Go to Jakarta

(Foto: Saya tertidur bersebelahan dengan Roni. Kerjaan Reza memfoto kami berdua di depan pintu masuk ruang kelas ekonomi Kapal Ferry penyeberangan Selat Sunda. Kata Yudi, kita berdua disebut ‘anjal’ atau anak jalanan)

“Jadi ngga berangkat?”tanya saya.
“Ini lagi diomongin ma yang lain,”kata Taufik, Pemimpin Umum UKPM Teknokra Unila.
“Waduh, kok baru diomongin. Sekarang sudah mau sore,”kata saya dalam hati.

Setelah Salat Jumat, pekan lalu (6/7), dari kostan Saya bergegas ke kesekretariatan Teknokra. Tapi, belum ada tanda-tanda akan segera berangkat siang itu. Tampaknya tidak jadi pikir saya. Padahal, teman-teman yang akan ikut ke Jakarta sepakat untuk stand by di Teknokra. Saya tanya teman-teman yang ada di sana, belum ada kepastian jadi berangkat atau tidak. Wah…Saya jadi bertambah bingung. Di tas yang Saya bawa, hampir semua peralatan telah disiapkan. Cukup penuh ransel itu.

Rencana berangkat ke Jakarta sebelumnya telah dirancang di rumah Novir pada malam Jumat sebelumnya saat syukuran wisuda Novir di Pasir Gintung, Tanjung Karang. Ada yang mengusulkan naik bus. Ada pula yang mengusulkan naik sepeda motor, tapi dengan konvoi bersama.

Akhirnya diputuskan ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan teman kita, saudara kita, kakak kita, Ahmad Wildan (lebih akrab dipanggil Bung Kiwil), dengan konvoi mengendarai sepeda motor. Awalnya Yudi mengajak yang lainnya. Saya setuju usul Yudi. Secara perjalanan jauh mengendarai sepeda motor, apalagi menyeberangi Selat Sunda dan ke Jakarta itu menjadi tantangan kedua bagi Saya. Sebelumnya juga pernah ke Jakarta mengendarai sepeda motor sendiri sekitar akhir Januari 2007 lalu.

Menunggu hingga Jumat sore, diputuskan M.Reza akan berangkat dengan Hendi. Mereka naik sepeda motor Yamaha Mio milik Reza. Yudi berboncengan dengan Roni dengan mengendarai sepeda motor Yamaha Vega kesayangannya Roni. Kedua motor mereka keluaran tahun 2007. Masih terbilang ‘anyar’ untuk dikendarai jarak jauh. Sedangkan Saya mengendarai sepeda motor Honda Legenda versi 2 tahun 2002 dengan sendiri. Awalnya sempat mengajak May ikut bersama Saya. Jadi, seharusnya tiga motor itu ditumpangi masing-masing enam orang. Yudi dengan Roni, Reza dengan Hendi dan Saya dengan May. Setelah dibujuk via SMS, May tidak jadi ikut. Katanya sedang sibuk dan banyak hal kebutuhan yang harus dipenuhinya. Akhirnya hanya kita berlima berangkat ke Jakarta.

Sore itu semakin mendekati waktu malam. Sejenak dipikir-pikir, setelah ba’da Maghrib rencananya kita harus lekas berangkat. Tidak terbayang oleh Saya akan berangkat pada malam hari. Daripada menunggu hingga besok pagi, akhirnya tetap diputuskan malam Sabtu itu kita berlima berangkat ke Jakarta. Karena undangan pernikahan Bung Kiwil dilaksanakan hari Sabtu siang (7/7) di Masjid Istiqomah, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Tak terbayangkan berjalan malam hari mengendarai sepeda motor harus ekstra hati-hati. Perjalanan diawali dari Kota Bandarlampung menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan. Jaraknya sekitar 90 kilometer lebih. Sepanjang jalan itu tidak semuanya datar dan mulus. Ada saja kami temui banyak berlubang. Terkadang Saya kaget saat tiba-tiba melewati lubang yang tidak terlihat dari sorot lampu sepeda motor. Bukan hanya sekali atau dua kali terpaksa melewati lubang-lubang jalan yang rusak itu. Mungkin bisa lebih dari 10 kali. Menyebalkan. Untungnya kondisi roda motor depan selalu ‘sehat’.

Secara bergantian, kita berjalan konvoi mengiringi dengan cepat. Kecepatan kita dari speedometer yang Saya lihat antara 70-80 Km/jam. Sesekali Reza mengendarai Mio-nya dengan lebih cepat hingga kecepatan 90 Km/jam. Legenda versi 2 Saya pun terkadang ‘ngos-ngosan’ mengejar Reza. Maklum, motor baru mereka beda dengan motor Saya yang sudah berumur hampir lima tahun.

Terhitung sekitar pukul 10 malam tiba di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan. Tampak ramai truk-truk besar bermuatan banyak sedang berbaris antri sangat panjang di pelabuhan penyeberangan itu. Kami pun tidak kesulitan mendapatkan tiket naik ke kapal ferry penyeberangan Selat Sunda ke Pelabuhan Merak, Banten. Satu tiket penyeberangan untuk sepeda motor tarifnya sebesar Rp 25 ribu. Setelah mendapatkan tiket, secepatnya kami masuk ke dalam kapal.

Bau menyengat mulai terasa saat masuk ke dalam kapal. Selalu saja bau di dalam kapal tempat truk-truk parkir itu, seperti bau ‘pesing’. Tidak ada khusus kendaraan pribadi di lantai dua. Semua kendaraan bercampur di sana, termasuk sepeda motor. Akhirnya, pasrah saja tidak dapat kapal yang cukup bagus untuk dapat memarkirkan sepeda motor kita berlima.

Setelah memarkirkan sepeda motor kita di sana, segera kita beranjak ke lantai dua mencari tempat istirahat. Akhirnya, lega sekali bisa sampai dengan selamat. Tidak lama dari itu, kapal pun segera berangkat. Perjalanan kita berlima tadi menghabiskan waktu sekitar dua jam. Saya bisa beristirahat di dekat pintu ruang kelas ekonomi. Sesaat tertidur bersebelahan dengan Roni. Capek tapi senang juga bisa konvoi bareng menunggangi ‘kuda besi’ menuju Jakarta.

8 Comments

Filed under Uncategorized

8 responses to “Go to Jakarta

  1. Nico Wijaya

    hehe..cocok banget fotonya..jadi inget pas mudik..(mode on – teringat kampung halaman)

  2. asya

    wew keren bangetz…, ke jkt pake motor. duch erik, napa ga sms aku aja. coba aku yg diajak ke jkt pake motor, mau bangetz.tapi aku start dari makasar, jadinya masing2 pake motor ndiri. hehhehe. btw, aku ama temen2 disini udah lama mau bepergian jauh pake motor kyak gitu, tapi slalu mentok ma waktu.

  3. eRiek

    @nico: saat tertidur, tiba-tiba teman saya, Reza, membidikkan kameranya ke saya dan Roni yang sedang tidur ala ‘anjal’ alias anak jalanan. Perjalanan malam itu menyenangkan sekali. udara malam yang sejuk di atas Laut Selat Sunda.

    @asya: mana tahu nomor hp-mu, sya. target nanti kalau ada waktu dan tentunya budjet cukup, pengen jalan ke pulau jawa sampai ke jawa timur, tempat budhe dan padhe-ku (Mojokerto, Malang dan Surabaya). Tapi, apa sanggup motorku sampe ke sana ya? yuk!! kapan kita touring motor bersama??

  4. Ridu

    jgn lupa yah mampir-mampir kalo ke jakarta!

  5. isnuansa_maharani

    udah balik ke Lampung belon?
    ajak2 dong ke lampung…

  6. muthe

    huwoo naik motor ya?!! gile…kapa terakhir saya pergi ke sumatra dengan menggunakan kendaraan darat ya?? sekitar…10 tahun yang lalu!! waa….

  7. Adite Gituuu

    huihuihui ati2 asap kendaraan.. (mengandung timbal.. orang yang tinggal di tempat polisi tinggi, kualitas spermanya jelek)

  8. Aryo

    ah…coba keadaan jalan dan kapal lebih bagus ya, jadi perjalannya makin asik.🙂 *jadi rindu naik motor muter” jogja dan sekitarnya hehe*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s