Surat Terbuka: Lagi, Malaysia Tak Henti Klaim Budaya Indonesia

Saudaraku Malaysia, mengapa saudara pemerintah Malaysia mengklaim Reog Ponorogo sebagai milik Malaysia? Ini permintaan saya kepada warga atau pemerintah Malaysia agar menjawab pertanyaan saya ini secara objektif serta dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Saya sebagai warga negara Indonesia, tentu sangat sedih dan menyayangkan pemerintah Malaysia mengklaim Reog Ponogoro adalah milik Malaysia.

Kamis (22/11) kemarin, saya kaget setelah membaca sebuah berita yang berjudul “Reog Dijiplak Malaysia, Pemkab Ponorogo Didesak Bertindak” dari situs berita Detikcom. Saya jadi heran dengan sikap Malaysia. Sebelumnya pemerintah Malaysia mengklaim lagu “Rasa Sayange” sebagai lagu milik mereka untuk kampanye pariwisata “Malaysia Truly Asia”.

Namun, setelah mereka gagal klaim lagu “Rasa Sayange” adalah milik Malaysia, kini mereka klaim Reog Ponorogo. Dari kata setelah Reog disambung dengan Ponorogo asli milik masyarakat Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia. Tarian Barongan yang dimuat oleh website Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia tampak seperti Reog Ponorogo. Bentuknya jelas-jelas sama dengan Reog Ponorogo. Hanya saja Malaysia menyebutnya Tarian Barongan.

Saudaraku Malaysia, Reog Ponorogo yang ditiru Malaysia menjadi Tarian Barongan berasal dari Kota Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia. Seorang sesepuh kesenian Reog, seperti dikutip dari Media Indonesia, Kemun alias Molok, berusia 84 tahun, mengatakan Reog sejak masa embahnya Kemun bernama Reog Ponorogo. Tidak ada Reog Malaysia atau reog lain.

Cerita Reog Ponorogo, seperti dikutip dari Kompas, telah ada dan mulai berkembang sejak tahun 900 saka. Tepatnya, pada masa kerajaan Kediri. Menurut Sesepuh Kesenian Reog Ponorogo yang juga sebagai pengamat Reog Ponorogo Tobroni, pada masa itu, Prabu Klono Sewandono dari kerajaan Bantarangin atau Wengker yang merupakan cikal bakal Kabupaten Ponorogo, berangkat menuju Daha kerajaan Kediri untuk melamar putri Songgolangit.

Namun ditengah perjalanan rombongan Prabu Klono Sewandono dihadang makhluk yang berwujud kepala harimau (Kepala Barong) yang berhiaskan burung merak (dadak merak) di atasnya. Saat itu, kepala barong dapat dikalahkan dan kemudian menjadi pengikutnya. Namun, ketika melamar sang putri raja Songgolangit, sang putri bersedia dinikahi dengan meminta mas kawin berupa sebuah kesenian yang belum ada di dunia. Atas permintaan tersebut, akhirnya lahirlah kesenian reog, yang merupakan perpaduan antara musik seruling dengan gending atau karawitan yang diiringi para penari.

Bagi saya, Malaysia telah melakukan kesewenang-wenang dengan klaim “Reog Ponorogo” versi Malaysia (Tarian Barongan, red) adalah milik mereka. Menurut website Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia, Tarian Barongan menggambarkan kisah-kisah di zaman Nabi Allah Sulaiman dengan binatang-binatang yang boleh bercakap. Kononnya, seekor harimau telah terlihat seekor burung merak yang sedang mengembangkan ekornya. Apabila terpandang harimau, merak pun melompat di atas kepala harimau dan keduanya terus menari. Tiba-tiba Pamong (Juru Iring) bernama Garong yang mengiringi Puteri Raja yang sedang menunggang kuda lalu di kawasan itu. Pamong lalu turun dari kudanya dan menari bersama-sama binatang tadi. Tarian ini terus diamalkan dan boleh dilihat di daerah Batu Pahat, Johor dan di negeri Selangor.

Pak Molok, asal Ponorogo, seperti dikutip dari website Kapanlagi, sebagaimana yang dikemukakan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Seni Budaya, Pemkab Ponorogo, Gunardi. “Gambar reog di website itu adalah asli buatan Pak Molok, perajin reog di Ponorogo,” katanya.

Menurut dia, dadak merak reog yang dibuat Molok berukuran panjang 2,25 meter, lebar 2,30 meter, dan beratnya hampir 50 kilogram, sedangkan yang membedakan antara reog buatan Molok dengan perajin reog lainya terletak pada kekhasan saat membuat dadak merak dengan motif dan ukiran khusus.

Sedangkan pemerintah kabupaten Ponorogo telah mendaftarkan tarian reog Ponorogo sebagai hak cipta milik Kabupaten Ponorogo yang tercatat dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004 dan diketahui langsung oleh Menteri Hukum dan Perundang-Undangan.

Wahai saudaraku Malaysia, apakah saudara tak henti-hentinya mengklaim sejumlah budaya milik Negara Kesatuan Republik Indonesia? Setelah Musik Angklung dari Sunda (Provinsi Jawa Barat) juga diklaim milik Malaysia. Lalu, batik khas Jawa sama-sama nasibnya diklaim milik Malaysia. Berikutnya, rendang dari Sumatera Barat pun juga diklaim Malaysia dan masih banyak lagi yang lainnya diklaim milik Malaysia.

Saudaraku Malaysia, mengapa Reog Ponorogo yang jelas-jelas adalah milik masyarakat Ponorogo, Jawa Timur itu diklaim dan diganti nama dengan Tarian Barongan ala Malaysia? Seperti Kuda Kepang yang disebutkan di website Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia mencantumkan berasal dari Jawa yang lebih dikenal dengan nama Kuda Lumping. Apa sulitnya mencantumkan secara jujur seperti Reog Ponorogo, Angklung dari Sunda (Jawa Barat), Batik dari Jawa, dan lain-lainnya.

Semoga saudaraku Malaysia sadar dengan sikapnya yang sewenang-wenang mengklaim budaya asli milik Indonesia. Cik Anwar Ibrahim pun mengingatkan isu Lagu Rasa Sayang tidak mungkin hangat dan bergolak seandainya hubungan kedua negara akrab. Malangnya sikap pemerintah Malaysia terlalu angkuh, menangkis hujah jiran secara sombong. Penderaan tenaga kerja Indonesia, dengan kes bunuh, rogol, penindasan majikan, hukuman sebat rotan di penjara semuanya memberikan gambaran betapa kejam dan angkuhnya pemerintah dan sebahagian rakyat Malaysia.

Saya menulis ini tidak ada bermaksud ingin provokasi antara Indonesia dengan Malaysia. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa sejumlah media di Indonesia memberikan sejumlah fakta dan informasi terutama mengenai Reog Ponorogo yang diklaim Malaysia secara sepihak. Tak ada rasa kebencian kepada saudaraku Malaysia karena kita adalah satu rumpun. Saya hanya ingin mengetahui dan berdiskusi banyak kepada saudaraku Malaysia tentang ini.

Wallahu ‘alam


sumber foto: Portal Kementarian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia

29 Comments

Filed under Uncategorized

29 responses to “Surat Terbuka: Lagi, Malaysia Tak Henti Klaim Budaya Indonesia

  1. Idrus Fhadli

    itu membuktikan bahwa malaysia itu emang ga punya budaya sendiri… kerjaannya maling budaya orang laen melulu!!!

    bahkan gw pernah baca di salah satu artikel (lupa alamatnya…) semua yang berada di wilayah nusantara merupakan milik si malaysia!!! termasuk budaya palembang semisal lagu gending sriwijaya!!! bah…!!!

  2. Pinkina

    udah gak usah diperpanjang masalah ini. Kenapa juga M’sia ngaku2 miliknya ??? Kenapa juga I’sia baru kebakaran jenggot pas udah kecurian??? selama ini kemana aja bung hehehe
    /*maap emosi

  3. Iman Brotoseno

    Malaysia ??
    ( Ganyang Mode ON )

  4. NN

    Cuma bisa tarik nafas dalemmmmmmmmmmmm banget

  5. GoenRock

    Lha nama aslinya kan Malingsia yo panteeeeees😛

  6. eRiek

    @idrus fhadli: drus, jangankan lagu Gending Sriwijaya dari Palembang, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (P3B, seperti dikutip dari Oyos Saroso, koresponden Lampung untuk Koran The Jakarta Post, mengatakan bahwa semua entri Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dimasukkan dalam Kamus Bahasa Melayu Malaysia.

    selain itu, menurut Agus Shri Danardana, kepala kantor Bahasa Lampung, forum2 pengembangan “bahasa serumpun” selama ini hanya menguntungkan Malaysia. Selain mencuri kamus, mereka juga mencuri ide-ide pengembangan bahasa.

    Saya makin yakin bahwa Malaysia itu benar-benar NEGARA MALING!! (ini tuduhan serius untuk Malaysia! Apa mereka bisa membantahnya?) Saya yakin mereka tidak cukup berani membantahnya. Maklumlah, suara mereka kan ‘dibungkam’ pemerintahnya.

    @pinkina: Memperpanjang masalah ini? Kenapa kita tinggal diam? Halo!! Kita negara demokratis yang memiliki kebabasan berbicara dan berpendapat untuk kebenaran!! Kita (Indonesia,red) bukan seperti Malaysia, sebuah negara yang kini saya anggap Negara MALING!! satu per satu budaya asli Indonesia dicuri mereka dan diakui itu sebagai milik mereka. Sebagai rasa cinta saya kepada negeri ibu pertiwi ini, tentu saja saya ‘marah’ kepada Malaysia telah mencuri budaya asli kita. Kenapa kita selalu mempersoalkan ini terus? Seperti saya dan mungkin beberapa teman-teman Indonesia lakukan adalah tekanan kepada Malaysia melalui media internet ini untuk memberikan keterangan yang sejelas-jelasnya fakta atas budaya asli yang kita (Indonesia,red) miliki. Tak akan dibiarkan Maling terus terjadi di negeri kita Indonesia!

    @iman brotoseno: ada yang sepakat ganyang Malaysia? Mas Iman sudah siap ya? hehe…🙂

    @nn: maksudnya tarik napas dalem? asma ya?😛

    @goenrock: yup, saya sepakat. Sebutan Malaysia akhir-akhir ini sudah berubah ya? kasih sekali.

  7. Nico Wijaya

    tetangga oh tetangga…
    *dah gitu aja, komen gak mutu :D*

  8. isnuansa

    sulit juga berkomentar. Hak kekayaan intelektual memang mahal harganya, termasuk cagar alam dan budaya. Yang jadi soal, saya juga masih suka mencuri HAKI, seperti mendengarkan MP3 bajakan, nonton DVD bajakan. Mungkin kasusnya memang sedikit berbeda dibandingkan pencurian HAKI budaya kita oleh Malaysia, tapi mau dalam skala besar atau kecil, mencuri sama saja toh?

  9. Anonymous

    jangan-jangan makanan pempek di klaim malaysia juga ,sekalian amperanya haha

  10. YoulieZ

    tanya ma nyang punya budaya, dah dijaga lom budayana mpe k’malingan getho???

    klo dibilang plagiat Indonesia juga tukang plagiat tapi Malaysia lebih parrrrahhhhhh…

    gak da k’tegasan dari pihak pemerintah INA juga.

    WASPADALAH!! Kemalingan bukan karna kejahatan si pelaku tapi karna ada kesempatan hohoho…(“bener gak yak??” mata ngeliat ke atas sambil ngayal, bener gak yak omongan “Mas Napi”)

    Ayo sama2 jaga budaya Indonesia truz dipatenin.

    MERDEKA!!

    Luv INDONESIA ^0^

  11. saia betha

    hadu..

    kok isinya marah2 smua yah,,,

    huhuhu…

    mudah2an malaysia sadar…amiinn..

  12. ade

    hayo…yang jurnalis,, jangan lupa liat dari “sisi sebelah” ya… jangan kebawa emosi gituh..

  13. julia

    Aku juga sebel nich ma Malaysia, aku sekarang tinggal di Aussie n sering sekali ada tayangan promosi pariwisata “Visit Malaysia” yang isinya tarian dari Aceh “Sampang Sebelas” dan orang-orang Dayak, pokoknya aku jadi sedih banget, Mengapa Oh Mengapa….. Engkau Jahat sekali.

  14. salam ukhwah saudaraku.

    Saya mungkin tersangat lambat mengulas isu ini. Ketika ini, mungkin isu itu mulai lenyap. Tapi jangan khuatir, isu hubungan dua negara pasti akan memanas lagi selagi ada manusia-manusia yang memelihara rasa nasionalisme melebihi semangat persaudaraan islam oleh dua bangsa serumpun.

    Sudah memang kami warga Malaysia keturunan Jawa berasal dari Jawa Tengah, jadi apa yang diherankan kalau kami memainkan kebudayaan nenek-moyang kami.

    Sudah memang kami warga Malaysia, jadi apa salah pemerintah kami mengangkat kebudayaan kami sebagai salah satu kebudayaan warganya?

    Saya sudah tak heran, Selepas ini akan banyak lagi kes-kes serupa akan berlaku. Malah saya merasakan, apa saja yang ada di Malaysia, akan sangat tak disenangi di Indonesia. Saya sangat sedih….

  15. julian aditya

    loh, jika anda mengaku berasal dari jawa lalu memainkan budaya jawa di Malaysia itu tak apa. tapi yg jadi masalah adalah malaysia mematenkan kebudayaan yg dibawa dari jawa, walaupun Anda orang jawa. Anda sangat egois, itu budaya rakyat Jawa, ini menyangkut historis, geografis.
    ini kebudayaan malaysia, ini kebudayaan indonesia.
    apakah anda ingin bilang “angklung kebudayaan rakyat malaysia” karena saya membawanya dari jawa barat dan kami lebih dulu mematenkan (gimana perasaan rakyat jawa barat selaku pihak yg merasa memiliknya).
    berarti anda tidak menghormati rakyat jawa selaku pihak sebagai ahli waris.
    aduh, sulit menjelaskannya. ini memang jelas2 pencurian. jika saya jadi presiden Indonesia, pastinya akan bertindak TEGAS.

    • arinto

      @To julian aditya: Saya sangat sependapat dengan anda, bukan masalah memainkan atau tidak memainkan, tapi klaim “milik” rakyat/bangsa/suku mana yg jd masalah…. Itukan kebudayaan Indonesia bukan milik Malaysia.
      @to Palek:Boleh saja meperkenalkan di malaysia, tapi KATAKAN BUDAYA TERSEBUT MURNI MILIK BANGSA INDONESIA. Thanks.

  16. Salah satu upaya pelestarian budaya indonesia adalah dengan membuat dokumentasinya, termasuk dokumentasi digital atau elektronik di era informasi ini. Mungkin peran perguruan tinggi bisa dikedepankan di sini. Kegiatan riilnya bisa dalam bentuk penelitian atau pengabdian masyarakat.Yuk kita cintai dan pertahankan budaya indonesia

  17. Bukannya kami mempertajam situasi yg ada, tetapi : HAI MALAYSIA!!! Kami berhak marah atas apa kau curi!!! Jangan kau bersilat lidah dan berdalih lagi.
    Sudah jelas kau memakai budaya Indonesia, mengganti namanya dan menjualnya utk mempromosikan negaramu. Kau meremehkan negara kami!! Kenapa kau tidak memakai budayamu saja?? Pasalnya kau telah memboikot, mengklaim dan meremehkan budaya dari Indonesia. Akal mu basi….”Curang!!!”
    Wajarlah jikalau kami marah besar…karena protes kami tidak kau dengar.
    Kami akan berjuang dan tetap melawan untuk mempertahankan budaya kami dan segala isinya yg berasal dari bumi Indonesia. “HIDUP INDONESIA.”

  18. vito

    Huuuuuh. .!
    smngt indonesia. .!!

  19. aeez

    oke, mari kita lihat masalah “pencurian” ini dari kedua sisi.

    Malaysia merasa bahwa semua budaya Indonesia yang di klaim nya adalah hasil dari tanah Melayu, bangsa asli mereka. oleh karena itu, mereka merasa berhak untuk mempergunakan budaya-budaya tersebut untuk mempromosikan negara mereka.

    Tapi, bagi kami(Indonesia) , Malaysia hanya mengambil dan mencuri buadaya kami. KArena sudah jelas, bila lagu “Rasa Sayange” dari Maluku, Reog Ponorogo dari Jawa, Tari Pendet dari Bali, dan Angklung dari Jawa Barat. Apakah Malaysia tidak malu mengakui budaya orang lain dan dikatakan sebagai “MAlingsia” ?

    saya sangat sedih melihat budaya negara saya diambil dan diklaim begitu saja oleh MAlaysia. RAsanya saya ingin marah, pada Malaysia terutama orang yang pertama kali memprovokasi pencurian ini.

    Dan bagi kita, bangsa Indonesia dan pemerintah Indonesia, sampai kapan kita akan diam seperti ini? Segeralah patenkan budaya kita, agar tak ada ‘malingsia malingsia’ lainnya yang akan memcuri budaya kita.

    CInta tanah air Indonesia, cinta budaya Indonesia, cinta Indonesia.

  20. Rickz

    MALAYSIA!!!!!! PLAGIATOR!!!!!
    GAK PUNYA BUDAYA MAU AMBIL BUDAYA ORANG LAIN!!!!
    GW SEBAGAI ORANG INDONESIA GAK TERIMA!!!!
    MALAYSIA = MALINGSIA = MALING INDONESIA!!!!!

  21. Ardi

    selamat pagi warga malaysia yang terhormat…
    bolehlah kalian berdebat soal kebudayaan, milik indonesia atau malaysia, alasan kalian disana juga.. ni makin rancu kan…
    nah saya mau jelaskan satu hal yang pasti ada dimalaysia “OTAK PARA TERORIS”
    itu baru bener sudah terbuksi dan ada, dan kalian menggunakan indonesia sebagai kambing hitam di mata dunia dalam hal ini…
    sebut saja : kasus bom di BALI, menurut berbagai sumber Imam samudra Cs. hasil didikan mana? jawabnya malaysia
    – lalu dokter asahari : orang mana? orang malaysia
    – yang akhir2 ini Noordin M Top : kelahiran mana ? Malaysia
    – mau kembali ke masa lalu lihat sedikit di sejarah Indonesia, gerakan DI/TII, siapa yang beri perintah tembak Pak Sukarno. Tangan kanan sang pimpinan DI/TII. Saya takkan menyebut nama karena beliau masi hidup, saat masi pemerintahan Pak Suharto beliau takut dan melarikan diri untuk dapat perlindungan, kemana? sekali lagi MALAYSIA..

  22. Untung aja Manohara udah selamet dr klaim malaysia..Hue’e’e’e

  23. Ezzi

    Yaah..kalo manohara mah setuju aj gw diklaim malaysia. Ktp aja ga punya.

  24. Di Semenanjung Tanah Melayu (sekarang di panggil Tanah Semenanjung saja, kerana ada Sabah dan Sarawak, dan di perakui ketiga tiganya sebagai MALAYSIA), ada keturunan Jawa, keturunan Bugis, keturunan Minangkabau, keturunan Riau, keturunan Aceh, keturunan Palembang, Kadazan, Dayak dan semua ini tidak dapat dipastikan berapa jumlahnya..Semuanya adalah RUMPUN MELAYU. Mereka mempunyai budaya masing-masing.Pemerintah di sini tidak pernah sekat lagu, tarian, makanan, pakaian,adat istiadat bersalin, istiadat kenduri, istiadat perkahwinan dan apa jua yang di peraktikkan oleh suku suku kaum dari Rumpun Melayu itu. Oleh itu apabila hendak promosikan daerah Batu Pahat, misalnya, yang kebanyakannya keturunan Jawa, sudah tentulah orang orang Jawa di situ akan tunjukkan tarian kuda kepang. Takkan mereka tak boleh tunjukkan apa yang mereka warisi sejak nenek moyang nya. Apabila hendak promosikan, Negri Sembilan, semua adat istiadat, tarian dan budaya Minang akan di pamirkan. Kalau hendak promosikan Kuala Lumpur, tentulah budaya Tionghoa seperti. Tarian Singa dan adat istiadat Tionghoa di pamirkan. Kalau hendak promosikan Batu Caves, iaitu pusat kuil yang terbesar di Malaysia, sudah tentulah budaya dan tarian Hindu di pamirkan. Untuk promosikan Sarawak, tarian dan budaya Dayak dan Iban di pamirkan. Jadi tentulah ianya mencerminkan situasi dan ciri ciri berbeda beda, mengikut apa yang di hayati oleh kaum itu. Yang kami tak ambil ialah Tarian Pendet, kerana orang Jawa disini berugama Islam semuanya. Tarian Pendet itu tarian berunsur Hindu. Apabila Malaysia hendak beritahu dunia apa tarian dan budaya yang orang di Malaysia gunapakai, sudah tentulah kami akan pertontonkan tarian dan budaya pegangan hidup masing masing kaum/suku kaum. Jadi tak perlulah di tuduh mereka curi itu, curi ini. We only show the world the cultural elements that exist in each community. Itu saja. Takkan mereka nak kata, orang Jawa tak ada apa apa nak tunjuk. Pergi saja ke Tanah Jawa. Mana boleh gitu, Dong ?

  25. Pemerintah Malaysia tidak pernah buat “claim” apa apa budaya sebagai hak mutlak negara Malaysia, Yang Pemerintah perlakukan ialah apa juga budaya yang di ada di satu satu tempat, itulah budaya masyarakat di tempat itu. Kalau di Kelantan, misalnya, ditunjukkan Tarian Mak
    Yong dan Dikir Barat. Pemerintah Thailand tak tuduh Malaysia curi tariannya. President Negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT) baru melawat
    Malaysia. Beliau sangat gembira lihat tarian tarian yang ditunjukkan oleh masyarakat Tionghoa di Kuala Lumpur dan Melaka. Radio Beijing puji Malaysia kerana dapat hidupkan budaya Tionghoa. Kami promosikan pula tarian dan budaya Tionghoa di kaca TV Malaysia. Hasilnya sangat baik. Di jangkakan antara 2 hingga 3 million orang Tionghoa dari negara Tiongkok akan melancung ke Malaysia tahun 2010 nanti. Samada rakyatnya atau Pemerintahnya TIDAK PERNAH tuduh Malaysia curi budayanya. Oleh kerana mereka bersikap terbuka dan positif, sekarang ada 30,000 siswa dan siswi dari Negara Tiongkok sedang melanjutkan pelajaran di Kolej Kolej dan Universitas Universitas di Malaysia. Waktu terdekat ini, RRT telah berjaya capai status sebagai ECONOMIC POWER dan NUCLEAR POWER. She is now the third economic power in the world. Bayangkan, sebuah negara agrarian dan mundur boleh capai “world status” dalam tempuh satu generasi. Generasi muda Indonesia boleh juga capai yang terbaik, kalau tenaga dan minda di tumpukan kepada “economic development” dan jangan “sap energy” kepada perkara yang tidak produktif.

  26. Saya ingin perbetulkan tuduhan yang dilemparkan bahawa orang Melayu di Malaysia berlaku kejam terhadap pekerja pekerja Indonesia, hingga mencederakan, menzalimi dan bertindak “kebinatangan”. Ya Allah ! Saudara/saudari ku Indonesia, orang Melayu disini
    adalah berugama Islam, menghayati ugama dengan penuh kesedaran, mengikut ajaran yang yang telah diwahyukan. Masakan kami sanggup melakukan itu semua ! Lagi pun pekerja pekerja Indonesia tu adalah keturunan rumpun Melayu !
    Mengapa media massa Indonesia tu tak berikan fakta yang BENAR? Apakah media massa Indonesia itu buta mata dan buta hati ? SEMUA kekejaman dan kezaliman yang dikaitkan TIDAK, saya ulang sekali lagi TIDAK di lakukan oleh orang Melayu tetapi dilakukan oleh NON-Malay Employers. Mengapa tak tanya orang yang empunya badan? Mengapa tak tanya dengan DUBES Indonesia di Kuala Lumpur? Oleh kerana pekerja Indonesia itu digaji oleh majikan yang BUKAN MELAYU, maka mengapa orang Melayu pula dipersalahkan? Semua pekerja Indonesia yang bekerja dengan orang Melayu adalah dilayan sebagai keluarga sendiri. Mereka ria dan riang sekali dan sanggup tinggal menetap terus, kalau boleh. Fakta ini penting supaya kita bena titik titik pertemuan dan kami terasa “luka” dan “terguris hati” dengan tuduhan melulu media massa di sana.
    Jangan di ada adakan, semata mata ambil kesempatan isu “curi” tarian pendet untuk konfrontasi Malaysia. Orang kata, “tak kenal maka tak cinta”.Mereka seronok seronok buat tuduhan lepas satu, satu. Mengapa mereka tak datang, tengok dengan mata kepala sendiri? Ketahui oleh pembaca e mail ini, orang Melayu di Malaysia tidak ada niat “mala fide” (buruk sangka ) terhadap bangsa keturunan kami di Indonesia. Saya berasal dari Pagar Ruyung, sebelah ibu, dari Bugis sebelah bapa. Tapi nenek moyang telah menetap di Malaysia hampir 300 tahun yang lalu.
    Kami masih sayang Indonesia dan setiap kali berlaku bencana di Aceh, Padang, Jogjakarta, orang Melayu di sinilah yang bersusah payah hulurkan bantuan wang, ubat, pakaian dan bekalkan bahan benaan, disamping mengalirkan air mata.Penyanyi keroncong Indonesia, LILIS SURYANI, pernah berpantun: KALAU TUAN MEMBAWA CENDI, JANGAN LUPA TUANG AIR KE DALAM GELAS, KALAU TUAN BANYAK BERBUDI, MAKIN SUSAH KAMI MEMBALAS.

  27. boy wangsapraja

    Silahkan kalo orang malaysia turunan indonesia mau mainkan budayanya di malaysia, tapi tolong jangan di akui sebagai budaya asli malingsia apalagi mau dipatenkan. Orang-orang cina pun bebas mainkan barongsai di malaysia tapi toh tidak diakui sebagai budaya malaysia kan ? Orang-orang cina di indonesia pun bebas mainkan barongsai tetapi kami tidak ada niat sedikitpun untuk mengakui itu budaya indonesia.
    Soal kebaikan orang malaysia membantu kami saat bencana tsunami, kami ucapkan terima kasih. Tapi itu bukan berarti kami mendiamkan perilaku kau mencuri budaya kami !!!

  28. herodunia

    Assalammualaikum saudaraku Indonesia.. Kami tidak pernah mengklaim apa2 budaya pun dari kamu. Malah tdak pernah ada kenyataan mengenaik klaim mengklaim ini.

    Bahasa budaya adalah milik bangsa. Dan bangsa tidak boleh diukur mengikut perbatasan sempadan negara pada hari ini. Ini kerana sempadan hari telah ditentukan mengikut penguasaan penjajah spt Malaysia – British manakala indonesia – belanda.

    Tidakkah anda tahu bahasa indonesia itu sendiri adalah dari bahasa melayu yang mana bahasa ini menjadi lingua franca di alam malay-archepilago ini? Sama juga dengan suku asia tenggara yang melata hidup melepasi perbatasan sempadan negara2 pada hari ini. Mereka ini telah berpindah-randah dari pulau ke pulau, bandar ke bandar sejak berkurun-kurun lamanya sejak pembentukan negara2 pada hari ini. Tidak kah anda ketahui semuanya itu? Saya adalah berkuturun jawa di sebelah ayah saya. Dan semenangnya kami masih mengamalkan ada2 jawa, bahasa jawa dan lain2.

    Di sini juga ada suku banjar, mendeileng, minang, boyan, iban, kadasan, dayak, rawa dan lain2. Yang mana sama identikalnya yang terdapat di indonesia. Apa yang saya ttahu kesemuanya telah berada di tanah semenanjung, sarawak mahupun sabah sebelum kewujudan MMalaysia-indonesia lagi. Kenapa ssusah nak faham? Kamu rasa penduduk malaysia ini adalah bangsa lain identikalnya dari kamu? Sila la belajar sejarah nusantara ye. Kamu mmasih cetek ilmu. Rata2nya penduduk indonesia mmudah dimanipulasi oleh media kamu yang sebenarnya hanya mmahu mengalih perhatian dari masalah2 negara seperti masalah rasuah, ekonomi, pekerjaan dan sebagainya. Utk pengetahuan kamu, kami org malaysia x ambil pising pun dgn isu ini. Sebab kami ada banyak kerja dan masalah yang perlu diselesaikan.

    Ketahuilah bahawa malaysia-indonesia adalah dari akar yang sama yang berkongsi bahasa, budaya dan makanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s