The World of Eriek’s Written

Entries from January 2008

Tulisan ‘Memalukan’ di Perpustakaan FISIP UI

January 30, 2008 · 31 Comments

tulisan di perpus fisip ui

Yth.Bapak Rektor dan Dekan FISIP UI

Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Bapak-bapak jika sempat membaca posting saya ini. Tidak ada maksud dari hati yang paling dalam ini untuk mempermalukan Universitas Indonesia (UI) sebagai perguruan tinggi negeri terfavorit di Indonesia dengan menulis tentang apa yang saya lihat di UI.

Ceritanya, senin kemarin (28/1), saya sempat mampir ke Perpustakaan Fisip UI untuk sekedar mencari dan membaca buku-buku. Suasana siang itu yang sejuk oleh AC dan cukup ramai dengan para mahasiswa yang ada di sana. Ada yang sibuk mencari buku-buku di rak-rak. Ada yang duduk-duduk di lantai sambil membaca skripsi. Hampir semua meja baca penuh dengan mahasiswa. Ada yang sibuk mengetik di laptopnya, ada yang sekedar mencatat dari buku-buku yang dibawanya ke mejanya, dan ada pula yang dengan asik browsing internet dari laptopnya.

Tapi, ada satu meja sempat kosong. Kemudian saya menempati meja itu dan membuka buku-buku yang saya ambil dari sebuah rak buku. Alangkah kagetnya, Saya menemukan banyak (coretan pena) tulisan di meja itu. Entahlah, hanya kebetulan meja yang saya tempati itu saja yang dicoret-coret atau ada juga meja lainnya yang dicoret-coret? Saya yakin yang mencoret-coret dengan pena ini adalah mahasiswa yang katanya intelektual muda. Tapi, kok alangkah tidak etis menulis seperti ini. Apalagi di sebuah perpustakaan sebagai gudangnya ilmu. Terlebih lagi perpustakaan ini mengangkat nama besar Almarhumah Miriam Budiarjo, Guru Besar Ilmu Politik UI sebagai Miriam Budiarjo Resource Center.

Sebenarnya saya malu membaca coretan itu. Bagaimana jika sewaktu-waktu ada Pak Menteri Pendidikan Nasional datang ke sana dan kebetulan ia menemui tulisan seperti itu? Mudah-mudahan kejadian seperti ini menjadi pelajaran bagi para petugas perpustakaan agar memperhatikan kebersihan meja yang dicoret-coret para mahasiswanya. Saya juga sebenarnya hampir tidak percaya yang menulis seperti ini dilakukan mahasiswa UI sendiri.

Mudah-mudahan tulisan saya ini ditanggapinya serius agar nantinya tidak terjadi lagi ‘aksi coret-coret’ di meja oleh tangan oknum yang tidak bertanggungjawab ini. Mari kita jaga sama-sama Miriam Budiarjo Resource Center lebih dirawat lagi.

Categories: jakarta · mahasiswa

Toko Buku Terbesar di Asia Tenggara

January 29, 2008 · 10 Comments

gramedia matraman

Selagi masih di Jakarta, saya penasaran dengan toko buku terbesar di Asia Tenggara yang baru dibuka akhir Desember 2007 lalu ini. Toko Buku Gramedia Matraman yang waktu itu dibuka oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono ini, akhirnya saya sampai juga kesana Minggu sore (27/1) kemarin. Bangunannya besar. Ada empat lantai. Saya kira inilah toko buku paling besar yang pernah saya kunjungi.

Waktu pertama kali mencari toko buku itu, saya tidak menemukannya. Malah saya dari arah jalan Matraman terus menuju jalan Jatinegara. Akhirnya, saya coba memutar dan akhirnya menemukannya. Toko buku ini kalau dari arah seberang jalan tidak terlihat seperti toko buku. Saya kira itu kantor biasa yang persis bersebelahan dengan gedung Bank Danamon. Hanya dari arah depan baru terlihat ini adalah sebuah toko buku dengan tulisan Gramedia di atas bangunannya yang megah ini.

Lain waktu saya ingin ke toko buku ini lagi. Lumayan jauh kalau setiap kali dari Lampung menyeberang ke Jakarta untuk sekedar jalan-jalan mencari sekaligus mengoleksi macam-macam buku berbagai judul yang ada di sana.

Saya tertarik dengan buku-buku travel (perjalanan). Tapi, harganya lumayan mahal. Ada beberapa yang bagus menurut saya. Seperti panduan untuk jalan-jalan ke sebuah negara dan di sana lengkap dijelaskan tempat-tempat yang patut dikunjungi. Saya jadi tertarik menjadi travel writer. Mungkin saya akan meluangkan waktu untuk pekerjaan ini kelak jika ada sponsor yang mau menawari saya untuk membuat buku tentang jalan-jalan.

Categories: buku · jakarta · traveling

ke Jakarta (lagi)

January 28, 2008 · 6 Comments

 

pelabuhan bakauheni

Sabtu pagi lalu (26/1), Saya ke Jakarta lagi. Saya berangkat sendiri dengan mengendarai sepeda motor. Mulai berangkat dari kampus kira-kira lewat pukul 9 pagi. Saat akan menghidupkan mesin motor, tiba-tiba ban motor saya terlihat kempes. Sepertinya pecah ban. Untung saja, saya belum jalan jauh.

Kira-kira perjalanan menghabiskan selama dua jam ke Pelabuhan Bakauheni sebelum menyeberangi Selat Sunda. Sesekali selama perjalanan ketika itu hujan gerimis. Saya kira bakal hujan deras. Tapi, beruntung tidak hujan deras. Saya lihat memang langit di atas terlihat awan hitam dan gelap.

 

Kira-kira kurang dari pukul 12 saya tiba di Pelabuhan Bakauheni. Seketika saat itu hujan deras saat saya baru membeli tiket masuk ke atas kapal penyeberangan ferry. Harga tiketnya Rp 29.000,-. Tapi, sebenarnya harga asli tiket itu Rp 27.000,-. Entahlah, sisanya untuk pajak parkir atau dikantongi si penjual tiketnya.

 

Di atas kapal, hujan gerimis masih mengguyur. Kendaraan pribadi menempati di bagian atas, termasuk motor saya. Terlihat sepi di saat itu. Di bagian dek bawah semuanya ditempati bus dan truk. Biasanya di tempat ini selalu bau pesing dan bikin nafas sesak karena sirkulasi udara hampir tidak ada.

 

Selama di atas kapal, saya berdiri di sisi kapal sambil memandangi laut dan beberapa pulau kecil yang kelihatan indah. Ada juga kapal cepat yang mengangkut penumpang. Kapal ini lebih cepat mengantar penumpang ke pelabuhan daripada kapal ferry penyeberangan. Kira-kira 45 menit lamanya.
***

 

Di Serang, saya baru bisa istirahat untuk salat dzuhur dan ashar (dijamak) sekitar pukul 3 sore. Saya kira bakal tiba di Jakarta lebih awal yang saya duga sebelumnya. Ternyata, perkiraan saya itu tidak tepat. Ketika masuk di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, kira-kira baru pukul 17.30.

 

Akhirnya sekitar pukul 19.30 WIB saya tiba di rumah kontrakan teman saya, Aziz. Saya menumpang di sana. Di rumah ada Fadli dan temannya, Andrew. Aziz belum datang. Sepertinya ia masih dalam perjalanan pulang dari STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Sebuah sekolah milik pemerintah yang lulusannya nanti akan bekerja pada Departemen Keuangan Republik Indonesia.

 

Perjalanan dengan sepeda motor sejak pukul sembilan pagi tadi, sungguh melalahkan. Panas, hujan, debu, belum lagi asap dari knalpot kendaraan bermotor serta kadang-kadang sepeda motor.

 

Kalau dihitung-hitung waktu perjalanan tadi cukup lama. Jam 9 pagi berangkat dan tiba jam setengah delapan di rumah Aziz. Kalau naik bus, kira-kira berapa lama ya perjalanannya? Entahlah, saya kurang tahu persis. Perjalanan dengan sepeda motor juga tidak selalu dapat dipastikan. Yang penting selamat sampai tujuan.

 

Kalau melihat para pengendara sepeda motor di Jabodetabek, rata-rata mereka punya nyali tinggi. Bayangkan saja, untuk menyalip mobil atau truk bisa dengan cepat meskipun dari arah depan ada mobil, bus atau truk. Kalau saya, masih pikir dua kali untuk menyalip dalam waktu singkat. Nekad namanya kalau tidak mempunyai perhitungan waktu yang tepat. Bisa-bisa malah kecelakaan yang terjadi. Ah, mudah-mudahan saja saya dijauhi dari kejadian kecelakaan.

Categories: jakarta · traveling

Diundang Acara Bincang IT di LTV

January 25, 2008 · 10 Comments

bincang it

Minggu lalu, tepatnya Sabtu malam (19/1) lalu, saya dan teman blog saya, Gery, diundang hadir dalam acara di Lampung TV (LTV). Nama acaranya “Bincang IT” yang disiarkan secara langsung (live) dari studionya. Ketika itu kebetulan acaranya mengangkat tema tentang “Blog”. Mungkin karena saya dan Gery kebetulan blogger asal Lampung ini lumayan nge-blog di dunia maya. Makanya, Pak Budi, pengasuh acara “Bincang IT” di LTV tertarik mengundang kami.

Awalnya, saya kaget mendapat sms dari Gery, kalau blogger Lampung akan diundang pada acara yang disiarkan stasiun TV lokal Lampung ini. Saya jadi bertanya-tanya sendiri. “Kok bisa ya kita diundang?”pikir saya. Oh, saya baru ingat agregator yang kami buat untuk menghimpun seluruh blogger Lampung yang beralamat di: www.seruit.com, jadi perhatian bagi Pak Budi. Ia pernah mengirim pesan di komentar. Pak Budi yang baru saya kenal itu, ternyata seorang pengusaha penjualan komputer yang berkantor di bilangan simpang empat Tugu Gajah, Tanjung Karang, Bandar Lampung.

eriek di ltv

Sebelum siaran, saya dan Gery berpesan kepada Pak Budi agar jangan tanya yang susah-susah. Pak Budi hanya tersenyum. Kami pun tersenyum pula mendakan kami belumlah seperti blogger profesional macam Budi Putra yang punya banyak blog di mana-mana.Ketika masuk ke ruang studio LTV, seketika ruangan yang dingin itu terasa ‘menusuk’ tulang. Saya kedinginan. Bahkan, kaki saya gemetar sendiri. Saya pun mencoba untuk menenangkan diri. Tetap saja kaki saya, saat duduk di kursi di studio itu, kaki saya gemetar tak henti-hentinya. Saya berusaha tetap tenang dan nyaman. Tapi, ada teman yang bilang ke saya sempat melihat saya dari pesawat televisinya, kalau saya tampak tegang. Saya senyum-senyum saja dan bilang ke teman saya,”ya maklum, biasanya meliput sekarang diliput masuk tv pula. hehe..”kata saya.

Saya lupa berapa lama durasi acara Bincang IT yang membahas tentang Blog ini. Kalau tidak salah kira-kira antara 30-45 menit. Itu sudah termasuk bagian iklan saat acara. Di saat iklan itulah ada waktu rileks. Ya, sekedar merapikan baju atau ngobrol sedikit dengan Pak Budi dan Gery. Ketika iklan selesai, dimulai lagi dialog-dialog seputar Blog, manfaatnya, tujuannya, hingga sampai tips dan trik sehat untuk ngeblog.

Tak terasa acara sudah hampir selesai, walaupun seharusnya ada tanya jawab dari penelpon, tapi saluran telepon selalu saja terputus saat telah terhubung. Bahkan, ada penelpon dari luar kota (Lampung Tengah, red) menanyakan acara tersebut (LTV, red).

Mungkin inilah pengalaman ikut dialog siaran langsung di studio televisi LTV. Mungkin benar apa kata teman saya tadi, saya terlihat agak tegang dan kurang santai. Namanya juga baru pertama kali diwawancarai, kan biasanya saya tugasnya mewawancarai. Hehe…

ban motor

Pulang dari acara Bincang IT itu, nasib kurang baik menimpa kami berdua. Ban belakang sepeda motor saya bocor saat hendak pulang. Untung saja ada bengkel tampal ban masih ada yang buka. Maklum malam minggu biasanya masih ramai di pinggiran jalan. Ya, terpaksa harus mendorong si “Legenda Hitam” saya itu hingga ke tukang bengkel.Malam itu sambil menikmati suasana jalan yang ramai oleh pemuda-pemudi yang mengendarai sepeda motor hilir-mudik, Gery sibuk foto-foto. Memang blogger harus jadi narsis ya? Entahlah, sambil terus mendorong sepeda motor saya yang semakin lama makin melelahkan.

Oh ya, terima kasih buat Simon, teman blogger Lampung yang menyempatkan foto dan menonton dari pesawat televisinya ketika kami berdua berada di studio LTV. Saya juga minta izin mempublish lagi dua foto (narsis) melekat di blog saya. Hehe…

Categories: dialog · diskusi · televisi