Hutan Mangrove Lampung Timur Masih Terlihat Hijau

Desa Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur, Selasa (13/11) pagi itu hujan gerimis. Awan terlihat agak mendung, tapi langit masih cukup cerah. Sebuah kawasan Hutan Mangrove terlihat hijau dari arah kejauhan dari sebuah rumah yang baru baru saja Kami singgahi di desa itu. Cukup menyegarkan pandangan mata melihat keasrian di kawasan itu.

Selama lebih kurang dua jam perjalanan dari kampus Unila menuju Desa Margasari terasa singkat. Di dalam bus ada sekitar delapan orang dosen yang ikut. Ditambah saya. Awalnya, saya kira rombongan yang akan ikut cukup banyak. Namun, kenyataannya hanya beberapa saja.

Di dalam bus yang cukup adem oleh AC itu, tak banyak dosen yang saya kenal. Mereka rata-rata adalah dosen Jurusan Manajemen Kehutanan. Yang lainnya, dosen Biologi dan Teknik. Mereka adalah tim yang ditunjuk pimpinan universitas untuk meninjau kawasan Hutan Mangrove di Desa Margasari.

Saya tiba-tiba jadi pendiam di bus yang sepi penumpang itu. Ada dosen yang ‘sok’ bercakap bahasa Inggris. Awalnya agak risih mendengar dosen itu yang sangat cerewet. Bahkan, saya pun jadi bahan buat diskusi dengan teman-temannya di bus. Tentu saja menyebalkan.

Oh ternyata, itu tadi hanya sebuah kekesalan sesaat. Saya tidak sebenci itu kok. Ibu dosen itu cukup menyenangkan diajak ngobrol. Sedikit-sedikit saya pun ngobrol dengan bahasa Inggris. Ternyata, bahasa Inggris saya memang masih payah. Agak terbata-bata. Tapi, ya sudahlah. Namanya juga mencoba-coba kembali berbahasa Inggris. Tak ada salahnya bukan?

“Everybody have their own character,”celetuk saya

“Yes, you right bla bla bla….,”jawab ibu dosen itu panjang lebar dengan bahasa Inggris-nya yang fasih. Tapi, saya hanya menangkap inti yang dia ucapkan saja. Dia setuju komentar saya. Cukup? Ternyata ia masih dengan kecintaan berbahasa Inggris-nya. Saya diam saja sambil memperhatikannya berbicara. Tak mengerti. Saya menggut-manggut saja.

Tidak terasa kira-kira dua jam perjalanan. Bus milik kampus Unila yang kami tumpangi tiba di sebuah rumah yang di sana telah ditunggu sejumlah warga desa. Mereka tampak duduk-duduk santai di atas kursi plastik di depan rumah itu. Kebanyakan dari mereka adalah bapak-bapak.

Ketika masuk di desa itu, jalan agak rusak. Tidak diaspal. Hanya bebatuan koral saja ditanam di sepanjang jalan. Tapi masih bisa dilewati kendaraan roda empat seperti bus dengan cukup lancar. Hanya saja kecepatan maksimum 20-30 Km/jam.

Bapak-bapak yang menunggu di rumah itu menyambut kami. Mereka senyum kami telah tiba. Kami dipersilahkan masuk ke dalam rumah. Saya memilih duduk-duduk di luar teras rumah sambil memfoto-foto dengan kamera digital merk Mpix di sekitar rumah. Dari arah kejauhan rumah, tampak hamparan hijau yang luas. Mata saya terasa sejuk melihat hamparan hijau itu.

Tidak lama kemudian, acara pertemuan dengan bapak-bapak masyarakat desa dimulai. Kepala Desa Margasari juga ikut pertemuan. Nyoto, kepala desa itu mengatakan desanya memiliki kawasan Hutan Mangrove seluas lebih dari 1000 Ha. “Kalau bisa nanti dijadikan Mangrove Center,”kata Pak Nyoto.

Yuni, tamu dari JICA atau Japan International Corporation Agency yang datang dari Pusat Mangrove Bali, menyambut baik dari perhatian masyarakat untuk menjaga Hutan Mangrove di desanya. “Lampung sebenarnya punya banyak potensi alam yang bermanfaat,”ujar Yuni.

Kalau bagi Ir.Anshori Djausal,M.T, Pembantu Rektor IV Unila Bidang Kerjasama justru mengingatkan agar masyarakat mulai bisa tidak terlalu banyak bergantung kepada pihak luar. “Meskipun banyak tenaga ahli dari luar, tapi bukan berarti harus mengandalkan para tenaga ahli untuk mengelolanya. Justru peran dari masyarakat itu sendiri yang telah lebih dulu berpengalaman karena telah lama tinggal di daerahnya,”kata Bang Ans, panggilan akrabnya.

Setelah istirahat dan makan siang, Kami diajak ikut menaiki kapal yang biasa digunakan nelayan menangkap ikan di laut. Berangkat dari tepi sungai hingga keluar dari muara sungai kemudian ke lepas pantai.

Ombak laut sesekali menghantam kapal yang kami tumpangi. Agaknya saya pun khawatir. Soalnya, belum pernah saya menumpang kapal seperti itu dengan hempasan ombak yang kuat. Kapal naik-turun. Lama-lama saya jadi menikmati perjalan di atas kapal yang terbuat dari kayu itu. Saya pun memfoto-foto pemandangan Kawasan Hutan Mangrove yang penuh kehijauan.

Bang Ans di atas kapal menerbangkan layang-layang. Ia memang hobi bermain layang-layang. Bangkan, sejak kecil hobinya itu hingga sekarang masih ditekuninya. Saya lihat layang-layang itu cukup besar terbang di langit yang cukup cerah siang itu. Indah betul. Sambil mengarungi laut dengan kapal, tak henti-hentinya saya takjub dengan pemandangan kawasan Hutan Mangrove yang hijau. Sesekali saya lihat ada burung terbang dari hutan itu.

Kapan-kapan saya ingin bermain ke sana lagi. Sambil membawa pancingan. Saya pengan belajar mancing di laut. Di kawasan ini seharusnya bisa dijadikan tempat wisata. Sayangnya, belum ada niat untuk mengembangkan kawasan Hutan Mangrove itu untuk tempat wisata. Menunggu willing pemerintah daerah pasti lama. Oh ya, ada yang mau mengajari saya memancing di laut gak ya?

9 Comments

Filed under Uncategorized

9 responses to “Hutan Mangrove Lampung Timur Masih Terlihat Hijau

  1. hanny

    Wah, mangrove… kelihatannya tempat yang menyenangkan untuk menulis dan berkontemplasi, ada semilir2 angin … hehehehe🙂

  2. eRiek

    @hanny: kawasan hutan mangrove itu memang menyenangkan. tidak hanya semilir angin, tapi juga ombak laut di lepas pantai dekat hutan mangrove itu bagus buat memancing ikan. sayangnya, saya ngga bawa pancing🙂
    Oh ya, kamu hobi mancing ikan gak Han?

  3. isnuansa

    hutan mangrove itu yang kelihatan seperti pulau2 kecil kalo kita menyeberang laut itu kan?

  4. eRiek

    @isnuansa: kalau dari laut melihatnya seperti gugusan atau hamparan hijau sepanjang pantai. kalau di pulau-pulau kecil, mungkin itu adalah hutan mangrove Is.

  5. Nico Wijaya

    waaa.. pengen gua riek kesana. kebayang tempat enak banget. kok jadu pengen gini ya…😀

  6. -tikabanget-

    sayah mau…😦

  7. veea

    seru banget kawasan hutan mangrove di sana. jadi betah lama-lama di sana.

  8. lia

    wahh…
    kami mau kesana…
    tapi kami bingung, nyampe di sana kemana dulu???
    kami dari Pekanbaru, Riau, mau penelitian nih!!
    ada yang bisa bantu???

  9. Djufri Latif

    Saya baru baca tulisan mengenai hutan mangrove/bakau di Lampung ini.
    Sangat menarik. Perlu dijadikan contoh untuk ramai ramai menanam dan memelihara bakau.
    Mohon kepada siaapa yang berkunjung untuk membuat video yang akan sangat membantu untuk menyadarkan masyarakat betapa indah dan pentingnya memelihara hutan bakau ini. Video tersebut bisa di unduk via youtube. Saya ingin sekali beli video sejenis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s