arah. Secara tidak sadar tiba-tiba muncul seorang polisi berseragam lengkap dari tepi jalan. Polisi tadi berusaha menyetop pengendara motor yang membonceng seorang perempuan. Tampaknya, sang pengendara berusaha menghindari polisi itu. Tak mau kehilangan tangkapannya, polisi itu tetap berusaha menghalanginya hingga si pengendara sepeda motor tadi tunduk dan menepikan kendaraannya. Sepertinya sang pengendara motor itu harus pasrah kena tilang pak polisi. Jelas-jelas ada rambu-rambu tidak boleh memutar arah, eh masih juga memutar.

Pengalaman yang sama
Saya jadi teringat ketika di Depok. Waktu itu saya mengendarai sepeda motor saya dari arah Jakarta menuju Depok. Ketika saya hendak ingin memutar arah di Jalan Margonda (ada rambu-rambu dilarang memutar arah,red), tiba-tiba saya langsung dijegat polisi yang telah menunggu di tepi jalan. Sang polisi langsung menyuruh saya agar berhenti menepikan motor saya. Rasanya berdebar-debar jantung ketika saya jelas-jelas terbukti melanggar peraturan lalu lintas (memutar arah,red).

Seperti biasa ditanya SIM dan STNK sepeda motor. Plat nomor BG. Saya ditanya pak polisi hendak kemana saya. Saya cuma bilang mau ke UI Depok. Waktu itu sudah malam kira-kira pukul 8. Jadi maklum saja ada polisi di tepi jalan, saya tak sempat melihatnya. Tahu-tahu saja ia muncul tiba-tiba. Saya sempat berpikir, kalau orang yang jarang lewat seperti saya dan mencoba-coba memutar arah, pasti nasibnya seperti saya.

Akhirnya saya tak kuasa harus mengeluarkan uang sebesar Rp20 ribu. Bukan selembar uang Rp 20ribu yang saya punya di kantong celana saya. Tapi, berlembar-lembar uang ribuan. Saya bilang ke pak polisi itu. “Pak, maaf nih ribuan semua,”Saya sambil menyerahkan uang. “Lipat semuanya,”kata pak polisi sambil memalingkan muka ke arah jalan.

Saya benar-benar malu. Saya harus membayar sejumlah uang tersebut untuk menembus kesalahan/pelanggaran lalu lintas yang saya lakukan. Bukan ditilang dan diberi secarik kertas tilang. Ini saya lakukan benar-benar untuk menghindari urusan yang panjang kalau STNK saya ditahan dan harus mengambil di kantor polisi terdekat. Saya malu. Saya akui bahwa saya salah. Tapi, justru jadi begini cara saya agar terlepas dari kesalahan saya tadi.

Waktu di Lampung, saya pernah menggunakan kartu pers mahasiswa yang digantung di leher saya ketika berangkat mengendarai sepeda motor. Ketika ada razia kendaraan bermotor, biasanya yang kena adalah sepeda motor. Saya termasuk salah satunya yang terkena razia. Waktu itu saya belum punya SIM C (untuk mengendarai sepeda motor,red). Setelah menunjukkan STNK motor, lalu saya ditanya SIM saya oleh pak polisi. Saya bilang tak ada. Kemudian saya menunjukkan kartu pers mahasiswa yang melekat dari balik jaket saya. Tak jadi ditilang, lalu saya dipersilahkan jalan kembali.

Paman Tyo cerita hal serupa tentang ‘kesaktian’ kartu pers di jalanan terutama bagi jurnalis yang mengendarai sepeda motor. Saking ‘sakti’ digunakan di jalanan, pun juga digunakan untuk membuat SIM di kantor polisi. Istilah sederhananya adalah diberi prioritas kemudahan.

Bahkan, ada senior saya yang sekarang sudah menjadi jurnalis dan tinggal di ibukota Jakarta, pernah mengalami urusan ditilang polisi. Waktu itu ia juga belum punya SIM C. Tenang. Ada sebuah kartu ‘sakti’ dari medianya. Cukup ditunjukkan kepada pak polisi. Setelah itu selesai. Jalan lagi. Benar-benar ‘sakti’ kartu itu. Sampai-sampai saya merenungi sendiri, alangkah tidak adilnya begitu terus. Bagaimana ketika razia, lalu si polisi tak mau tahu dipertontonkan kartu ‘sakti’ itu jika benar-benar terbukti kena tilang? Entahlah.

Ada kasus serupa di tempat lain. Kalau Anda masih ingat, kasus seorang polisi menerima suap dari seorang wisatawan asing di Bali yang direkam dengan video dan termuat di situs Youtube, sempat membuat para petinggi kepolisian ‘kebakaran jenggot’. Ada yang tidak percaya bahwa itu rekayasa. Tapi, ada pula yang percaya saja itu oknum polisi. Tidak bisa mewakili seluruh polisi berperilaku begitu (menerima suap,red).

Ya, tampaknya mulai dari kita sendiri yang hidup sebagai seorang sipil/masyarakat harus taat hukum. Begitu pula aparat penegak hukum pun berani menolak suap dari pelanggarnya. Bagaimana dengan Anda? Pernah mengalami ditilang polisi?

22 Comments

Filed under jakarta, kendaraan, lalu lintas

22 responses to “Ditilang Polisi

  1. trauma pernah ditilang..

    tapi yang namanya polisi pasti kalo di suap dia terima-terima aja..

  2. Bukan gue yang kena tilang tapi si tukang ojek. Ditilangnya sama tempatnya waktu lo ditilang di Depok. Waktu itu si tukang ojek kena 50rb. Gila tuh polisi. Gak ada rasa kasian sekali. Tukang ojek aja diembat.

  3. TIM's

    wah asik asik..saya bakal dapet 10 jeti nih kerana melihat Ncik Eriek mencoba menyuap pak pulisi…

    asik-asik.. makan-makan!😀

  4. pernah kak, pernah.
    klo di palembang, enak, masi murah <20rb.an
    klo di bandung, enak bisa nawar :p
    nah klo di jakarta…kejam oh kejam nya dunia
    hehe

  5. kabarnya form biru gak ada lagi yah?

  6. saya juga pernah ditilang “wak pici” gara-gara helm saya terbang

  7. @ridu: ah..yang bener du? ada polisi yang baca blog ini gak ya? *nyumput di belakang tembok😀

    @-kimi-: huuuaaah..tukang ojek aja diembat? nah…justru itu kan tukang ojek banyak duitnya. jadi, kudu setor sama pak polisi. hehe…

    @Tims: duuh…ketahuan deh nyuap. jadi, mo nangkep gua? ayoo…🙂

    @albasit: pernah keno tilang jugo dul? wah..wah…pasti dak pake’ helm atau dak punyo SIM C. ahak-ahak :))

    @rd Limosin: ngga tau nih. ada yang tahu gak ya? yang pernah kena tilang akhir-akhir ini siapa?

    @cipluq: huehehe….kok bisa helm-nya terbang? helm-nya punya sayap ya Ran? hihihi…..*geleng-geleng

  8. ivn

    belom baco….
    tapi inti nyo dak usah ngajak eriek bemotor..😀

  9. yahhh namanya juga endonesah!😀

  10. kasihan istri istri polisi,
    tiap malam harus menyeterika duit duit yang lecek, dilipat lipat itu

  11. kirain cuma di palembang aja polisi yang macem itu

  12. @ivn: loh kok gitu van? ndak ngajak aku naek motor? sekarang aku sudah punya SIM C loh. *bangga🙂

    @Paman Tyo: kalau kata Mas Andreas, Indo Pahit.

    @Iman Brotoseno: loh seteroran tiap malem toh Mas Iman? saya ndak para istri mereka punya kerjaan baru begituan. Hehe..

    @ayahshiva: yeh..ketahuan ndak pernah ditilang di luat Palembang ya ri? silahkan coba deh😛

  13. erik pernah kena tilang ya?😆

  14. dra

    kasih aja duit 20rb, langsung nyengir tuch polisi…..
    sebelum dikasih duit sumpahin dulu biar gak berkah, dan gak iklas kitanya.

  15. puttu

    uupppzzz
    gpp lahhh …
    biar polisi cepat kaya …
    hehehe
    biar mrasakan juga uang2 korup dr negara …
    http://www.puttupolice@yahoo.co.id

  16. preciousmomentt

    dari sananya mah polisi nyari ceperan kayak begono?
    apa karena gajinya ga segede menteri yo?
    ( sambil garuk-garuk kepala )

  17. yogi

    PERNAH DITILANG, TAPI TERSELAMATKAN OLEH KARTU SAKTI JUGA.

    JELAS KALO DI SUAP POLISINYA BUKA MULUT DONG APA LAGI POLISI INDONESIAKAN MASIH LAPAR, MANA MODAL MASUK JADI POLISI GEDE, TERUS GAJI YANG DI TERIMA WAKTU JADI POLISI SEDIKIT. KASIHAN MEREKA (POLISI) YANG TERIMA SUAP, ANTARA PERUT DAN REPUTASI, KEBANYAKAN ORANG PILIH PERUT SIH..!

  18. themulya

    terus terang saya belum pernah ditilang dari kecil sampai sekarang.

  19. gue sih pernah ditilang tapi.cukup dengan 20 ribu aja sih udah cukup. kan undang2 nya bisa dibeli.
    hehehe kalo bisa sih pak polisi jgan mau disuap malu maluin aja. emank gajix masih kurang!!!!!!!!!

  20. judiman

    sekedar info aja, menyuap ato disuap.. sama dosanya bro..

  21. okip

    hai semua … qu pngn b`bgi crta ni … wktu tugh qu jga p`nh kna tilang … ni p`tma x qu kna tilang .mang qu yg slah ,krna melanggar lambu2 llu lntas .heuuu … mskipun yg p`tama x klinya ,tp qu gg mrsa deg-degan tugh .. mlh qu t`snyum saat d tnya ma pk polisi tugh. dn akhrnya dia pun mmbri 2 plhan ..hkhkhkk … psti pngn mkn tugh polisi klo dagh blang ‘pngn d selesaikn dsni ???? ‘ huffttt …. saking qu t`gesah2 ia qu ikutn aj pngnnya dia, … dia mnta 35rb ..uuuu qu adu harga aj .. dn jdnya dia mu tugh d ksh 25rb .p`tmnya sh ! saat d tnya STNK tugh !! qu mlh ngluarinn uang 100rb …ia jd pak polisi nya mnt hrga tnggi ..dh tau tugh bknn uang saya … ia sdh qu ggmu pnjng lbar .. qu mrenung aj . mang dagh slh saya ….. heuuuu

    trims pk polisi … sya ingn semua polisi b`skap adill … hidup APARAT … saya menyesal pak polisi🙂

  22. Hamonangan Pasaribu

    Gw juga seorang wartawan lepas. .
    polisi gak brani tuh tilang motor gw yang kayak odong odong. .gak pakai spion. .yang penting tulisan “PERS”-nya keliatan gede banget. .polisi juga ngeri liat tulisannya. .haha apalagi kartu PERS gw slalu keliatan. .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s