
Jam telah menunjukkan Pukul 15.21 WIB. Saya bergegas keluar turun tangga dari lantai tiga. Sesekali saya menatap matahari sebentar dari balik jendela, terlihat cukup cerah. Kalau lihat matahari lama-lama terasa silau dan bikin sakit mata. Tapi, beberapa saat matahari tertutup awan dan mendung. Sempat berpikir, apakah nanti akan turun hujan saat terjadi gerhana matahari cincin? Beberapa orang terlihat agak ramai hilir-mudik di jalan. Saya penasaran, kemana orang-orang ini akan melihat momen datangnya gerhana matahari cincin?
Ternyata mereka sudah banyak berkumpul di lapangan sepakbola. Ramai orang di sana. Dari orangtua, remaja sampai anak-anak sekolah yang mengenakan seragam sekolah SMA. Ada yang telah siap dengan tripod untuk penyangga kamera foto yang lengkap dengan lensa tele agar bisa menangkap objek (gerhana matahari cincin) lebih bagus dan menarik. Anak-anak secara bergantian saling bertukar kacamata untuk melihat gerhana matahari. Ada pula tim reporter dari Reuters yang jauh-jauh datang dari Jakarta, untuk menanti momen gerhana matahari.
“Sudah 2 hari di Bandar Lampung,”kata salah seorang jurnalis Reuters itu kepada saya. Ada sebuah alat berbetuk persegi yang mengarah ke matahari dan tersambung ke sebuah laptop. Saya mendekati salah satu rekan jurnalis tadi yang sesekali memonitor pergerakan matahari dari laptop. Tak jarang dia menerima telepon dan berbicara dalam bahasa Inggris. Dalam benak saya, paling tidak yang menelponnya itu editornya yang juga memonitor.
Sekitar pukul 16.41 WIB, orang-orang tampak takjub telah melihat gerhana matahari sudah membentuk cincin. M.Reza, teman saya yang hobi fotografi, sudah mempersiapkan kameranya (Nikon D70S) dipasangi filter agar setiap kali dia memfoto tidak membuat matanya sakit. Entahlah sudah berapa foto yang berhasil dia abadikan dan disimpannya. Sekilas saya lihat dari view kameranya sudah cukup banyak.
Tak kalah bagusnya saya melihat hasil jepretan seorang fotografer ketika tepat saat gerhana matahari cincin. Warnanya agak kemerah-merahan. Mungkin ini karena pengaruh filter. Kamera yang dipakainya termasuk high class for photography (Nikon D2H). Saya foto saja hasil foto milik fotografer itu tadi. Kalau dari hasil kamera saya kurang bagus. Maklum kamera digital biasa yang beresolusi cuma 3 Mega Pixel.
Ya, sore itu adalah momen yang langka bagi penduduk Indonesia, bisa melihat peristiwa gerhana matahari cincin. Syukur alhamdulillah saya bisa menyaksikan langsung di sini, karena titik daratan terbaik untuk melihat gerhana ini di Lampung.
Link terkait:









11 Comments
January 26, 2009 at 5:07 pm
Bener-bener indah, ini salah satu peristiwa dari kekuasaan Allah SWT.
January 26, 2009 at 5:11 pm
Sial Palembang mendung dari pagi ampe sore…
Padahal udah siap” mo foto”… Ah masih ada stu kali gerhana lagi kok tahun ini…
January 26, 2009 at 5:14 pm
Kok gak ada yang main bola ya??
Lampung beruntung krn garis edar matahari tsb sedang berada melewatinya. Disini sih tadi kebanyakan awan mendung nutupin mataharinya. Tp silaunya memang beda dibanding biasanya.
January 26, 2009 at 10:39 pm
ternyata saya baru tau kalo titik lihat terbaiknya ada di Lampung.. sayang memang Palembang mendung, jadi cuma bisa merasakan silaunya saja..
January 27, 2009 at 12:55 am
Wuii.. seandainya kemaren saya masih di Lampung.. Di Depok nggak terlalu keliatan soalnya.
January 27, 2009 at 1:20 am
Ga’ sempet pulang neh….
moment 45 th sekali sayang kl dilewatkan
January 27, 2009 at 2:53 am
Sayang sekali saya tidak bisa mengabadikannya dgn Canon 40D milik saya (doh)
January 27, 2009 at 8:01 am
aku gak liat.. jakarta mendung..
January 27, 2009 at 10:33 am
di lahat hujan deresss jadi dak liat
January 29, 2009 at 7:17 am
Sungguh sangat puas sekali melihat secara langsung..
Eh iya ketemu ma kak eriek jg ding..
May 9, 2009 at 4:10 am
sayang yaa d kalimantan gk ke liatan nie kena panas nya doank