August 25, 2008...7:47 am

Festival Layang-Layang Lampung Tahun 2008

Jump to Comments

Lampung Kite Festival (LKF) 2008 yang diadakan sejak hari Jumat-Sabtu (22-23/08) di Taman Hutan Kota, Way Halim, Bandarlampung dan Minggu (24/08) di Kalinda Resort, cukup mengesankan buat saya. Apalagi ini even pertama kali saya ikuti sebagai panitia kegiatan berlangsung. Saya jadi tahu sekaligus merasakan bagaimana menerbangkan bermacam-macam layangan berukuran kecil sampai layangan yang berukuran besar dan lebih tinggi dari tinggi badan saya.

Hari pertama (Jumat, 22 Agustus 2008), LKF 2008 dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung, M. Natsir Ari. LKF 2008 ini termasuk dalam rangkaian kegiatan Festival Krakatau 2008 yang berlangsung dari tanggal 23-31 Agustus 2008. Natsir meresmikan pembukaan Festival Layang-Layang 2008 itu dengan menerbangkan pesawat aeromodeling milik teman-teman Teknik Elektro Unila. Tapi, sayangnya pesawat itu tak mau terbang.

Sejumlah layang-layang dari yang kecil hingga yang besar di letakkan di atas tanah lapangan. Beberapa panitia menerbangkan layang-layang. Saya tertarik mencoba menerbangkan layang-layang yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Mungkin lebarnya selebar kedua tangan saya.

Mengenakan kaos putih berlogo Visit Lampung 2009 dan di belakangnya bertuliskan “Lampung Kite Festival 2008” dan penutup topi yang biasa saya kenakan saat berpergian keluar, saya berlari-lari kecil menerbangkan layang-layang di lapangan. Meskipun suasana terik matahari semakin panas menyengat kulit, tapi tidak menyurutkan saya bermain layangan.


Saya tak hapal macam-macam layangan yang ada di sana. Melihat bentuk dan ukurannya saja unik dan menarik. Apalagi jika anak-anak kecil melihat layangan yang beragam warna-warni itu. Pasti mereka tertarik ingin mencobanya.

Risti dan Redha berjualan layang-layang yang dibawa oleh Kang Fery dan Pak Hamid dari Bandung, Jawa Barat. Sedangkan layangan lainnya yang berbentuk segitiga/delta dibawa oleh Pak Roni dan istrinya dari Jakarta.

Selama dua hari (Jumat-Sabtu kemarin) di Taman Hutan Kota, cukup ramai pengunjung. Ada yang sekedar bertanya-tanya saja dan ada pula membeli layangan. Harga layangan yang dijual cukup bervariasi. Dari mulai Rp35ribu-Rp100ribu. Tergantung jenis dan ukuran layangannya.

Menjelang sore hari, warga yang menonton layangan semakin ramai. Mereka yang telah membeli, langsung dicoba. Tak jarang saya lihat ada ibu-ibu membelikan layangan untuk anak-anaknya. Mereka pun langsung mencoba menerbangkannya. Saya melihat ekspresi gembira dari anak-anak itu ditemani ibunya.

Tak kalah seru lagi, sempat dua layangan terlepas dari ikatan di batang pohon. Ada lagi yang sudah menerbangkan layangannya, lalu diikat di batu. Namun, sayangnya ikatan yang tidak kuat itu justru lepas saat angin kuat berhembus kencang sehingga layangan terbang meninggalkan ikatannya. Tentu saja kejadian itu membikin panik para panitia. Kontan saja kami mengejar layang-layang itu hingga ada yang tersangkut di ranting pepohonan. Sayang banget kalau layangan bagus sampai lepas dan hilang begitu saja kan?

Bang Tinus dan Bayu malah sempat mengejar layangan yang lainnya hingga sampai ke rumah penduduk dan menyeberangi jalan yang ramai kendaraan bermotor. Untung saja layangan itu akhirnya bisa tertangkap kembali. [bersambung]


Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung, M. Natsir Ari mencoba menerbangkan pesawat

Layang-layang yang siap diterbangkan

Layangan ini pernah saya naikkan. Lumayan berat nariknya. Apalagi kalau anginnya kencang, bisa-bisa saya ikut terbawa terbang. Hehe..


19 Comments


Leave a Reply