Pantai Mutun di Sore Hari

Pantai Mutun sore itu sepi. Suara deru ombak yang menghempas ke bibir pantai itu agak melemah. Biasanya menjelang terbenam matahari, air laut pasang dan ombak terasa kuat. Saya berangkat ke sana naik motor bersama tujuh teman saya. Ada Aji, Yudi, Dwi “Si kuda liar”, saya, Heni, Rieke, dan May. Mereka begitu pula saya masing-masing berboncengan naik motor.

Saya ke pantai yang jaraknya sekitar 20 kilometer dari Bandarlampung itu, untuk yang kedua kali dalam waktu dua bulan terakhir. Yang pertama, di awal Juni kemarin dan kedua sere itu, Rabu (5/7) lalu. Pemandangan di pantai itu sungguh menyejukan buat saya. Dari kejauhan ada pulau-pulau kecil. Indah sekali. Pantai itu adalah pantai yang terdekat dari kota. Hampir sepanjang bibir pantai itu berdiri pondokan. Tempat berteduh yang terbuat dari kayu dan beratap rumbia. Tapi, di atas masing-masing pondokan itu bertuliskan Rp 15 ribu. Maksudnya disewakan untuk umum.

Kebetulan ketika kami tiba di pantai itu, tak ada tukang keliling yang mengawasi pondokannya. Biasanya orang itu keliling dan menemui orang yang kebetulan singgah di pondok kemudian minta bayaran. Beruntung kami tidak perlu bayar. Orang yang keliling itu tidak ada. Mungkin pikir saya sore itu sepi.

Di pantai itu, kami sempat berfoto bersama. Yah, gayanya pun ngawur tidak menentu. Ketika ditunjuk siapa yang ingin memfoto, tidak seorang pun menginginkan. Nah, saya punya ide. Kamera digital itu saya letakkan di sebuah batu di pinggir pantai, kemudian di-set timer. Maka, jadilah kita semua di pantai yang menawan itu berfoto ria.

Awalnya, saya tidak menyangka kita berniat bersama jalan-jalan ke pantai Mutun. Kebetulan Heni, teman kami yang berkelahiran Serang Banten ini akan segera kembali ke rumahnya. Cewek yang senang dipanggil Q-Noyz ini seangkatan kuliah dengan saya dan telah lulus bulan Maret 2006 lalu. Ia sekarang punya gelas Sarjana Pendidikan dari program studi matematika. Katanya kepada saya, ia akan melanjutkan S2 di UPI Bandung. Sepertinya itu keinginan dari orangtuanya, ketika ia bercerita kepada saya beberapa waktu yang lalu.

Sebetulnya, Q-Noyz bukanlah asli Serang Banten. Bahasa Jaseng (Jawa Serang,red) saja, ia tidak cakap. Ia asli sunda. Tubuhnya kecil, tapi lincah dan sangat cerewet. Terkadang ia pun suka bercanda. Agak terlihat kekanak-kanakan. Kalau sesekali ia berbicara dengan bahasa Sunda, saya hanya bisa terbengong saja. Tidak mengerti sama sekali. Tapi, suatu saat saya bisa berbahasa Sunda, gumam saya.

Suatu ketika saya hanya berpikir, Q-Noyz yang masih berumur 22 tahun itu amat cepat sekali melanjutkan ke S2. Tentu saja usia segitu masih tergolong muda sekaliber angkatan S2 yang kebanyakan telah bekerja dan tentu saja usia di atas kepala 3 atau 4. Saya pun punya keinginan yang sama ingin melanjutkan S2 ketika setelah lulus nanti. Bila perlu ke luar negeri dengan beasiswa. Itu keinginan dalam waktu dekat buat saya melanjutkan kuliah yang masih terkait dengan komunikasi dan media massa. Semoga saja harapan saya itu terkabul. Amin.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s