July 14, 2008...4:16 pm

Mengunjungi Taman Kupu-kupu Gita Persada

Jump to Comments

Berbagai jenis kupu-kupu ada di dalam sebuah penangkaran yang menempati lahan seluas 4,8 Ha di kaki Gunung Betung, Desa Tanjung Manis, Kemiling, Bandar Lampung. Ketika saya datang ke sana, Senin lalu (7/7) bersama teman saya, Arka dan Redha, di depan pintu masuk terbuka, tapi terlihat sepi dan tak ada orang di sana. Setelah masuk ke dalam, saya hanya melihat sebuah motor yang diracik seperti motor cross, bersandar di sebelah pohon.

Sebuah rumah berdinding kayu terlihat masih kokoh. Dari dalam rumah itu baru muncul seseorang. Kang Aseb, biasa dipanggil seperti itu. Ia orang Sunda. Arka mengenalnya sebagai penjaga di sana. Mereka berdua tampak bercakap bahasa Sunda. Tak sepotong kata pun saya mengerti bahasa asal Jawa Barat ini.

Kami bertiga berangkat dengan sepeda motor dari kampus. Saya sendirian, Arka dan Redha berboncengan berdua. Sepanjang jalan di kaki Gunung Betung menuju lokasi ini, udara terasa sejuk meskipun saat itu cuaca sedang cerah. Maklum, ketinggian di lokasi itu 460 meter di atas permukaan laut. Jalan beraspalnya agak sempit dan berliku-liku. Maklum saja jalan di kebanyakan di daerah gunung pasti berliku-liku.

Dr.Herawati Soekardi adalah ahli kupu-kupu pertama di Indonesia yang memiliki tempat tersebut. Ia adalah dosen MIPA Biologi Unila. Lulusan S3 dari ITB. Suaminya, Ir.Anshori Djausal,M.T, juga dosen di Unila. Mengajar para mahasiswa Fakultas Teknik Sipil dan menjabat sebagai Pembantu Rektor IV bidang Kerjasama, Perencanaan dan Sistem Informasi.

Kebetulan hari itu, taman kupu-kupu milik Ibu Herawati akan dikunjungi Menteri Kehutanan M.S.Kaban. Selain ke sana, menteri akan mengunjungi Taman Hutan Rakyat Wan Abdul Rachman. Menuju lokasi itu, dari kota Bandarlampung hanya sekitar belasan kilometer.

Di dalam rumah kayu, saya sempat melihat-lihat beberapa guntingan profil tentang Ibu Herawati yang pernah dimuat di media cetak lokal maupun nasional. Dari media berbahasa Indonesia hingga berbahasa Inggris. Bagi saya, dimuatnya profil tentang Ibu Herawati dengan suksesnya mengembangkan Taman Kupu-kupu Gita Persada miliknya, adalah sebuah perhatian dari media massa dan untuk mengenalkan kepada publik.

Penangkaran kupu-kupu di sana, sebenarnya hanya untuk keperluan penelitian dari para mahasiswanya, serta mahasiswa jika ada dari luar Lampung. Tapi memang belum bisa dibuka untuk umum secara lebih luas lagi.

Menurut situs berita Antara menyebutkan bahwa di Lampung memiliki 60 spesies Kupu-kupu ada di Lampung. Saya tak bisa menghitungnya sendiri satu per satu. Tapi, ada daftar tertulis nama-nama spesies kupu-kupu itu di dinding dalam rumah kayu.

Untuk kopi darat dengan para blogger Seruit, Arka mengajak memilih tempat itu. Tempatnya sejuk. Udaranya segar dan bebas polusi dan tak berisik dari kendaraan bermotor. Penangkaran Kupu-kupu di sini memang tempat yang ideal untuk merilekskan diri sekaligus menyendiri. Hehe..

Suatu saat nanti saya ingin mengembangkan lahan menjadi sebuah tempat yang asri dengan pepohonan rindang, tapi dengan tambahan ada beberapa koleksi burung yang bermacam-macam. Seperti taman burung begitu ya. Ada yang mau bergabung bersama saya? :)

Link terkait:

15 Comments


Leave a Reply