The World of Eriek’s Written

Entries from July 2006

Kita Seperti di Dalam Lingkaran Setan

July 29, 2006 · 1 Comment

Musholah Fakultas Hukum Unila dekat dengan gedung C FISIP Unila. Jaraknya kurang dari 50 meter. Ketika waktu Dzuhur tiba sekitar pukul 12 siang, Selasa lalu (25/7), saya ingin salat di mushola anak-anak FH yang dindingnya tampak berwarna hijau dan masih terlihat baru itu. Tapi, agak telat saat saya tiba di sana. Tidak apalah, masih ada beberapa mahasiswa terlihat baru mulai salat, gumam saya.

Saya perhatikan dari samping kiri pintu musholah, beberapa mahasiswa duduk bersila. Ada yang membentuk kelompok. Mereka asik ngobrol. Sebagian lainnya lebih memilih sendiri untuk tilawah Al Quran. Suasana seperti ini pasti tidak asing lagi ketika semua para mahasiswa selesai salat berjamaah di mushola atau masjid kampus.

Ketika saya telah selesai salat, seseorang medekati saya. Wajahnya tak asing bagi saya. Ia mengarahkan tangan kanannya kepada saya, tanda ingin bersalaman. “Apa kabarnya lo?”tanya dia. “Baek,” jawab saya singkat. Ia ingat dengan saya, tapi saya benar-benar lupa namanya. Cukup lama kami berdua tidak pernah jumpa. Ia seangkatan dengan saya. Bedanya, teman saya yang kebetulan sama-sama berasal dari Palembang ini kuliah di FH. Meskipun kita berdua sama-sama mengerti bahasa Palembang, tapi lebih asik ngobrol dengan bahasa Indonesia. Kesannya nanti kalau menggunakan bahasa Palembang, terdengar orang lain jadi terlihat aneh. “Rooming dong kalo ngobrol,” kata teman saya suatu hari di Teknokra. Maksudnya, menyesuaikan dengan tempat ketika ngobrol dengan teman.

Kemudian, kita ngobrol banyak tentang masalah hukum, karena saya juga tertarik dengan soal hukum. Mulai dari lembaga bantuan hukum sampai teman saya ini cerita ingin sekali bisa diterima kerja di Lampung. Itu pun katanya jika bernasib baik. “Kayaknya, gw pilih kerja di Lampung dulu deh,”katanya kepada saya. Seketika, kita ngobrol santai hingga saya hampir lupa dengan agenda berikutnya di tempat lain. Ada seminar tentang pendidikan di Graha Gading, Teluk Betung.

Sambil membenarkan sepatu saya di luar mushola, kami masih saja asik ngobrol. Terkadang, saya lebih banyak bercerita. Mulai dari persoalan mengapa ketika kita masih mahasiswa bisa idealis, namun saat menjabat di pemerintahan atau punya jabatan, tidak lagi idealis. Bahkan, berbalik 180 derajat. Praktik KKN masih saja bertebaran. Belum lagi lingkungan peradilan pun juga tidak luput dari praktik KKN. “Kita ini seolah-olah sudah berada di dalam lingkaran setan,”kata saya berargumen. Saya berani bicara demikian, karena memang pada kenyataannya begitu kondisi negara Indonesia sekarang. Juga sejak zaman Orde Baru.

***

Tiba-tiba, ada guncangan. gempa bumi. Cukup kencang, tapi tidak lama. Beberapa ikhwan (sebutan akrab buat mahasiswa muslim,red) di mushola langsung berlari keluar. Saya dan teman saya masih duduk di serambi dekat pintu keluar mushola. Saya hanya nyengir lihat mereka yang lari terburu-buru keluar. Ini gempa cukup kuat yang hampir sama ketika terjadi pada malam dini hari, pikir saya. Tapi, kenapa selalu saja terlihat panik saat terjadi gempa. Padahal tidak lama terjadinya. Tidak mungkin seketika dalam waktu singkat, bangunan akan langsung roboh. Saya kira mereka belum sadar benar dengan gempa yang singkat, tidak akan sampai membuat bangunan retak dan roboh seketika. Sepertinya, gempa akhir-akhir ini yang terjadi harus buat saya terbiasa. Intinya jangan panik. Itu saja.

Setelah gempa singkat itu, saya cerita kepada teman saya ini. Di koran diceritakan tentang gempa yang terjadi di Jakarta. Seorang warga Jepang yang kebetulan tinggal di Indonesia terlihat heran melihat perilaku orang Jakarta ketika mereka berada di dalam kantor bergedung tinggi. Semua orang panik dan mereka berlari menuju tangga. Padahal, itu bukan tindakan penyelamatan yang tepat. Justru, hal tersebut lebih berbahaya saat berombongan keluar akan berpotensi terjepit atau terinjak-injak. Saya kira semua orang sekarang mulai merasakan kekhawatiran cukup tinggi dengan adanya gempa yang berturut-turut hampir terjadi di Indonesia dari barat ke timur. Mudah-mudahan kita selalu diberi perlindungan dan keselamatan dari Sang Pencipta. Wallahu ‘Alam.

Categories: Uncategorized

Bersyukurlah Masih Sehat

July 25, 2006 · 3 Comments

Anugerah yang paling patut kita syukuri sekarang ini adalah masih diberi kesehatan dan usia panjang. Saya kira inilah yang sering kita lupakan. Manusia kadang lupa dan jarang sekali mensyukuri nikmat yang ada sekarang. Bukan maksud menggurui, tapi saya merasakan dan seolah teringat tiba-tiba ketika misalnya menjenguk teman atau keluarga kita yang terbaring sakit di ruang perawatan rumah sakit.

Teman saya, Dede (foto:memegang helm), kemarin, Selasa siang (24/7), harus masuk rumah sakit. Ia sakit tipes. Ketika saya ditemani bersama Doni, Uchy dan Qq menjenguknya sekitar jam 7 malam, mukanya pucat sekali. Saya kasihan melihatnya terbaring lemah. Ketika bersalaman dengan saya, ia menggenggam kuat. Tapi, saya tahu ia mencoba menahan sakitnya. Sambil memegang perutnya, ia sering mengeluh terasa sakit. “Mual rasanya,”katanya kepada saya. Makan atau minum tidak bisa, kecuali saat minum obat harus dipenuhinya. Hanya infus saja yang mengalir sebagai pengganti makanannya.

Dede punya nama lengkap Dede Sopyandi. Ia asli kelahiran Rangkasbitung, Banten. Dede cakap bahasa Sunda. Saya pernah main ke rumahnya bersama teman-teman lainnya awal Januari 2005 lalu. Itu pertama kali buat saya dan mungkin beberapa teman-teman lainnya. Ia sering dipanggil ‘bastut’ oleh teman-temannya. Entah apa artinya. Saya pun tak mengerti. Tapi, ia dan teman-temannya tak pusing panggilannya berubah menjadi Dede ‘Bastut.’ Ia pernah aktif di Teknokra selama sekitar empat tahun. Periode tahun 2005 kemarin, ia sempat menjabat sebagai Pemimpin Usaha di Teknokra. Ketika itu, saya sebagai Koordinator Pemasaran. Sering kali kami berdua menangani masalah di bidang usaha. Ia termasuk orang yang aktif dan cekatan. Sekarang, ia sebagai staf ahli di Teknokra. Macam penasehat buat kami yang masih aktif menggerakkan roda organisasi ini.

Saya pikir, Dede memang beruntung sekali sekarang. Saat terbaring lemah di ranjang, ia dirawat Mada (foto:jilbab putih), temannya. Lebih tepatnya sang pacar. Selama Dede tidak bisa mengurus sendiri, dari mulai disuap makan bubur oleh Mada, sampe dibantu urusan perawatan di rumah sakit. Saya pun sempat menginap dan menemani Dede di ruang perawatannya. Untuk berjaga-jaga, siapa tahu ia butuh sesuatu.

Mada cerita kepada saya, hampir setiap tahunnya, pasti ada di antara kru Teknokra yang masuk rumah sakit. Entah itu karena terlalu lelah sering begadang, atau pernah kecelakaan di jalan. Saya merenungi dan mencoba mengingat-ingat kembali, memang tahun demi tahun pasti ada yang mengalami hal itu, masuk rumah sakit. Seperti siklus yang terus berajalan dan tak pernah berhenti, pikir saya. Tapi, saya berdo’a mudah-mudahan kru-kru kita selalu senantiasa dalam keadaan sehat selalu. Kata orang, entah siapa asal mulanya, sakit itu sebagian menggantikan untuk membersihkan dosa-dosanya. Ehm, apa benar itu? Wallahu ‘Alam. Cepatlah sembuh my fren!!

Categories: Uncategorized

Aksi di Pantai Mutun

July 22, 2006 · 3 Comments


Heny “Q-Noyz”, berjilbab putih, sedang menunjuk ke arah kamera dan terlihat tertawa lepas. Sedangkan, Mayna, paling depan, hanya tersenyum kecut. Saya dan Rieke, di atas batu, melihat mereka berdua bergaya bak fotogenic (pantai Mutun, 5 Juli 2006)


Kita foto bersama deh sebelum matahari terbenam. Ah,..Yudi tidak ikut diabadikan dalam foto bersama. (pantai Mutun, 5 Juli 2006)


Ciiiaaattt…!!! Tahaaaann!!! Hitungan mundur 10 detik hampir tiba. Tiba-tiba, klik!! Akhirnya terfoto juga kita, meskipun sedikit berantakan. (pantai Mutun, 5 Juli 2006)

Categories: Uncategorized

Tugu Patung Saibatin

July 22, 2006 · 4 Comments


Sebuah Tugu patung adat Pengantin Saibatin di persimpangan jalan Kartini. Bandarlampung. pekan lalu, Sabtu (15/7). baru diresmikan Walikota Bandarlampung Eddy Sutrisno. Saya memfoto tugu itu ketika pulang dari arah Teluk Betung dan akan kembali ke kampus Unila.

Categories: Uncategorized