Jauhkan Narkoba!


Apa yang terbayangkan oleh Anda ketika bertemu dan berbincang dengan orang penting macam pejabat misalnya? Ngga percaya? Grogi? Ah..biasa saja? Atau senangnya bukan main kayak ketemu artis idola sepanjang zaman?

Akhir bulan lalu, tepatnya hari Jumat siang (28/7) lalu, Saya ditemani Padli, wawancara dengan Kapolda Lampung, Brigjen Pol Drs Suharijono Kamino MBA, di ruang kerjanya. Awalnya, saya berangkat sendiri untuk mewawancarai Kapolda. Saya dijanjikan bisa bertemu pada jam 10 pagi oleh sekretaris pribadinya via telepon. Ketika bertemu dengan sekretaris pribadinya, ia menyarankan kepada saya agar mengajak teman saya. “Pokoknya lebih dari satu baru boleh ketemu dengan Bapak (Kapolda,red),” ujarnya kepada saya. Akhirnya, saya segera sms teman saya yang sedang di redaksi untuk secepatnya ke kantor Polda Lampung, menemani saya wawancara dengan Kapolda.

***

Jabatan Kapolda bagi saya adalah setara dengan para pejabat-pejabat daerah. Ya, termasuk Kapolda Lampung ini. Ia termasuk agak sulit ditemui langsung jika ada di kantor, karena para sekretaris pribadinya tidak memperkenankan langsung bisa bertemu dan wawancara. Mereka bilang kepada saya jika ingin bertemu dan audiensi dengan Kapolda harus melayangkan surat permohonan terlebih dahulu. “Alaaahhh….lagi-lagi birokrasi. Susah banget sih ketemu pejabat,” pikir saya satu minggu sebelum bertemu dengan Kapolda.

Satu minggu sebelum bertemu dan wawancara ketika itu, saya langsung pulang ke redaksi dan membuat surat permohonan audiensi/wawancara dengan Kapolda. Isi surat itu kurang lebih begini, “Saya bermaksud mewawancarai Bapak Kapolda Lampung tentang penyalahgunaan narkoba di Lampung.”

Saya harus bolak-balik ke kantor Polda Lampung untuk memastikan jadwal bisa bertemu dan wawancara dengan Kapolda. Kantor Polda Lampung yang jaraknya sekitar 15 km lebih itu, harus saya tempuh dari kampus saya dengan mengendarai sepeda motor. Lumayan capek juga bolak-balik ke sana.

Setelah salat Jumat ketika itu, saya dan Padli bergegas menuju ruang kerja Kapolda. Di sana, saya bertemu lagi dengan sekretaris pribadinya. Tertera nama Zulfikar pada seragamnya. Wajahnya putih dan terlihat masih muda. Ia punya pangkat bergaris tiga berwarna kuning. Saya tidak paham dengan tingkat kepangkatan di kepolisian. Mungkin kalau di militer (TNI AD,red) tanda pangkat itu ‘kapten.’

Ketika dipersilahkan masuk oleh Zufikar ke ruang kerja Kapolda, Saya melihatnya masih duduk di dekat meja kerjanya. Tampaknya ia sibuk. Ruang kerjanya cukup luas dan sejuk sekali karena AC, meskipun di luar Saya terasa agak panas.
“Saya Eriek,Pak,” saya memperkanalkan diri sambil bersalaman kepadanya. Kami dipersilahkan duduk di sofa yang tidak jauh dari meja kerjanya.

Sepintas saya perhatikan Pak Suharijono mirip dengan ayah saya yang tinggal di Palembang. “Wah mirip dengan bapak di rumah,”gumam saya. Tapi, tidak kemudian saya cerita bahwa ia mirip dengan ayah Saya. Mungkin tidak terlalu penting. Nanti saja saya akan cerita kepada ayah saya saat pulang ke Palembang.

Pak Suharijono Kamino lahir di Mataram, Nusa Tenggara Barat, 56 tahun lalu. Dibandingkan dengan ayah saya, ia lebih muda 10 tahun dari ayah saya. Lagi-lagi saya terpikirkan seperti betemu dengan ayah saya dan berbincang dengannya. Dari namanya sudah pasti ia adalah asli keturunan jawa. Logat jawanya tidak hilang meskipun Ia kelahiran Mataram.

Dalam wawancara saya dengan Pak Suharijono, ia ditemani dengan Kepala Satuan Narkotika dan Psikotropika Direktorat Polda Lampung AKBP Anwar Efendi. Tapi, sejak awal wawancara hingga selesai hampir setengah jam itu, lebih banyak dijawab ia sendiri. Saya kurang mendapat kesan yang mendalam bertemu dan wawancara dengannya ketika itu. Dari pertanyaan saya, sering kali saya nilai kurang berbobot. Maksudnya, kurang dalam data yang bener-benar saya butuhkan. Misalnya saja soal rata-rata peningkatan pengguna narkoba. Pak Suharijono termasuk baru sembilan bulan menjabat di Kapolda Lampung. Katanya kepada saya, keberhasilan yang membanggakan selama ini adalah penangkapan penyeludup ganja dari Aceh melalui pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan. Jumlahnya hampir satu ton. Wuih, cukup banyak dan bisa mematikan berapa jiwa manusia itu. Sebelum menutup wawancara saya dengannya, ia mengatakan, “Jangan dekati narkoba! Saatnya semua masyarakat harus menyatakan perang dengan narkoba.” Begitu pesannya.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s