Berbagai jenis kupu-kupu ada di dalam sebuah penangkaran yang menempati lahan seluas 4,8 Ha di kaki Gunung Betung, Desa Tanjung Manis, Kemiling, Bandar Lampung. Ketika saya datang ke sana, Senin lalu (7/7) bersama teman saya, Arka dan Redha, di depan pintu masuk terbuka, tapi terlihat sepi dan tak ada orang di sana. Setelah masuk ke dalam, saya hanya melihat sebuah motor yang diracik seperti motor cross, bersandar di sebelah pohon.
Sebuah rumah berdinding kayu terlihat masih kokoh. Dari dalam rumah itu baru muncul seseorang. Kang Aseb, biasa dipanggil seperti itu. Ia orang Sunda. Arka mengenalnya sebagai penjaga di sana. Mereka berdua tampak bercakap bahasa Sunda. Tak sepotong kata pun saya mengerti bahasa asal Jawa Barat ini.
Kami bertiga berangkat dengan sepeda motor dari kampus. Saya sendirian, Arka dan Redha berboncengan berdua. Sepanjang jalan di kaki Gunung Betung menuju lokasi ini, udara terasa sejuk meskipun saat itu cuaca sedang cerah. Maklum, ketinggian di lokasi itu 460 meter di atas permukaan laut. Jalan beraspalnya agak sempit dan berliku-liku. Maklum saja jalan di kebanyakan di daerah gunung pasti berliku-liku.
Dr.Herawati Soekardi adalah ahli kupu-kupu pertama di Indonesia yang memiliki tempat tersebut. Ia adalah dosen MIPA Biologi Unila. Lulusan S3 dari ITB. Suaminya, Ir.Anshori Djausal,M.T, juga dosen di Unila. Mengajar para mahasiswa Fakultas Teknik Sipil dan menjabat sebagai Pembantu Rektor IV bidang Kerjasama, Perencanaan dan Sistem Informasi.
Kebetulan hari itu, taman kupu-kupu milik Ibu Herawati akan dikunjungi Menteri Kehutanan M.S.Kaban. Selain ke sana, menteri akan mengunjungi Taman Hutan Rakyat Wan Abdul Rachman. Menuju lokasi itu, dari kota Bandarlampung hanya sekitar belasan kilometer.
Di dalam rumah kayu, saya sempat melihat-lihat beberapa guntingan profil tentang Ibu Herawati yang pernah dimuat di media cetak lokal maupun nasional. Dari media berbahasa Indonesia hingga berbahasa Inggris. Bagi saya, dimuatnya profil tentang Ibu Herawati dengan suksesnya mengembangkan Taman Kupu-kupu Gita Persada miliknya, adalah sebuah perhatian dari media massa dan untuk mengenalkan kepada publik.
Penangkaran kupu-kupu di sana, sebenarnya hanya untuk keperluan penelitian dari para mahasiswanya, serta mahasiswa jika ada dari luar Lampung. Tapi memang belum bisa dibuka untuk umum secara lebih luas lagi.
Menurut situs berita Antara menyebutkan bahwa di Lampung memiliki 60 spesies Kupu-kupu ada di Lampung. Saya tak bisa menghitungnya sendiri satu per satu. Tapi, ada daftar tertulis nama-nama spesies kupu-kupu itu di dinding dalam rumah kayu.
Untuk kopi darat dengan para blogger Seruit, Arka mengajak memilih tempat itu. Tempatnya sejuk. Udaranya segar dan bebas polusi dan tak berisik dari kendaraan bermotor. Penangkaran Kupu-kupu di sini memang tempat yang ideal untuk merilekskan diri sekaligus menyendiri. Hehe..
Suatu saat nanti saya ingin mengembangkan lahan menjadi sebuah tempat yang asri dengan pepohonan rindang, tapi dengan tambahan ada beberapa koleksi burung yang bermacam-macam. Seperti taman burung begitu ya. Ada yang mau bergabung bersama saya?
Link terkait:










12 responses so far ↓
lies surya // July 14, 2008 at 5:27 pm
baru tau kl di lampung ada taman kupu-kupu. di palembang ada ga ya?
[blm menjelajah palembang dengan maksimal]
ibunk // July 15, 2008 at 1:05 am
Di palembang ada kok mbak lies taman kupu2…tuch di daerah Kedaung klo Nggak di daerah Teratai Putih…
Taman Hutan Rakyat Wan Abdul Rachman « The World of Eriek’s Written // July 15, 2008 at 2:09 am
[...] Friend’s ← Mengunjungi Taman Kupu-kupu Gita Persada [...]
Au' // July 15, 2008 at 4:11 am
Beuuu mainan ibunk kupu2 mlm. Dk nyangko bae..ckckck…
itikkecil // July 15, 2008 at 4:45 am
mana foto kupu-kupunya????
Eriek // July 15, 2008 at 5:13 am
@itikkecil: mbak, foto koleksi kupu-kupunya ada di sini
sudah cukup mewakili kan? hee…
Aan // July 16, 2008 at 2:21 am
kak erik emang asli mana ni, jadi pengen maen ke Lampung
Ranny // July 16, 2008 at 2:36 am
jadi pengen ke sana
senimangoblok // July 16, 2008 at 1:13 pm
jadi pengen kupu-kupu di bidar
*ngayal
hanny // July 18, 2008 at 11:58 am
waaaah bagusnyaaaa. kapan ya bisa ke sana…
SENIMANGOBLOK // July 18, 2008 at 9:32 pm
PELACUR MASA
–joko sutrisno
gerak rangkap pejalan gelap
melangkah pelan ditengah jalan
bertukar mata bertukar muka
mencari sendang di pinggir gelanggang
lewat jalan sempit tanpa tuan
di semilir angin menyambut malam
ku tajam kan pandangan
terasa dingin kian mengeram
lagu cinta irama duka
menggali makna tiap masa
ini bukan bayang terang
walau asa tinggal bukan ajal
di antara karat jeruji
terdengar sadis memecah sunyi
mentari di atas sajadah suci
masih tegar menarik ku kesini
menari-nari
jalan sunyi
kembali lagi
pelacur mimpi
(jakarta, 12 juli 200
fickry // July 19, 2008 at 2:47 pm
@seniman goblok
komenx aja pake nyastra..wedew..
ngeri…
Leave a Comment