Kita Seperti di Dalam Lingkaran Setan

Musholah Fakultas Hukum Unila dekat dengan gedung C FISIP Unila. Jaraknya kurang dari 50 meter. Ketika waktu Dzuhur tiba sekitar pukul 12 siang, Selasa lalu (25/7), saya ingin salat di mushola anak-anak FH yang dindingnya tampak berwarna hijau dan masih terlihat baru itu. Tapi, agak telat saat saya tiba di sana. Tidak apalah, masih ada beberapa mahasiswa terlihat baru mulai salat, gumam saya.

Saya perhatikan dari samping kiri pintu musholah, beberapa mahasiswa duduk bersila. Ada yang membentuk kelompok. Mereka asik ngobrol. Sebagian lainnya lebih memilih sendiri untuk tilawah Al Quran. Suasana seperti ini pasti tidak asing lagi ketika semua para mahasiswa selesai salat berjamaah di mushola atau masjid kampus.

Ketika saya telah selesai salat, seseorang medekati saya. Wajahnya tak asing bagi saya. Ia mengarahkan tangan kanannya kepada saya, tanda ingin bersalaman. “Apa kabarnya lo?”tanya dia. “Baek,” jawab saya singkat. Ia ingat dengan saya, tapi saya benar-benar lupa namanya. Cukup lama kami berdua tidak pernah jumpa. Ia seangkatan dengan saya. Bedanya, teman saya yang kebetulan sama-sama berasal dari Palembang ini kuliah di FH. Meskipun kita berdua sama-sama mengerti bahasa Palembang, tapi lebih asik ngobrol dengan bahasa Indonesia. Kesannya nanti kalau menggunakan bahasa Palembang, terdengar orang lain jadi terlihat aneh. “Rooming dong kalo ngobrol,” kata teman saya suatu hari di Teknokra. Maksudnya, menyesuaikan dengan tempat ketika ngobrol dengan teman.

Kemudian, kita ngobrol banyak tentang masalah hukum, karena saya juga tertarik dengan soal hukum. Mulai dari lembaga bantuan hukum sampai teman saya ini cerita ingin sekali bisa diterima kerja di Lampung. Itu pun katanya jika bernasib baik. “Kayaknya, gw pilih kerja di Lampung dulu deh,”katanya kepada saya. Seketika, kita ngobrol santai hingga saya hampir lupa dengan agenda berikutnya di tempat lain. Ada seminar tentang pendidikan di Graha Gading, Teluk Betung.

Sambil membenarkan sepatu saya di luar mushola, kami masih saja asik ngobrol. Terkadang, saya lebih banyak bercerita. Mulai dari persoalan mengapa ketika kita masih mahasiswa bisa idealis, namun saat menjabat di pemerintahan atau punya jabatan, tidak lagi idealis. Bahkan, berbalik 180 derajat. Praktik KKN masih saja bertebaran. Belum lagi lingkungan peradilan pun juga tidak luput dari praktik KKN. “Kita ini seolah-olah sudah berada di dalam lingkaran setan,”kata saya berargumen. Saya berani bicara demikian, karena memang pada kenyataannya begitu kondisi negara Indonesia sekarang. Juga sejak zaman Orde Baru.

***

Tiba-tiba, ada guncangan. gempa bumi. Cukup kencang, tapi tidak lama. Beberapa ikhwan (sebutan akrab buat mahasiswa muslim,red) di mushola langsung berlari keluar. Saya dan teman saya masih duduk di serambi dekat pintu keluar mushola. Saya hanya nyengir lihat mereka yang lari terburu-buru keluar. Ini gempa cukup kuat yang hampir sama ketika terjadi pada malam dini hari, pikir saya. Tapi, kenapa selalu saja terlihat panik saat terjadi gempa. Padahal tidak lama terjadinya. Tidak mungkin seketika dalam waktu singkat, bangunan akan langsung roboh. Saya kira mereka belum sadar benar dengan gempa yang singkat, tidak akan sampai membuat bangunan retak dan roboh seketika. Sepertinya, gempa akhir-akhir ini yang terjadi harus buat saya terbiasa. Intinya jangan panik. Itu saja.

Setelah gempa singkat itu, saya cerita kepada teman saya ini. Di koran diceritakan tentang gempa yang terjadi di Jakarta. Seorang warga Jepang yang kebetulan tinggal di Indonesia terlihat heran melihat perilaku orang Jakarta ketika mereka berada di dalam kantor bergedung tinggi. Semua orang panik dan mereka berlari menuju tangga. Padahal, itu bukan tindakan penyelamatan yang tepat. Justru, hal tersebut lebih berbahaya saat berombongan keluar akan berpotensi terjepit atau terinjak-injak. Saya kira semua orang sekarang mulai merasakan kekhawatiran cukup tinggi dengan adanya gempa yang berturut-turut hampir terjadi di Indonesia dari barat ke timur. Mudah-mudahan kita selalu diberi perlindungan dan keselamatan dari Sang Pencipta. Wallahu ‘Alam.

1 Comment

Filed under Uncategorized

One response to “Kita Seperti di Dalam Lingkaran Setan

  1. gIe

    huhuhu lingkaran setan yah??? rumit donk…hehehe dalam kondisi begini aku percaya satu hal,”kita mungkin ga bisa mengubah dunia, tapi kita pasti bisa membuat sebuah perubahan”. mungkin dengan begitu lingkaran setan itu bisa jadi lingkaran taman bunga, yang siapa saja akan merasakan semerbak bila berada di dalamnya. nah siapa yang akan memulai? siapa yang akan memuali menanam bibit bunga itu? kamu mau?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s