Wartawan Idealis…Bisakah Sejahtera?

Casing komputer itu ada di samping monitor. Warnanya ungu. Tapi, hanya tampak dari depannya saja. Bentuknya seperti kotak besi dominan warna putih itu sedikit usang, berdiri kokoh membungkus mainboard, harddisk, serta alat-alat elektronik lainn di dalamnya. Meskipun usianya telah genap empat tahun digunakan, tapi masih enak digunakan. Sama usianya dengan saya selama di Teknokra.

Di sisi kiri casing itu sengaja dibuka. Agar udara bisa mendinginkan prosesor AMD yang rentan panas. Sejak 10 menit saya di depan komputer buat nulis, tapi bingung apa yang ingin ditulis. Sepertinya, otak dalam kepala saya ini penuh ide, tapi sayangnya tidak satu pun ketika pagi itu bisa menemukan ide yang bisa buat ditulis.

“Tuit…tuit…tuit….!!” Tiba-tiba suara HP Saya berbunyi di dekat tangan kanan saya pegang mouse optic. Di layar tertulis Bang Yamin. Wah, tumben sekali dia menelpon saya. Tidak lama kemudian, saya jawab panggilan itu.

“Assalamualaikum. Yah Bang, apa kabarnya nih?” kata saya.

“Waalalaikumsalam Bos. Aku baek,” kata Yamin dengan suara khasnya yang gede.

“Bisa maen ke rumah gak Bos? Gw lagi di rumah neh,”

“Ok bisa Bang. Kapan? Pagi ini ntar gw langsung ke sana,” ujar saya.

Bang Yamin, biasa saya panggil demikian. Dia kakak senior saya ketika masih di Teknokra. Lengkapnya, M Yamin Panca Setia. Dia pernah menjabat Pemimpin Redaksi pada periode 2002-2003 lalu. Ketika itu, saya masih magang. Berbadan tinggi, sekitar 180 cm, sedangkan saya hanya 173 cm. Terkadang yang buat saya ikut tertawa karena ia tertawa dengan suara yang menggelegar. Ia asli sumatera.

Dia punya semangat tinggi menjadi wartawan yang idealis. Jangan ditanya soal loyalitasnya, saya nilai dia paling produktif melakukan liputan ketika di Teknokra. Bahkan, setelah selesai dari Teknokra dan lulus kuliah pun, ia punya obsesi menjadi wartawan majalah ternama untuk koresponden Lampung. Tidak lama. Hanya satu tahun saja. Ia pernah mengeluhkan tentang gaji yang diterimanya tidaks sesuai dengan kerja selama reportase. Ia ingin ke Jakarta. Menjadi wartawan di sana. Ternyata, tercapai impiannya bekerja sebagai wartawan di sebuah harian bisnis dan ekonomi terbesar di Indonesia. Meskipun belum berstatus tetap, masih magang, ia menikmati petualangan menjadi wartawan di kota besar Jakarta. Ia pun puas dengan gaji yang diterima dari media itu.

Ketika saya menyanggupi akan ke rumahnya, bergegas saya langsung ke rumahnya. Linda, temen di Teknokra, kebetulan sedang asik nonton TV tiba-tiba bertanya pada saya.

“Mo ke mana Kak Eriek?”

“Ke kostan. Bunda mo ikut juga neh?” saya tanya balik

Linda akrab saya panggil bunda. Begitu pula temen-temen di Teknokra Mungkin kependekan dari Ibu Linda. Orangnya baik, tapi sedikit gendut dan berjilbab seperti aktivis akhwat kebanyakan di kampus. Sering kali temen-temen bergurau dengannya. Kadang saya pun memanggilnya ‘Linda Ndut,’ tentunya sambil bercanda. Tapi, ia bukanlah tipe orang yang pemarah, justru senang bercanda. Saya antar ia ke kostannya naik motor saya. Kebetulan kostannya dekat kostan saya.

***

Rumah Bang Yamin di Teluk Betung. Dari kampus saya ke rumahnya kira-kira berjarak 15 km. Cukup jauh. Dengan mengendarai motor Legenda, saya masuk gang sempit menuju rumahnya. Saya sering ke rumahnya ketika ia kebetulan ingin libur sesaat. Biasalah kerja wartawan kadang buat stres. Makanya, ketika pagi itu (Selasa, 11/7), ia menghubungi saya dan katanya ingin cerita banyak dengan saya. Ia butuh refreshing.

Seperti biasa, ia suka sekali main dan silahturahmi ke rumah tetangganya ketika kebetulan ada di sana. Ia hampir kenal dengan tetangga dekatnya. Bahkan, ia tidak sungkan cerita pengalamannya di Jakarta. Mungkin maksudnya ingin memberitahukan kerjanya sebagai wartawan di sana sangat memberinya tantangan besar.

Ketika sampai di rumahnya, Bang Yamin bilang kepada saya kalau ia sedang mogok kerja. Ada masalah di media tempat dia kerja. Dugaan saya pasti masalah statusnya yang telah satu tahun masih magang belum diangkat menjadi wartawan tetap di sana. “Gw punya harga diri,”katanya kepada saya di ruang tamu rumahnya. Kemudian ia ambil sebatang rokok Mild dan dihidupkan api. Asap menerawang membentuk angka ‘0.’ Sedangkan saya tidak merokok. Karena paling benci dengan asap rokok dan tentu saja tidak buat sehat.

“Masa’ hasil kerja gw selama setahun ditentukan hanya karena tes psikologi,” kata Bang Yamin kesal.

“Bodo amat sama psikotes! Kerja udah produktif, tapi hasilnya kayak gini.”

Ceritanya, ia memang diharuskan mengikuti psikotes oleh media tempatnya bekerja. Ketika ia mengikuti tes tersebut, hasilnya ia tidak lulus. Ia kecewa berat dengan keputusan dari SDM atas dirinya. Makanya, Ia memutus pulang ke rumah. “Gw punya prinsip untuk ini,” katanya. Matanya sambil menerawang memandang langit-langit sambil sesekali menghisap roroknya.

Saya banyak belajar dari Bang Yamin. Ia banyak cerita masalah redaksi sampai pengalamannya ketika liputan di Jakarta. Saya pribadi kaget atas keputusan SDM dari media surat kabar itu tidak meluluskannya. Padahal, ia sudah kerja keras untuk media itu. “Gw mati untuk media itu pun, gw siap!” tekadnya. Tapi, sekali lagi ia sangat kecewa setelah keputusan itu. Katanya, redaktur di sana sering menenangkan ia, agar mau kembali liputan. Tapi, Bang Yamin ingin menenagkan dirinya. “Kalo pun gw ngga lagi di sana, juga ngga apa-apa. Setidaknya gw punya cukup pengalaman selama di media itu,” katanya kepada saya.

Ternyata dia tidak sendiri yang mengalami nasib seperti itu. Kak Tur, begitu saya akrab memanggilnya, punya nasib yang sama. Kak Tur alumni Teknokra juga. Pernah menjabat Pemimpin Redaksi Teknokra periode 2003-2004 lalu. Jadi, Bang Yamin dan Kak Tur bekerja di media yang sama, dan bernasib yang sama saat ini.

Akhirnya, kami berdua mencela media-media besar di Jakarta. Saya sepakat dengan Bang Yamin, katanya perusahaan media kurang peduli dengan nasib para wartawannya. Tapi, sebelumnya Bang Yamin dan Kak Tur termasuk beruntung bisa bekerja di media itu. Gajinya lumayan lebih dari cukup. Saya tanya, apakah hanya media itu yang memberi gaji cukup lumayan buat para wartawannya di media itu? Yah salah satunya. Tapi, masih banyak nasib wartawan yang bergaji kecil di Jakarta. “Mana perjuangan AJI membela hak-hak wartawan yang bergaji kecil?” ujar Bang Yamin.

Saya teringat, ketika membaca posting di milis jurnalisme yang membahas soal gaji wartawan menarik buat saya ikuti. AJI dalam posting itu yang dikutip dari sebuah media online, katanya akan memperjuangkan kenaikkan gaji wartawan menjadi sebesar Rp 3,1 Juta. Luar biasa saya pikir. Tapi, mana buktinya. Kasihan benar nasib para wartawan karena sepertinya kurang diperhatikan soal kesejahteraannya. Bahkan, tidak heran sejumlah wartawan menyukai ‘amplop’ dari narasumber yang diwawancarainya. Seharusnya, seorang wartawan wajib menolak pemberian amplop itu. Ini mempengaruhi si wartawan menjadi tidak objektif dalam menulis tentang si narasumber.

Sebentar lagi, saya akan menghadapi pergulatan di mana idealis dan kepentingan pribadi, keuntungan pribadi. Semoga saya siap dan sanggup menghadapi semua ini.

5 Comments

Filed under Uncategorized

5 responses to “Wartawan Idealis…Bisakah Sejahtera?

  1. udin

    jawabannya TIDAK BISA. KECUALI WARTAWAN TEKNOKRA, HE2. pa kabar?

  2. cepris

    Bisa asal jangan hidup di Indonesia🙂

  3. firman

    hmm, ada anekdot begini: wartawan itu getol memperjuangkan nasib orang, tapi enggan memperjuangkan nasib sendiri. hal sama saya rasakan di tempat kerja saya sekarang.

    tapi, saya selalu berprinsip kalau kerja itu ibadah. kalau sudah begitu, rejeki bisa datang dari arah yang tak terduga. lagipula, jadi wartawan kan setengah kerja sosial juga, ga semata-mata cari duit. kalau mau kaya, ya jadi broker properti aja mas…hehe.

    salam kenal ya…

  4. riek

    ok, smuanya trims comment-nya. Ini baik sekali masukannya buat saya. Meskipun sedikit. Hehe…:)

    Kabar gw baek2 aja,Din! lama tak jumpa. Lah…wong kita ngga pernah berjumpa toh:) lo kapan lengser dari PU? gantian yg laenlah…

  5. udin

    iya… kita emang belum pernah ketemu. tapi kata bung HAH (Hasan Aspahani), kita perlu menjaga jarak untuk menciptakan kerinduan yang dahsyat, lebih dahsyat dari yang sebenarnya (heheh…)

    masih punya utang, nerbitkan majalah hayamwuruk. setelah itu baru bisa lengser. dua tahun kepengurusan, banyak hal yang tercecer. entahlah.

    salam buat teman-teman tekno. terutama buat yang masih jomblo, huehuekkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s